INDOPOSCO.ID – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bukan sekadar kumpulan kata yang sedang populer di masyarakat. Tetapi hasil kerja akademik yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin ditemui indoposco.id di acara jumpa wartawan, Jumat (23/1/2026) sore.
“KBBI disusun melalui proses ilmiah. Setiap kata yang masuk harus melalui kajian kebahasaan, bukan hanya karena viral atau sering digunakan,” kata Hafidz.
Ia menjelaskan bahwa KBBI pertama kali diterbitkan pada 1991 dan hingga saat ini terus mengalami pembaruan. Bahkan KBBI kini berbasis digital melalui KBBI Daring.
“Digitalisasi ini memungkinkan pemutakhiran data dilakukan secara lebih akurat dan terukur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyusunan KBBI berangkat dari kamus-kamus bahasa Indonesia terdahulu. Dan kemudian dikembangkan sesuai dinamika penggunaan bahasa di masyarakat.
“Penyusunan KBBI dilakukan melalui proses ilmiah yang bertanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” katanya. (nas)











