• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Komunikasi Pemerintah Menghadapi Kritik Publik atas Jumlah Menteri Ditinjau dari Perspektif Komunikasi Persuasi dan Negosiasi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 16 Januari 2026 - 09:01
in Nasional
RA
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Riza Awaluddin, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Latar Belakang Masalah

BacaJuga:

Pimpinan MPR Sarankan Pemerintah Amankan Pasokan Migas Nasional

Wamenkomdigi Sebut Digitalisasi Budaya Jadi Fondasi Data di Era AI

KBRI Phnom Penh Fasilitasi Kepulangan 1.816 WNI dari Kamboja

INDOPOSCO.ID – Komunikasi pemerintah dalam menghadapi kritik publik merupakan fenomena kompleks yang menguji kapasitas persuasif dan negosiasi suatu pemerintahan. Kasus terkini yang mengemuka adalah kritik masyarakat terhadap jumlah menteri di Kabinet Pemerintahan yang dinilai terlalu banyak (dikenal dengan istilah “kabinet gemuk”). Kritik ini tidak hanya menyangkut efisiensi anggaran, tetapi juga menyentuh persoalan fundamental seperti efektivitas koordinasi, transparansi kebijakan, dan akuntabilitas publik .

Dinamika komunikasi pemerintah menghadapi isu ini memperlihatkan pola yang menarik: di satu sisi, pemerintah berargumen bahwa jumlah menteri disesuaikan dengan kebutuhan visi-misi dan kompleksitas pembangunan; di sisi lain, publik dan pengamat melihatnya sebagai potensi inefisiensi dan sumber kesenjangan komunikasi internal yang berujung pada kebingungan publik. Bahkan dalam 100 hari pertama pemerintahan, kesenjangan komunikasi antara presiden dan menteri telah diidentifikasi sebagai penghambat utama efektivitas kabinet, yang berujung pada kebijakan yang tidak sinkron dan krisis kepercayaan.

Menurut Brodow, komunikasi pemerintah dalam menghadapi kritik publik merupakan fenomena kompleks yang menguji kapasitas persuasif dan negosiasi suatu pemerintahan. Kasus terkini yang mengemuka adalah kritik masyarakat terhadap jumlah menteri di Kabinet Pemerintahan yang dinilai terlalu banyak (dikenal dengan istilah “kabinet gemuk”). Kritik ini tidak hanya menyangkut efisiensi anggaran, tetapi juga menyentuh persoalan fundamental seperti efektivitas koordinasi, transparansi kebijakan, dan akuntabilitas publik .

Dinamika komunikasi pemerintah menghadapi isu ini memperlihatkan pola yang menarik: di satu sisi, pemerintah berargumen bahwa jumlah menteri disesuaikan dengan kebutuhan visi-misi dan kompleksitas pembangunan; di sisi lain, publik dan pengamat melihatnya sebagai potensi inefisiensi dan sumber kesenjangan komunikasi internal yang berujung pada kebingungan publik. Bahkan dalam 100 hari pertama pemerintahan, kesenjangan komunikasi antara presiden dan menteri telah diidentifikasi sebagai penghambat utama efektivitas kabinet, yang berujung pada kebijakan yang tidak sinkron dan krisis kepercayaan.

Permasalahan ini menjadi kajian penting dalam ilmu komunikasi, khususnya dalam bidang komunikasi persuasi dan negosiasi. Bagaimana pemerintah sebagai komunikator utama membangun narasi, merespons tekanan, dan bernegosiasi secara simbolis dengan publik menentukan legitimasi dan keberlangsungan kebijakannya. Oleh karena itu, analisis dengan pisau bedah teori komunikasi persuasi dan negosiasi menjadi relevan untuk memahami akar masalah dan merumuskan solusi strategis.

2. Kajian Teoritis

Dalam kajian akademis, komunikasi persuasi dan negosiasi kerap dipisahkan meski saling mendukung. Inti perbedaannya adalah tujuan akhir interaksi komunikasi.

· Komunikasi Persuasi bertujuan untuk mengubah sikap, kepercayaan, atau perilaku pihak lain (audiens/publik) agar selaras dengan tujuan komunikator. Fokusnya pada pengaruh satu arah yang efektif.

· Komunikasi Negosiasi bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama melalui dialog dan tawar-menawar di antara pihak-pihak yang memiliki kepentingan (yang mungkin sama atau berbeda). Fokusnya pada kolaborasi dan pemecahan masalah bersama.

