• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Internasional

Pascamanuver Geopolitik AS, Masa Depan Keadilan Iklim Global South Terancam

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Selasa, 20 Januari 2026 - 14:33
in Internasional
Demonstrasi

Aktivis dan masyarakat bersuara terkait iklim di ajang COP 30 Brazil beberapa waktu lalu. Foto: Dokumen Purpose

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Langkah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang disertai rencana menguasai Greenland memicu kekhawatiran serius terhadap komitmen keadilan iklim global, khususnya bagi negara-negara berkembang di kawasan Global South.

Peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yogi Setya Permana, menyebut situasi tersebut sebagai paradoks dalam politik iklim global. Menurutnya, negara maju berada dalam posisi kontradiktif.

BacaJuga:

Wapres JD Vance Batal ke Swiss, Dialog Damai AS-Iran Tertunda

Prabowo Batal Hadiri ASEAN-Russia Summit di Kazan, Istana Ungkap Alasannya

DPR RI Apresiasi Perdamaian AS-Iran, Ingatkan Israel Jangan Ganggu Kesepakatan

“Di satu sisi, negara maju menekan negara berkembang untuk segera meninggalkan energi fosil demi target iklim global. Namun di sisi lain, energi fosil tetap diperlakukan sebagai aset strategis yang diamankan melalui manuver geopolitik,” ujar Yogi dalam keterangan, Selasa (20/1/2026).

Invasi Amerika Serikat ke Venezuela yang diikuti penguasaan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel oleh korporasi AS, dinilai berpotensi membuat harga minyak dunia semakin melandai. Namun, kondisi itu justru dikhawatirkan akan menunda investasi energi terbarukan dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang terhadap bahan bakar fosil.

Yogi menilai minyak murah sering kali menjadi jebakan kebijakan. “Tampak menguntungkan secara fiskal, tetapi meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga, risiko geopolitik, serta beban sosial-ekologis di masa depan,” katanya.

Ia menambahkan, negara-negara berkembang pada akhirnya menanggung konsekuensi paling berat, meski kontribusi historisnya terhadap emisi global relatif kecil.

“Konsep loss and damage menegaskan bahwa dampak perubahan iklim kerap melampaui kapasitas adaptasi suatu negara,” ujarnya.

Indonesia sendiri menargetkan penggunaan 100 persen energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan dan mencapai net-zero emission pada 2050. Namun Yogi menekankan bahwa transisi energi tidak pernah berlangsung di ruang yang netral, karena selalu dipengaruhi kepentingan ekonomi dan geopolitik global.

Situasi kian problematis setelah Presiden AS Donald Trump, pada 7 Januari lalu, mengeluarkan perintah untuk keluar dari 66 organisasi internasional, termasuk badan penting dalam kerja sama iklim global seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

“Ini adalah situasi problematis ketika aktor besar menjauh dari institusi multilateral kunci seperti UNFCCC dan IPCC, tepat ketika perundingan iklim internasional, seperti COP ke-30 yang dideklarasikan sebagai COP of Truth,” kata Yogi.

Di tempat yang sama, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Stanislaus Risadi Apresisan, menilai kondisi ini justru membuka peluang emas bagi negara-negara Global South untuk mengambil alih kepemimpinan riset dan kebijakan iklim yang selama ini didominasi negara maju.

“Dalam penulisan Assessment Report 6 IPCC, peneliti AS mendominasi sebanyak 25 orang, sementara Indonesia dan Brasil masing-masing hanya 3 dan 6 orang. Ini saatnya perspektif peneliti dari negara Selatan yang berhadapan langsung dengan bencana iklim mendapatkan porsi lebih besar,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam kepemimpinan forum internasional.

“Penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955 adalah bukti kepemimpinan Indonesia. Semangat ini harus dihidupkan kembali untuk memperjuangkan diplomasi keadilan iklim dan mendukung transisi energi yang berkeadilan,” kata Stanislaus.

Menurutnya, Indonesia dapat membangun koalisi dengan Brasil dan negara-negara Global South lainnya seperti China, Afrika Selatan, India, Filipina, dan Vietnam untuk menuntut kontribusi lebih besar dari negara maju, terutama dalam bentuk bantuan teknis dan pendanaan transisi energi. (nas)

Tags: ASgeopolitikgreenlandIklim Global South

Berita Terkait.

vance
Internasional

Wapres JD Vance Batal ke Swiss, Dialog Damai AS-Iran Tertunda

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:09
Prabowo
Internasional

Prabowo Batal Hadiri ASEAN-Russia Summit di Kazan, Istana Ungkap Alasannya

Rabu, 17 Juni 2026 - 18:19
Shehbaz Sharif
Internasional

DPR RI Apresiasi Perdamaian AS-Iran, Ingatkan Israel Jangan Ganggu Kesepakatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:47
Video-Kekerasan
Internasional

Viral Dugaan Penganiayaan WNI di Malaysia, DPR Minta Proses Hukum Dikawal Ketat

Selasa, 16 Juni 2026 - 19:43
Shehbaz-Sharif
Internasional

AS dan Iran Sepakat Damai, Tandatangani Perjanjian Pekan Ini

Senin, 15 Juni 2026 - 11:29
Qatar Sambut Kemajuan Mediasi Pakistan, Perjanjian Damai AS-Iran Kian Dekati Kenyataan
Internasional

Qatar Sambut Kemajuan Mediasi Pakistan, Perjanjian Damai AS-Iran Kian Dekati Kenyataan

Minggu, 14 Juni 2026 - 13:05

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    7136 shares
    Share 2854 Tweet 1784
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru

    1776 shares
    Share 710 Tweet 444
  • Purbaya Siapkan APBN Hadapi Tantangan Global, Prioritas Nasional Tetap Jalan

    1044 shares
    Share 418 Tweet 261
  • Peringatan Dini BMKG, Jakarta Diguyur Hujan Merata Hari Ini

    994 shares
    Share 398 Tweet 249
  • Los Blancos Makin Ganas! Rekrut 2 Bintang Tanpa Mahar, Kini Incar Bek Inter

    889 shares
    Share 356 Tweet 222
Kejagung Bongkar Peran Glory Harimas Sihombing, Tersangka Baru Korupsi MBG
Olahraga

Alasan Granit Xhaka Ambil Penalti di Injury Time saat Swiss Bekuk Bosnia

Editor Juni Armanto
Jumat, 19 Juni 2026 - 16:42

INDOPOSCO.ID – Setelah sempat tersendat di laga pembuka, Swiss akhirnya menemukan ritmenya di laga kedua Piala Dunia 2026 pada Jumat...

SelengkapnyaDetails
Ismael Kone

Piala Dunia 2026: Kemenangan Kanada Diwarnai Cedera Horor Ismael Kone, Jesse Marsch Prihatin

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:37
Hasil Piala Dunia: Bungkam Korsel 1-0, Meksiko Pastikan Langkah ke 32 Besar

Hasil Piala Dunia: Bungkam Korsel 1-0, Meksiko Pastikan Langkah ke 32 Besar

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:47
Piala Dunia 2026: Hugo Broos Puas Afsel Tampil Lebih Agresif saat Imbangi Ceko

Piala Dunia 2026: Hugo Broos Puas Afsel Tampil Lebih Agresif saat Imbangi Ceko

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:01
Hasil Piala Dunia: Kanada Gunduli Qatar, Swiss Menang Meyakinkan atas Bosnia

Hasil Piala Dunia: Kanada Gunduli Qatar, Swiss Menang Meyakinkan atas Bosnia

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:23
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.