INDOPOSCO.ID – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengambil langkah strategis dengan merajut kolaborasi bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) guna memperkuat fondasi UMKM di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam. Sinergi ini dirancang untuk menjadikan Batam sebagai simpul pertumbuhan UMKM yang mampu bergerak seirama dengan dinamika industri dan investasi global.
Fokus kerja sama diarahkan pada pembukaan keran pembiayaan yang lebih luas, dorongan investasi berkelanjutan, serta penyiapan jalur bagi pelaku UMKM agar dapat masuk ke rantai pasok industri yang terus berkembang di kawasan tersebut.
Wakil Menteri UMKM, Helvi Moraza, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi pintu masuk bagi UMKM Batam untuk memperoleh pendampingan yang lebih komprehensif. Mulai dari penguatan kapasitas usaha, fasilitasi ekspor, optimalisasi aset BP Batam, hingga pemetaan peluang bisnis yang terhubung langsung dengan aktivitas investasi, seluruh upaya tersebut ditujukan untuk menciptakan ekosistem UMKM yang tangguh dan terintegrasi.
“Melalui penyediaan akses permodalan dan investasi yang lebih luas, peningkatan kapasitas pengusaha UMKM, serta integrasi UMKM ke dalam rantai pasok kegiatan investasi di KPBPB Batam, kami berharap UMKM dapat naik kelas, menjadi penopang ekonomi lokal, dan mampu berkompetisi sebagai bagian dari rantai nilai global,” ujar Helvi dalam acara penandatanganan nota kesepahaman bersama BP Batam dan BRI di Batam, Kamis (29/1/2026).
Menurut Helvi, kerja sama ini didorong oleh besarnya potensi ekonomi Batam yang terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, realisasi investasi di Batam tercatat mencapai Rp69,30 triliun, melampaui target Rp60 triliun atau sekitar 115 persen dari sasaran yang ditetapkan.
Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap Batam sebagai pusat perdagangan dan industri nasional. Kondisi ini sekaligus membuka peluang besar bagi pengusaha UMKM lokal untuk menjadi bagian dari ekosistem industri, termasuk sebagai mitra rantai pasok dan offtaker bagi industri besar yang beroperasi di Batam.
“Di balik derasnya arus investasi di Batam, terdapat denyut nadi perekonomian yang sesungguhnya, yaitu UMKM. Kontribusi pengusaha UMKM Batam tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah penyerap tenaga kerja terbesar, penggerak ekonomi berbasis masyarakat, sekaligus benteng ketahanan ekonomi ketika terjadi gejolak,” tutur Helvi.
Kementerian UMKM, lanjut Helvi, berkomitmen untuk terus memastikan terciptanya iklim usaha yang kondusif melalui regulasi yang mendukung serta akses yang setara bagi seluruh pengusaha UMKM.
“Mari kita jadikan momen ini sebagai titik awal untuk bersama-sama mendorong transformasi ekonomi melalui pengembangan ekosistem UMKM yang maju dan berdaya saing di KPBPB Batam,” tambahnya.
Sebagai langkah awal atau pilot project, melalui program ACCES (Accelerating Capital Resources for Medium Enterprises), Kementerian UMKM akan melakukan pendampingan akses pembiayaan serta pelatihan peningkatan kapasitas usaha bagi pengusaha UMKM di KPBPB Batam dalam waktu dekat. (her)




