Untuk memudahkan pemahaman, berikut perbandingan karakteristik keduanya:

Komunikasi Persuasi

· Tujuan Utama: Mempengaruhi dan mengubah pihak lain.
· Hakikat Hubungan: Seringkali asimetris (komunikator → audiens).
· Asumsi Dasar: Solusi atau pandangan terbaik ada pada komunikator.
· Contoh dalam Konteks Pemerintah: Kampanye program, penjelasan kebijakan melalui konferensi pers.

Komunikasi Negosiasi

· Tujuan Utama: Mencapai kesepakatan yang diterima semua pihak.
· Hakikat Hubungan: Simetris dan saling membutuhkan.
· Asumsi Dasar: Solusi terbaik muncul dari dialog kepentingan bersama.
· Contoh dalam Konteks Pemerintah: Dialog dengan kelompok penekan (pressure groups), konsultasi publik dalam penyusunan undang-undang.

Teori-Teori Kunci Komunikasi Persuasi

Teori-teori ini membantu menganalisis bagaimana pesan dirancang dan diproses untuk mencapai pengaruh.

· Elaboration Likelihood Model (ELM) oleh Petty & Cacioppo

· Inti Teori: Ada dua “jalur” atau cara orang terpengaruh oleh pesan persuasif: jalur sentral (memproses argumen logis secara mendalam) dan jalur perifer (mengandalkan petunjuk sederhana seperti kredibilitas sumber atau daya tarik).

· Aplikasi: Pemerintah perlu menyajikan data dan logika yang kuat (jalur sentral) untuk mempersuasi publik yang kritis. Jika hanya mengandalkan otoritas atau popularitas figur (jalur perifer), persuasi akan rapuh.

· Teori Penetapan Agenda (Agenda Setting) & Framing

· Inti Teori: Media (dan dalam konteks ini, pemerintah sebagai komunikator) tidak hanya memberi tahu publik tentang apa yang harus dipikirkan (agenda setting), tetapi juga bagaimana cara memikirkannya melalui framing (pembingkaian narasi).

· Aplikasi: Pemerintah dapat membingkai isu “kabinet besar” sebagai “kebutuhan struktural untuk percepatan pembangunan”, bukan sekadar “jumlah menteri”.

Teori-Teori Kunci Komunikasi Negosiasi

Teori-teori ini menyediakan kerangka untuk mengelola konflik dan mencapai kesepakatan yang konstruktif.

· Two-Way Symmetrical Model of Communication (James Grunig)

· Inti Teori: Model komunikasi publik yang ideal, di mana organisasi (pemerintah) dan publik berkomunikasi secara dialogis, setara, dan saling mendengarkan untuk menciptakan saling pengertian dan hubungan yang saling menguntungkan. Ini adalah landasan etis untuk negosiasi yang baik.

· Aplikasi: Kritik publik seharusnya dilihat sebagai masukan untuk dialog, bukan serangan yang harus dipatahkan. Komunikasi yang simetris membangun kepercayaan jangka panjang.

· Principled Negotiation (Negosiasi Prinsipal) dari Getting to Yes (Fisher, Ury, Patton)

· Inti Teori: Metode negosiasi yang berfokus pada kepentingan bersama, bukan posisi yang kaku. Prinsipnya: 1) Pisahkan orang dari masalah; 2) Fokus pada kepentingan, bukan posisi; 3) Ciptakan pilihan untuk keuntungan bersama; 4) Gunakan kriteria objektif.

· Aplikasi: Alih-alih berdebat soal posisi “hak prerogatif” vs. “kabinet harus kecil”, pemerintah bisa bernegosiasi dengan publik dengan mencari kepentingan bersama di baliknya, yaitu “efektivitas pemerintahan dan akuntabilitas anggaran”.

· Konsep BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement)

· Inti Teori: Kekuatan dalam negosiasi sangat ditentukan oleh alternatif terbaik yang Anda miliki jika negosiasi gagal. BATNA yang kuat memberi leverage.

· Aplikasi: BATNA pemerintah mungkin “melanjutkan tanpa perubahan meski dikritik”. BATNA publik adalah “memperkuat kritik melalui opini media dan tekanan politik”. Memahami BATNA masing-masing membantu menganalisis dinamika kekuasaan dalam konflik ini.

Analisis Konvergensi: Memadukan Teori untuk Kasus Nyata

Kasus kritik terhadap jumlah menteri dapat dianalisis secara lebih kaya dengan memadukan kedua perspektif:

Menggunakan Persuasi untuk Mendukung Proses Negosiasi

· Framing yang efektif (dari teori persuasi) adalah alat penting dalam Principled Negotiation. Pemerintah dapat membingkai ulang pembahasan dari “banyak vs. sedikit” menjadi “struktur optimal untuk pelayanan publik” – ini adalah upaya menciptakan “kriteria objektif” bersama.

