• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Merawat Budaya Betawi di Tengah Globalisasi dan Urbanisasi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Selasa, 10 Februari 2026 - 16:39
in Megapolitan
Usni Hasanudin 1
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Usni Hasanudin, Kaukus Muda Betawi

Permasalahan Jakarta tidak mengalami perubahan signifikan dari pemerintahan yang satu ke pemerintahan berikutnya. Jakarta selalu berkutat pada masalah klasik: kepadatan penduduk, banjir, dan kemacetan. Pemerintah terus melakukan pembangunan, inovasi, dan penyesuaian untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dan meningkatkan status Jakarta sebagai ibu kota negara, pusat ekonomi, politik, dan pemerintahan agar setara dengan kota-kota modern di negara maju.

BacaJuga:

Berlibur di Akhir Pekan, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Hari Ini

Peringatan Dini BMKG, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Akhir Pekan Ini

Penggerebekan Kampung Boncos: 3 Orang Ditangkap, Sajam dan Sabu Disita

Keinginan menyetarakan Jakarta dengan kota-kota modern di negara maju berdampak langsung pada Jakarta sebagai magnet bagi banyak orang untuk datang dan mengadu peruntungan. Hal ini memicu urbanisasi yang cepat dan menambah tekanan pada infrastruktur dan sumber daya kota. Urbanisasi yang berlangsung pun berkembang, dari perpindahan penduduk secara lokal menjadi global karena tidak sedikit ekspatriat yang juga mencari peluang di Jakarta.

Wajah Jakarta saat ini mengalami perkembangan signifikan dibandingkan dengan era Gubernur Ali Sadikin, kepala daerah yang tergolong progresif pada zamannya. Kala itu, pembangunan Jakarta di bawah kepemimpinan Ali Sadikin difokuskan pada pembangunan infrastruktur dasar dan identitas lokal. Saat ini, pembangunan Jakarta diarahkan pada pengembangan ekonomi, budaya, dan teknologi agar menjadi kota global.

Infrastruktur dasar dan identitas lokal yang menjadi fokus kepemimpinan Ali Sadikin kini dihadapkan dengan pergeseran yang signifikan. Identitas lokal dan kurangnya ruang infrastruktur menjadi tantangan bagi nilai budaya lokal yang harus siap beradaptasi dengan perkembangan pesat Jakarta.

Tanpa menafikan kepemimpinan lainnya, seperti Tjokropranolo, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, dan Basuki Tjahaja Purnama yang juga berkontribusi dalam pembangunan dan perkembangan Jakarta, kepemimpinan Pramono Anung sangat terasa seperti Ali Sadikin dalam konteks pembangunan identitas lokal.

Tantangan dan dinamika zaman di masa kepemimpinan Pramono-Rano tentu berbeda dengan era Ali Sadikin. Tantangan yang dihadapi saat ini makin kompleks di era globalisasi dibandingkan tahun 1966-1977, apalagi tanpa menanggalkan identitas lokal. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dituntut memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi tantangan tersebut, seperti meningkatkan infrastruktur, mempromosikan ekonomi kreatif, dan melestarikan budaya lokal sehingga Jakarta menjadi kota global yang maju tanpa kehilangan identitas lokalnya

Menuju Kota Global

Konsep kota global (global city) yang diperkenalkan Saskia Sassen, sosiolog dan ekonom asal Amerika Serikat, menjelaskan bagaimana kota-kota seperti New York, London, dan Tokyo menjadi pusat ekonomi, politik, dan budaya global. Buku Sassen yang berjudul “The Global City: New York, London, Tokyo” (1991) mengulas bagaimana kota-kota ini memengaruhi perubahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Untuk menjadi kota global, sebagaimana visi Pramono-Rano, Jakarta yang sedang mengalami transisi dihadapkan dengan globalisasi dan urbanisasi. Kedua faktor tersebut membawa perubahan besar terhadap budaya dan masyarakat Jakarta sehingga memerlukan penyesuaian dan strategi yang tepat dalam menghadapinya.

Globalisasi akan menjadikan Jakarta sebagai pusat ekonomi, politik, dan budaya global serta berdampak pada struktur sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Urbanisasi mengakibatkan pertambahan penduduk secara signifikan dalam waktu singkat sehingga menciptakan perubahan struktur demografi dan sosial masyarakat. Perubahan budaya akibat globalisasi dan urbanisasi terlihat dalam berbagai aspek, seperti musik, makanan, pakaian, dan gaya hidup.

