• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Retorika Penyangkalan dalam Bencana: Mengapa “Non-Apology Apology” Pejabat Bukanlah Permintaan Maaf

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 23 Februari 2026 - 15:25
in Nasional
Oleh: Rudiyanto, Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Komunikasi FISIP UMJ
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rudiyanto, Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Bencana dan Krisis Legitimasi

BacaJuga:

Mendikdasmen: Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Kutukan, Wajib Dapat Pendidikan

Layanan Kesehatan Dioptimalkan, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan ke Tanah Suci

Benahi Parpol, KPK Serahkan Kajian ke Prabowo-DPR

INDOPOSCO.ID – Peristiwa penanganan bencana di daerah, seperti yang terjadi di Aceh Selatan pada Desember 2025, sering kali menyisakan keganjilan dalam ruang komunikasi publik. Ketika masyarakat menuntut pertanggungjawaban atas lambatnya mitigasi, pejabat publik justru hadir dengan apa yang disebut sebagai Non-Apology Apology atau permintaan maaf semu. Dalam studi retorika organisasi, fenomena ini menandakan adanya actional legitimation crisis (Boyd, 2000). Krisis ini muncul saat tindakan pejabat dianggap tidak selaras dengan nilai tanggung jawab dan empati yang diharapkan publik, sehingga memicu keretakan dalam tatanan kepercayaan sosial.

Komunikasi Krisis sebagai Instrumen Kekuasaan

Mengapa pejabat enggan meminta maaf secara tulus? Teori Denise M. Bostdorff memberikan jawaban tajam: komunikasi krisis bagi pemegang kekuasaan sering kali bukan tentang resolusi masalah, melainkan tentang mempertahankan legitimasi institusional. Bostdorff berargumen bahwa pemimpin menggunakan retorika untuk mengubah posisi mereka dari pihak yang bersalah menjadi pihak yang memegang kendali.

Dalam kasus “permintaan maaf semu”, pejabat sebenarnya sedang melakukan strategi bolstering menonjolkan upaya mereka di lapangan untuk menutupi kegagalan kebijakan. Mereka membangun narasi bahwa krisis ini adalah “takdir bencana” yang tak terelakkan, sehingga mereka tidak perlu menanggung beban kesalahan (guilt). Narasi ini merupakan skrip yang disusun (settled script) untuk mengarahkan opini publik agar kembali melihat pejabat sebagai figur otoritas yang diperlukan (Fisher, 1989).

Tipu Daya Diferensiasi

Secara teknis, pejabat tersebut menggunakan strategi differentiation (diferensiasi). Sebagaimana dijelaskan dalam teori apologia, mereka mencoba memisahkan antara “penyesalan atas penderitaan warga” (sebagai bentuk empati palsu) dengan “tanggung jawab atas kegagalan sistem”. Pernyataan seperti “Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan ini” adalah bentuk pemisahan tindakan dari esensi tanggung jawab (Hearit, 1995)

Ketakutan akan liabilitas hukum (legal liability) juga menjadi faktor pendorong utama. Tyler (1997) menyebutkan bahwa pengakuan bersalah secara publik sering kali dianggap sebagai pintu masuk bagi tuntutan hukum atau sanksi administratif. Akibatnya, pejabat melakukan “tarian semantik” berbicara seolah-olah meminta maaf agar kemarahan publik mereda, namun secara hukum mereka tidak mengakui kesalahan apapun untuk melindungi posisi kekuasaan mereka.

Menagih Ritual Pemulihan yang Otentik

Apologia yang efektif seharusnya berfungsi sebagai “ritual pemulihan sekuler” yang jujur, di mana pemimpin mengakui kegagalan secara eksplisit untuk memulihkan tatanan sosial (Hearit, 2006). Jika komunikasi krisis hanya digunakan sebagai alat untuk mempertahankan status quo kekuasaan sebagaimana disinyalir oleh Bostdorff, maka kepercayaan publik akan terus tererosi.

Publik tidak butuh diksi-diksi indah yang memisahkan pejabat dari tanggung jawabnya. Yang dibutuhkan adalah keberanian moral untuk mengakui kesalahan sistemik. Tanpa kejujuran naratif (narrative fidelity), permintaan maaf pejabat hanya akan menjadi sekadar “pertunjukan panggung” yang gagal menyembuhkan luka masyarakat pascabencana.*

Tags: Bencana AcehFISIP UMJRudiyantoUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Berita Terkait.

ABK
Nasional

Mendikdasmen: Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Kutukan, Wajib Dapat Pendidikan

Sabtu, 25 April 2026 - 22:01
Jemaah-Haji
Nasional

Layanan Kesehatan Dioptimalkan, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan ke Tanah Suci

Sabtu, 25 April 2026 - 21:00
KPK
Nasional

Benahi Parpol, KPK Serahkan Kajian ke Prabowo-DPR

Sabtu, 25 April 2026 - 20:09
Menkop
Nasional

Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di NTT akan Menjadi Ekosistem Baru Ekonomi

Sabtu, 25 April 2026 - 17:26
Mendikdasmen
Nasional

Berkaitan 7 KAIH, Mendikdasmen Tegaskan Anggaran MBG Tak Bersumber dari Pendidikan

Sabtu, 25 April 2026 - 17:06
Kuota Adaptif TN Komodo, Kemenhut Jaga Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi
Nasional

Kuota Adaptif TN Komodo, Kemenhut Jaga Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi

Sabtu, 25 April 2026 - 16:05

BERITA POPULER

  • pemain-Semen-Padang

    Semen Padang vs Persijap: Krisis Pemain, Kedalaman Skuad Kabau Sirah Diuji

    1349 shares
    Share 540 Tweet 337
  • Ragam Busana Adat Daerah Warnai Kemeriahan Peringatan Hari Kartini 2026 di Permatahati

    880 shares
    Share 352 Tweet 220
  • Isu Lengser hingga Gibran Diseret, Pengamat Buka Peta Ancaman Prabowo

    911 shares
    Share 364 Tweet 228
  • House of Representatives Urges Non-Subsidized Fuel Price Hike Not to Burden Public

    694 shares
    Share 278 Tweet 174
  • Tragedi Kebakaran Tanjung Duren, DPRD Sebut Bukti Kegagalan Pemprov Jakarta

    690 shares
    Share 276 Tweet 173
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.