· ELM mengingatkan bahwa untuk membangun Two-Way Symmetrical Communication, argumen harus melalui jalur sentral (berbasis data), bukan hanya perifer (berbasis otoritas), agar dialog berdasar pada pemahaman yang solid.

Menggunakan Negosiasi untuk Mencapai Tujuan Persuasi Jangka Panjang

· Two-Way Symmetrical Model menunjukkan bahwa tujuan persuasi (meyakinkan publik) justru paling baik dicapai melalui pendekatan negosiasi yang simetris dan dialogis, bukan monolog.

· Memahami BATNA masing-masing pihak membantu merancang pesan persuasif yang tepat sasaran. Pesan harus menunjukkan bahwa opsi pemerintah lebih menguntungkan bagi publik dibandingkan BATNA publik.

Dalam praktik komunikasi pemerintahan yang kompleks, garis antara persuasi dan negosiasi seringkali kabur. Sebuah respons terhadap kritik bisa mengandung elemen persuasi (meyakinkan publik tentang kebenaran kebijakan) sekaligus membuka pintu untuk negosiasi (menunjukkan kesediaan mengevaluasi struktur berdasarkan masukan). Kajian teoritis ini memberikan pisau analisis untuk membedah kedua dimensi tersebut.

3. Pembahasan

Berdasarkan teori di atas, berikut analisis komunikasi pemerintah dalam menghadapi kritik jumlah menteri:

3.1 Analisis dari Perspektif Komunikasi Persuasi
Pemerintah telah mencoba melakukan persuasi melalui beberapa cara, namun menghadapi tantangan besar:

· Dominasi Jalur Perifer:

Argumen pemerintah seperti “hak prerogatif presiden” dan “menyesuaikan dengan visi-misi” cenderung diproses melalui jalur perifer. Publik yang kritis membutuhkan elaborasi sentral berupa data konkret: berapa peningkatan efektivitas dengan struktur saat ini dibandingkan alternatif yang lebih ramping? Tanpa itu, persuasi menjadi rapuh.

· Krisis Kredibilitas Sumber:

Blunder komunikasi dan pernyataan kontradiktif dari beberapa menteri, sebagaimana dicatat dalam survei Celios dan laporan media , secara signifikan merusak kredibilitas pemerintah sebagai satu kesatuan sumber pesan. Hal ini membuat pesan persuasif apa pun tentang kebijakan, termasuk pembenaran jumlah menteri, sulit untuk dipercaya.

· Kegagalan Framing Proaktif:

Pemerintah cenderung defensif dalam merespons kritik. Alih-alih memimpin narasi dengan framing yang jelas (misalnya, “Struktur Kabinet untuk Akselerasi Pembangunan”), pemerintah sering bereaksi setelah kritik mengemuka . Ini sesuai dengan kritik pakar bahwa komunikasi yang baik harus mencerdaskan, bukan sekadar mengklarifikasi .

3.2 Analisis dari Perspektif Teori Negosiasi
Interaksi antara pemerintah dan publik mencerminkan dinamika negosiasi yang tidak setara namun penuh tekanan:

· Posisi vs. Kepentingan: Pemerintah terpaku pada posisi “mempertahankan jumlah menteri” (hak prerogatif) , sementara publik pada posisi “mengurangi jumlah”. Negosiasi mandeg karena kedua pihak belum berhasil mengidentifikasi dan berkomunikasi mengenai kepentingan mendasar mereka secara bersama-sama, yaitu tata kelola pemerintahan yang baik, efisien, dan terukur.

· Lemahnya Koordinasi Internal sebagai Kelemahan Negosiasi: Teori Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikutip dalam analisis komunikasi kabinet menyebutkan bahwa koordinasi internal yang lemah adalah fondasi yang buruk untuk respons krisis. Dalam negosiasi, ketidakkonsistenan pesan internal adalah kelemahan fatal. Kesenjangan komunikasi antara presiden dan menteri membuat pihak luar (publik) melihat adanya keretakan dan ketidakefisienan, sehingga memperkuat argumen mereka untuk menyederhanakan kabinet.