Budaya lokal Jakarta merupakan hasil asimilasi dari pertemuan banyak budaya di Indonesia. Sayangnya, budaya lokal Betawi sebagai budaya asli Jakarta sering kali tertinggal dan terdesak oleh budaya-budaya lain yang lebih dominan.

Perlindungan Budaya

Keberhasilan New York, London, dan Tokyo menjadi kota global dan berbudaya tidak terlepas dari peran negara yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah setempat. Indonesia juga demikian dengan memberikan kewenangan khusus kepada Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta untuk menjaga kearifan lokal, khususnya dalam bidang kebudayaan, sebagaimana isi Pasal 31 Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2024.

Pasal tersebut berisikan bahwa Pemprov Jakarta berwenang memajukan kebudayaan Betawi dan kebudayaan lain yang berkembang di Jakarta serta melibatkan badan usaha, lembaga pendidikan, lembaga adat, dan masyarakat dalam pemajuan kebudayaan. Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan urbanisasi, Pemprov Jakarta harus menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya lokal guna menjaga identitas budaya Jakarta. Ini sebagai integrasi antara kedudukan Jakarta sebagai kota ekonomi global dengan pelestarian ekosistem kebudayaan yang menjadi penyeimbang dan penjaga nilai-nilai keindonesiaan.

Keseimbangan antara globalisasi dan ekosistem kebudayaan akan menciptakan tatanan baru sebagai bentuk ketahanan Jakarta dalam pendekatan multikultural. Dengan demikian, Jakarta menjadi contoh kota yang mampu mengelola keberagaman budaya sekaligus pusat ekonomi global tanpa mengorbankan identitas budaya.

Oleh karena itu, implementasi dari kewenangan yang dimiliki Pemprov Jakarta setidaknya mencakup tiga aspek, knowledge (pengetahuan), attitude (sikap), dan keterampilan (skills). Dengan demikian, Pemprov Jakarta dapat menjalankan kewenangannya secara efektif dan efisien dalam menjaga keseimbangan globalisasi dan pelestarian budaya lokal. (*)

Tags: budaya betawikaukus muda betawiurbanisasiusni hasanudin

Berita Terkait.

Stasiun
Megapolitan

Berlibur di Akhir Pekan, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Hari Ini

Minggu, 1 November 2026 - 08:18
Perkuat Layanan Wholesale Banking, BRI Luncurkan Qlola Mobile
Megapolitan

Peringatan Dini BMKG, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Akhir Pekan Ini

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:35
boncos
Megapolitan

Penggerebekan Kampung Boncos: 3 Orang Ditangkap, Sajam dan Sabu Disita

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:06
strada
Megapolitan

5 Siswa SMK Strada 1 Rampungkan Magang 4 Bulan di BumiMas Permata Group

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:04
oplet
Megapolitan

Kopi Oplet Dukung Pelestarian Budaya Betawi lewat Drama Musikal Raja Linglung

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:37
Heboh ‘Mahasiswa’ Gadungan di Acara Sumpah Pemuda, Mabes Polri Bilang Begini
Megapolitan

Heboh ‘Mahasiswa’ Gadungan di Acara Sumpah Pemuda, Mabes Polri Bilang Begini

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:15

OLAHRAGA

bca
Olahraga

Runvestasi 2026 Dimulai, BCA Ajak Masyarakat Lari Sehat Sekaligus Belajar Investasi

Editor Ali Rachman
Senin, 2 November 2026 - 04:14

INDOPOSCO.ID - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) resmi membuka kompetisi lari dan investasi bertajuk Runvestasi 2026: Wealth Life Balance...

SelengkapnyaDetails
Arisan Elqueen Berujung Buntung, 24 Warga Lebak-Pandeglang Tertipu Rp1,34 Miliar

Hadapi Duel Papan Atas, Stjepan Loncar Pastikan Persija Siap Tempur

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:13
Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:39
Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:13
Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:57

BERITA POPULER

  • MUI

    Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an Berbuntut Panjang, MUI Layangkan 5 Tuntutan ke Polri

    1760 shares
    Share 704 Tweet 440
  • Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5159 shares
    Share 2064 Tweet 1290
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1155 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

    1009 shares
    Share 404 Tweet 252
  • Resmi Dirilis, Ini Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala Asia 2027

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.