INDOPOSCO.ID – Amerika Serikat mulai menggunakan sejumlah pangkalan militer Inggris di sejumlah Kawasan Teluk untuk melaksanakan operasi pertahanan khusus yang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan dengan Iran. Hal tersebut disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataan resmi yang dikutip media Inggris.
Disebutkan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk mencegah Iran meluncurkan serangan rudal yang dapat membahayakan wilayah dan warga negara Inggris.
“Amerika Serikat telah mulai menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk operasi pertahanan khusus guna mencegah Iran menembakkan rudal ke wilayah tersebut, sehingga membahayakan nyawa warga Inggris,” demikian pernyataan kementerian Inggris tersebut, sebagaiamana dalam pernyataan yang dilaporkan oleh Sky News melalui ANTARA, Minggu (8/3/2026).
Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pemerintahannya akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Inggris untuk “tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas” menyusul meningkatnya serangan rudal Iran di kawasan Teluk.
“Amerika Serikat telah meminta izin untuk menggunakan pangkalan Inggris untuk tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas tersebut. Kami telah memutuskan untuk menerima permintaan ini, untuk mencegah Iran menembakkan rudal di kawasan, membunuh warga sipil tak berdosa, membahayakan nyawa warga Inggris, dan menyerang negara-negara yang tidak terlibat,” kata Starmer dalam pernyataan pada Minggu (1/3/2026).
Starmer mengatakan terdapat “setidaknya 200.000” warga Inggris di kawasan terdampak, mulai dari penduduk tetap, keluarga yang sedang berlibur, hingga pelancong.
Ia mengimbau mereka untuk mendaftarkan keberadaan dan mengikuti saran perjalanan dari kementerian luar negeri, yang meminta warga Inggris di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk “segera berlindung di tempat”. Menurut Starmer, ancaman dari Iran juga membahayakan pasukan bersenjata Inggris.
Selain itu, Inggris juga mengerahkan jet tempur Typhoon dan F-35 dalam operasi udara yang berlangsung di beberapa negara Timur Tengah, termasuk Yordania, Qatar, dan Siprus. London juga dilaporkan mengirimkan helikopter Merlin ke kawasan tersebut untuk mendukung operasi militer.
Di sisi lain, ketegangan regional memicu aksi protes di Siprus. Ratusan warga berkumpul di pusat kota Nicosia untuk menentang keberadaan pangkalan militer Inggris di negara itu. Menurut laporan Cyprus Mail, para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Siprus bukan landasan peluncuranmu” dan “Pangkalan Inggris keluar”.
Presiden Nikos Christodoulides sebelumnya menyatakan tidak menutup kemungkinan bahwa isu masa depan pangkalan militer Inggris di Siprus akan dibahas setelah konflik di Timur Tengah mereda.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Awalnya, Washington dan Tel Aviv menyebut operasi tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran, namun kemudian menyatakan tujuan yang lebih luas terkait perubahan kekuasaan di negara tersebut.
Dalam perkembangan lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama operasi militer. Pemerintah Iran pun menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam pembunuhan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang sinis. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera di kawasan tersebut. (dil)




