· BATNA yang Berbeda dan Dinamika Kekuasaan: Pemerintah memiliki kekuatan formal dan otoritas untuk mempertahankan keputusan. Namun, BATNA publik terus menerus memberikan tekanan melalui opini publik, pengawasan media, dan penilaian lembaga survei ternyata cukup kuat untuk memaksa pemerintah berada dalam situasi negosiasi permanen. Survei kinerja buruk dari Celios adalah contoh alat yang memperkuat BATNA publik, memberikan legitimasi data pada kritik mereka.

Berdasarkan kajian literatur, kasus kritik terhadap jumlah menteri dapat dianalisis secara lebih kaya dengan memadukan kedua perspektif:

Menggunakan Persuasi untuk Mendukung Proses Negosiasi

· Framing yang efektif (dari teori persuasi) adalah alat penting dalam Principled Negotiation. Pemerintah dapat membingkai ulang pembahasan dari “banyak vs. sedikit” menjadi “struktur optimal untuk pelayanan publik” – ini adalah upaya menciptakan “kriteria objektif” bersama.

· ELM mengingatkan bahwa untuk membangun Two-Way Symmetrical Communication, argumen harus melalui jalur sentral (berbasis data), bukan hanya perifer (berbasis otoritas), agar dialog berdasar pada pemahaman yang solid.

Menggunakan Negosiasi untuk Mencapai Tujuan Persuasi Jangka Panjang

· Two-Way Symmetrical Model menunjukkan bahwa tujuan persuasi (meyakinkan publik) justru paling baik dicapai melalui pendekatan negosiasi yang simetris dan dialogis, bukan monolog.

· Memahami BATNA masing-masing pihak membantu merancang pesan persuasif yang tepat sasaran. Pesan harus menunjukkan bahwa opsi pemerintah lebih menguntungkan bagi publik dibandingkan BATNA publik.

Dalam praktik komunikasi pemerintahan yang kompleks, garis antara persuasi dan negosiasi seringkali kabur. Sebuah respons terhadap kritik bisa mengandung elemen persuasi (meyakinkan publik tentang kebenaran kebijakan) sekaligus membuka pintu untuk negosiasi (menunjukkan kesediaan mengevaluasi struktur berdasarkan masukan). Kajian teoritis ini memberikan pisau analisis untuk membedah kedua dimensi tersebut.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis

Berdasarkan analisis teoritis, dapat disimpulkan bahwa komunikasi pemerintah dalam menghadapi kritik jumlah menteri belum sepenuhnya efektif ditinjau dari perspektif komunikasi persuasi dan negosiasi. Tantangan utama terletak pada:

1. Strategi persuasi yang terlalu mengandalkan jalur perifer dan otoritas, tanpa didukung argumentasi berbasis data (jalur sentral) yang memadai untuk publik yang melek informasi.

2. Kredibilitas yang terkikis oleh komunikasi internal yang tidak terkoordinasi dan pernyataan-pernyataan kontradiktif.

3. Pendekatan negosiasi yang cenderung posisional, belum beralih ke negosiasi integratif yang mencari solusi bersama atas nama kepentingan publik yang lebih besar.

4. Kegagalan membingkai narasi proaktif yang mampu memandu opini publik, sehingga selalu berada dalam mode reaktif dan defensif.

Rekomendasi Strategis Komunikasi:

· Beralih ke Persuasi Jalur Sentral: Pemerintah perlu secara transparan mempublikasikan white paper atau kajian mendetail yang menjelaskan alasan struktural, kebutuhan koordinasi, dan keunggulan komparatif struktur kabinet saat ini beserta indikator kinerjanya. Ini adalah bentuk elaborasi rasional untuk mempersuasi pihak yang kritis.

· Memperkuat Koordinasi dan Disiplin Komunikasi Internal: Sebelum bernegosiasi dengan publik, pemerintah harus menyelaraskan pesan internalnya. Penerapan prinsip Negotiation Boot Camp tentang menciptakan kepercayaan dan menghindari isu emosional perlu dilakukan di internal kabinet. Penunjukan juru bicara terpusat yang kredibel adalah langkah tepat , namun harus diikuti dengan disiplin tinggi seluruh anggota kabinet.

· Mengadopsi Negosiasi Integratif: Pemerintah bisa menginisiasi forum atau dialog terbuka yang tidak sekadar membela posisi, tetapi mengajak berbagai pemangku kepentingan (pakar, Lembaga swadaya masyarakat/LSM, masyarakat) untuk bersama-sama mendefinisikan masalah “efektivitas kabinet” dan mencari solusi kreatif. Ini dapat mencakup komitmen pada evaluasi kinerja periodik yang independen sebagai bentuk akuntabilitas.

