INDOPOSCO.ID – Pemerintah China melontarkan kecaman keras terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang disebut menargetkan fasilitas publik dan menewaskan ratusan warga sipil. Beijing menegaskan bahwa perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata merupakan batas merah yang tidak boleh dilanggar.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan negaranya sangat berduka atas banyaknya korban sipil akibat serangan tersebut. Ia menegaskan penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu tidak dapat diterima dan mendesak seluruh pihak mematuhi hukum internasional.
“China sangat sedih atas banyaknya korban sipil yang disebabkan oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran. Kami mengutuk keras hal itu. Perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata adalah garis merah dan tidak boleh dilanggar,” ujar Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (3/3/2026).
China menyatakan sangat prihatin atas dampak regional dari eskalasi tersebut dan menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan, keamanan, serta integritas teritorial negara-negara Teluk. Beijing juga mendesak semua pihak segera menghentikan operasi militer guna mencegah konflik meluas.
“China siap bekerja sama dengan negara-negara regional dan komunitas internasional untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan,” kata Mao Ning, sebagaimana dilansir dari ANTARA.
Serangan udara pada Sabtu (28/2/2026) dilaporkan menghantam Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Serangan tersebut disebut menewaskan hingga 165 orang. China menilai serangan itu tidak memiliki otorisasi Dewan Keamanan PBB dan melanggar hukum internasional.
Eskalasi kian memanas setelah serangan tersebut juga dilaporkan menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan regional pun meningkat tajam. United States Department of State pada Senin (2/3/2026) mendesak warga negaranya untuk segera meninggalkan sejumlah negara di Timur Tengah, karena risiko keselamatan serius. Wilayah yang masuk kategori tersebut meliputi Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Tepi Barat dan Gaza, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Yaman.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan langkah militer itu merupakan tindakan antisipatif. Ia menyebut Washington bertindak lebih dulu sebelum Teheran merespons serangan Israel yang diperkirakan akan terjadi. Namun, sejumlah laporan media mengungkap pejabat Pentagon dalam pengarahan tertutup kepada staf Kongres menyebut tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS lebih dulu.
Israel sebelumnya mengumumkan telah melancarkan operasi bertajuk “Operation Lion’s Roar” pada Sabtu dini hari waktu setempat dan memberlakukan status darurat nasional. Serangan terjadi ketika perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran masih berlangsung di bawah mediasi Oman, dengan putaran terbaru di Jenewa berakhir pada Kamis (26/2/2026). (dil)



















