INDOPOSCO.ID – Peluncuran buku “Riah Riuh Komunikasi” bukan hanya membicarakan teori komunikasi politik, tetapi juga menyingkap persoalan mendasar demokrasi Indonesia hari ini, maraknya intimidasi dalam kebebasan berpendapat.
Penulis sekaligus pegiat literasi, Maman Suherman, menilai kebebasan berekspresi di ruang publik, khususnya di media sosial, kerap dibarengi ancaman dan tekanan yang justru mematikan dialog sehat.
“Memang kadang-kadang kita kalau bersuara, ada saja kendalanya. Itu yang saya takutkan, jangan sampai terjadinya demokrasi yang semu, dikasih kebebasan tapi diinjak kakinya. Dikasih kebebasan tapi diancam, dikasih kebebasan tapi kemudian diintimidasi. Jangan sampai itu menjadi budaya komunikasi politik kita,” ujar Maman di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Ia menyampaikan hal tersebut usai menghadiri Executive Breakfast Meeting “Riah Riuh Komunikasi” yang digelar IKA Fikom Unpad, mengangkat buku terbaru analis komunikasi politik sekaligus Ketua Umum IKA Fikom Unpad, Hendri Satrio.
Pria yang akrab disapa Kang Maman itu menegaskan dirinya tidak menolak keberadaan buzzer sebagai bagian dari dinamika komunikasi politik modern. Namun, ia menolak keras praktik intimidasi yang dilakukan secara anonim dan tidak bertanggung jawab.
“Saya bukan orang yang anti dengan buzzer. Tapi saya anti dengan orang-orang yang melakukan intimidasi dengan sangat pengecut,” tegasnya.
Kang Maman mengkritik pihak-pihak yang menyerang tanpa berani mempertanggungjawabkan narasi dan argumennya.
“Tidak bisa mempertanggungjawabkan narasinya, tidak bisa mempertanggungjawabkan argumentasinya. Kalau kamu tidak suka sama argumentasi saya, kamu bikin kontra-argumentasi. Tapi jangan bersembunyi. Harus kita tampil sama-sama, sehingga kita bisa melakukan dialog,” ujarnya.
Lebih lanjut, penulis buku ‘Potret Para Pesohor’ itu menegaskan bahwa intimidasi hanya akan melahirkan budaya monolog, bukan dialog.
“Orang-orang yang mengintimidasi seperti itu, orang-orang yang cuma bisa bermonolog saja, memaksakan kehendaknya dengan mengancam dan lain sebagainya. Dan buat saya itu pengecut banget. Kita tidak butuh, dan bangsa ini tidak butuh pengecut-pengecut seperti itu,” pungkasnya.
Dengan demikian, diskursus politik tidak lagi didominasi teriakan dan ancaman, melainkan adu argumen yang rasional, terbuka, dan bermartabat, sebagai fondasi penting bagi demokrasi yang sehat. (her)




