· Proaktif dalam Framing: Membangun narasi utama yang kuat, seperti “Kabinet Kerja: Struktur untuk Akselerasi”, dan secara konsisten mengisinya dengan capaian dan komunikasi kebijakan yang terukur, sebelum kritik menguat.

5. Daftar Pustaka

1. Brodow, Ed. (2014). Negotiation Boot Camp: How to Resolve Conflict, Satisfy Customers, and Make Better Deals. Buku ini memberikan dasar-dasar strategi dan taktik negosiasi praktis, termasuk pentingnya mengatasi ketakutan, mendengarkan aktif, dan menciptakan iklim kolaboratif—yang sangat relevan untuk menganalisis interaksi pemerintah-publik. 2. Negotiation Tactics dan The Art of Negotiation.

3. Lewicki, R. J., Barry, B., & Saunders, D. M. (2015). Essentials of Negotiation (Edisi ke-6). Buku teks fundamental ini membahas konsep-konsep kunci seperti negosiasi integratif vs distributif, BATNA, multiparty negotiation, dan pengaruh persepsi, komunikasi, serta kekuatan dalam negosiasi—sangat berguna untuk analisis teoritis mendalam.

4. Hames, Davis: Negotiation. Edisi terbaru dari buku teks negosiasi yang umum digunakan adalah karya Lewicki, Barry, & Saunders, yang merupakan pengembangan dari karya-karya sebelumnya di bidang ini).

Buku Pendukung dan Sumber Kontekstual:

1. Buku yang membahas khusus Komunikasi Persuasif dan Negosiasi dalam bahasa Indonesia, berguna untuk memahami penerapan teori dalam konteks lokal.

2. Berbagai artikel berita dan analisis dari ABC Indonesia, Tempo, Humas Indonesia, dan Bloomberg Technoz yang memberikan data faktual dan konteks aktual tentang kasus komunikasi kabinet dan kritik jumlah menteri. Sumber-sumber ini berfungsi sebagai data primer untuk analisis kasus. *

Tags: Kabinet Merah PutihmenteriRiza AwaluddinumjUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Berita Terkait.

eddy
Nasional

Pimpinan MPR Sarankan Pemerintah Amankan Pasokan Migas Nasional

Rabu, 11 Maret 2026 - 04:04
nezar
Nasional

Wamenkomdigi Sebut Digitalisasi Budaya Jadi Fondasi Data di Era AI

Rabu, 11 Maret 2026 - 03:30
kbri
Nasional

KBRI Phnom Penh Fasilitasi Kepulangan 1.816 WNI dari Kamboja

Rabu, 11 Maret 2026 - 02:22
nadiem
Nasional

Nadiem: Pemilihan Chromebook Dalam Pengadaan Atas Persetujuan Dirjen

Rabu, 11 Maret 2026 - 01:11
pmk
Nasional

Kemenko PMK Koordinasikan Perumusan Isu Strategis Warisan Budaya dan Alam Indonesia 2026

Selasa, 10 Maret 2026 - 23:29
aher
Nasional

Komisi II Dorong Percepatan Pembangunan Pusat Pemerintahan 4 DOB Papua Rampung 2028

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:22

BERITA POPULER

  • polri

    Polri Mutasi 54 Perwira, Brigjen Totok Suharyanto Jabat Kepala Kortastipidkor

    12484 shares
    Share 4994 Tweet 3121
  • KPK Periksa ASN Bea Cukai dan Dua Pegawai Importir Terkait Kasus Suap Impor Barang KW

    716 shares
    Share 286 Tweet 179
  • Bea Cukai dan Polri Gagalkan Penyelundupan 16 Ton Pasir Timah di Perairan Kepri

    774 shares
    Share 310 Tweet 194
  • BCA Siapkan Rp65,7 Triliun Uang Tunai Jelang Lebaran 2026, Ini Cara Tukar Uang Pecahan Kecil

    4208 shares
    Share 1683 Tweet 1052
  • Sejak Usia 4 Tahun Kenalin Tata Surya, 5 Kali Raih Juara Olimpiade Sains Nasional

    700 shares
    Share 280 Tweet 175
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-14.56.53-2.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/Ketua-DKPP-RI-Ucapan-HUT-Indoposco-1.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/kpu-1.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.05.54.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.09.02.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.17.07.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.26.21-1.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.33.51.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.34.28.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.34.33.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.34.36.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.38.12.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.38.09.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-02-at-23.38.05.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/reelsvideo.io_1770980360242.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/ssstik.io_1770980454583.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/ssstik.io_1770980562250-1.mp4
https://indoposco.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Video-2026-02-15-at-14.35.24.mp4
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.