INDOPOSCO.ID – Nama Sabrang Mowo Damar Panuluh selama ini identik dengan musik dan lirik-lirik puitis bersama band Letto. Namun di balik panggung dan sorotan lampu konser, pria yang akrab disapa Noe itu ternyata telah lama mondar-mandir di lorong-lorong kekuasaan, memberi masukan strategis kepada negara sejak era Presiden Joko Widodo.
Pengakuan itu disampaikan Noe dalam wawancara di podcast kanal YouTube Hendri Satrio Official. Ia bercerita bahwa keterlibatannya dengan pemerintahan bukanlah hal baru, melainkan sudah berlangsung bertahun-tahun, meski tanpa banyak diketahui publik.
“Saya secara fungsional (membantu pemerintahan) sudah lama. Dari jaman Jokowi, secara fungsional itu artinya TA, hanya masih ngasih input soal sosial media,” ujar Noe dalam wawancara tersebut, dikutip pada Sabtu (24/1/2026).
Awal perjumpaannya dengan lingkar kekuasaan terjadi di Yogyakarta. Saat itu, sang vokalis Letto itu bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Bukan untuk urusan musik, melainkan mempresentasikan analisis tentang ancaman laten media sosial terhadap struktur sosial masyarakat Indonesia.
Menurut Noe, pola interaksi manusia telah berubah drastis. Anak-anak dan remaja kini lebih banyak “diasuh” layar ponsel ketimbang orang tua atau guru. Ia menilai situasi ini sebagai bom waktu jika tidak ditangani secara serius.
“Sosial media ini bisa bahaya kalau tidak diperhatikan dengan serius. Sekarang itu manusia Indonesia menghabiskan 7-8 jam di depan HP, kontaknya bahkan lebih banyak dengan layar daripada orang tua atau guru,” tutur Noe.
Waktu berlalu, rezim berganti. Namun keterlibatan Noe justru semakin dalam. Pada 15 Januari 2026, ia resmi dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Bidang yang diembannya pun jauh dari dunia musik: analisis geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi.
Sebelum sampai pada titik itu, Noe mengaku sempat terlibat dalam proyek teknologi militer. Pada 2024, ia membantu salah satu unit TNI mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk proses rekrutmen prajurit.
“Saya bikin AI untuk perekrutan personel TNI, setelah itu kemudian ada pembuatan drone yang butuh AI, dan seterusnya hingga terus lama-lama saya jadi tenaga ahli,” ungkapnya.
Diskusi demi diskusi tentang kecerdasan buatan, menurutnya, berkembang dari soal efisiensi menjadi kekhawatiran akan potensi bahayanya, hingga akhirnya merambah ke pengembangan teknologi drone.
Meski kini memegang posisi strategis, Noe menegaskan langkahnya bukan didorong ambisi pribadi. Ia mengklaim motivasinya sederhana: keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah bangsa.
“Jangan ngomong tujuannya saya, saya bisa melakukan apapun tapi gini, salah satu tujuan terbesar adalah membuat negara Indonesia bertahan selama-lamanya,” tambahnya.
Di penghujung wawancara, Hendri Satrio yang akrab disapa Hensa menyampaikan harapan agar sang musisi mampu menjalankan peran barunya dengan baik di dunia pertahanan negara.
“Selamat bertugas Mas Sabrang. Semoga amanah dan berhasil menjalankan tanggung jawabnya hingga selesai,” kata Hensa. (her)










