INDOPOSCO.ID – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menilai langkah Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang meningkatkan status kesiapsiagaan menjadi “Siaga 1” sebagai bentuk komitmen kuat dalam menjaga keamanan nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Menurut Dave, kebijakan tersebut menunjukkan kesigapan aparat pertahanan dalam mengantisipasi berbagai potensi ancaman, sekaligus memberikan rasa tenang kepada masyarakat bahwa negara hadir dan siap menjaga stabilitas keamanan.
“Komisi I DPR RI memandang kebijakan ini sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan bangsa,” ujar Dave saat dihubungi di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Ia menambahkan bahwa perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah saat ini menuntut tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi dari seluruh elemen pertahanan negara. Karena itu, peningkatan status kesiapsiagaan dinilai sebagai langkah antisipatif yang tepat.
Dave juga menekankan pentingnya sinergi antara Tentara Nasional Indonesia, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia khususnya Komisi I yang membidangi pertahanan dan keamanan.
Menurutnya, koordinasi yang kuat antar-lembaga menjadi fondasi penting agar setiap kebijakan yang diambil tetap sejalan dengan kepentingan rakyat, dilakukan secara transparan, dan mampu meningkatkan kepercayaan publik.
“Dengan koordinasi yang solid antarlembaga, bangsa kita akan tetap aman, stabil, dan mampu menghadapi tantangan global dengan semangat kebersamaan serta optimisme tinggi,” katanya.
Komisi I DPR RI menegaskan dukungannya terhadap langkah antisipatif tersebut dan akan terus menjalankan fungsi pengawasan serta kemitraan strategis dengan TNI guna memastikan keamanan nasional tetap terjaga di tengah situasi global yang dinamis.
Sebelumnya, beredar di masyarakat informasi mengenai Telegram Panglima TNI Nomor TR/283/2026 yang berisi instruksi Siaga 1 kepada seluruh jajaran TNI untuk mengantisipasi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam telegram tersebut terdapat tujuh poin instruksi, salah satunya memerintahkan para Panglima Komando Utama Operasi (Pangkotamaops) untuk menyiagakan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta meningkatkan patroli di sejumlah objek vital strategis dan pusat aktivitas ekonomi.
Patroli tersebut mencakup pengamanan di bandara, pelabuhan laut dan sungai, stasiun kereta api, terminal bus, hingga fasilitas penting seperti kantor milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). (dil)




















