oleh: Nasuha
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta
INDOPOSCO.ID – Dulu, ritual petik tembakau dilakukan secara perorangan oleh tiap-tiap petani tembakau di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, Jawa Tengah. Namun, kini ritual dikemas dalam bentuk festival budaya.
Pada saat perayaan Festival Tungguk Tembakau petani di lereng Gunung Merbabu dan Merapi, biasanya sibuk untuk mempersiapkan acara. Mereka berasal dari 3 kecamatan di Kabupaten Boyolali.
Dengan berpakaian sederhana khas Jawa lengkap dengan blangkon dan ikat kepala, para petani tumpah ruang di pelataran Makam Gunung Sari. Mereka berasal dari Desa Tarubatang, Desa Senden, Desa Jeruk, Desa Selo, Desa Suroteleng dan Desa Lencoh, mewakili Kecamatan Selo, Kecamatan Ampel, Kecamatan Cepogo dan Kecamatan Musok, Kabupaten Boyolali.
Digelar sejak 2015 lalu, kearifan lokal ini difokuskan di 2 titik yang berbeda. Yakni di pelataran Makam Gunung Sari yang menjadi titik awal prosesi ritual tahunan dan pusat desa. Usai disiapkan oleh kaum perempuan secara bergotong royong, gunungan dipikul oleh para laki-laki, diarak menuju pelataran Makam Gunung Sari.
Di pelataran berukuran 12 x 10 Meter inilah seluruh gunungan dipusatkan. Ada 5 gunungan besar dan 4 gunungan kecil. Dua gunungan dengan tinggi 2,5 Meter dan diameter 1 Meter berupa gunungan daun tembakau. Masyarakat di sana menjadikannya sebagai simbol gunungan lanang (laki-laki) dan satu gunungan berupa hasil bumi yang menjadi simbol gunungan wedhok (perempuan).
Dua gunungan ini sebelumnya telah melalui proses inap atau bermalam di pelataran Makam Gunung Sari. Tujuannya, sebagai simbol perwujudan rasa syukur dengan hasil panen tembakau yang melimpah. Usai melalui ritual doa yang dipimpin oleh juru kunci Makam Gunung Sari Harjo, kedua gunungan ini diarak warga menuju pusat Desa Senden.
Sementara 3 gunungan nasi berukuran besar atau biasa disebut tumpeng dan 4 tumpeng kecil lainnya, lengkap dengan lauk dan sayuran dimakan bersama-sama di pelataran Makam Gunung Sari. Menurut adat istiadat masyarakat setempat, usai prosesi ritual pengunjung yang hadir wajib makan atau menyantap makanan dari tumpeng.
Dipimpin oleh pemuka adat, serangkaian doa dipanjatkan di depan makam Kyai Syech Muhamad lengkap dengan persembahan kopi, ayam ingkung (bekokok), rokok dan kembang. Sesekali nampak pemuka adat menaburkan dupa di tungku yang berada di sebelah kiri bawah pusaran makam.
Animo warga yang ingin menyaksikan prosesi ritual tertampung di pelataran Makam Gunung Sari. Sepanjang 1 Kilometer warga berbaris menunggu gunungan lanang dan wedhok diarak ke pusat desa. Dengan perbekalan yang sejak awal dibawa, warga secara bersama-sama menyantapnya.
Matahari kian tinggi tak menyurut masyarakat dari Desa Senden untuk setia menunggu arak-arakan gunungan dari pelataran Makam Gunung Sari. Sepanjang jalan menuju makam Gunung Sari, warga yang sejak awal membawa perbekalan tampak menyantap makanan secara bancakan (makan bersama). Cara ini, mereka yakini membawa berkah tersendiri.
Selesai prosesi ritual, petik tembakau sebagai simbol awal panen dimulai dan bancakan di pelataran Makam Gunung Sari, dua gunungan pun diarak menuju pusat desa Senden. Dengan dipandu gunungan lanang diangkat oleh empat pria dengan mengenakan pakaian ala prajurit. Sementara gunungan wedhok diangkat oleh delapan orang pria.
Setibanya di pusat desa, dua gunungan disambut para warga yang sudah berkumpul sejak pagi. Kembali proses ritual doa dilakukan oleh pemuka adat, sebelum menyerahkannya kepada pemangku desa atau kepala desa. Setelah melalui sejumlah proses serah terima dua gunungan diberikan kepada para warga yang sudah menanti untuk ngalap berkah (mencari berkah).
Masyarakat tumpah ruah ingin mendapatkan hasil kebun dan tembakau yang berada di gunungan lanang atau gunungan wedhok. Tidak berhenti di situ, kemeriahan Festival Tungguk Tembakau juga dimeriahkan oleh kirab budaya dan atraksi kebudayaan tradisional.
Masyarakat pun cukup terhibur dengan atraksi kuda kepang atau jathilan dan kirab busana daerah yang diiringi marching band.
Festival Tungguk Tembakau tidak hanya menarik animo masyarakat sekitar Boyolali. Beberapa wisatawan lokal dan mancanegara cukup menikmati prosesi sejak ritual hingga acara ngalab berkah. Secara perlahan, Desa Senden yang dulu sepi jauh dari hiruk pikuk perkotaan, kini menjadi rintisan Desa Wisata.
Sebelum Festival Tungguk Tembakau digelar, petani tembakau di lereng Gunung Merbabu dan Merapi kerap memberikan sesaji di ladang. Proses ritual tersebut dilakukan sebelum petani melakukan petik tembakau secara perorangan.
Dari kajian komunikasi massa, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Peluru/Jarum Hipodermis. Asumsi dasar dari teori yang dipopulerkan Harold Lasswell kisaran 1920-an -1930-an ini memiliki kekuatan luar biasa, khalayak dianggap pasif hanya menerima semua pesan yang disampaikan.
Di mana, melalui pesan tersebut masyarakat petani tembakau di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi secara perlahan turut dalam festival tungguk tembakau menggantikan ritual pemberian sesaji di ladang, sebelum mereka melakukan petik tembakau secara perorangan.
Sebab, pandangan masyarakat di sana, ngalap (mencari) berkah dapat diperoleh melalui makan bersama dan memperebutkan hasil kebun dari gunungan yang diarak pada festival Tungguk Tembakau.
Selain Teori Peluru/ Jarum Hipodermis, fenomena ini juga masuk dalam Teori Stimulus Respon. Di mana asumsi dasar teori ini, merupakan suatu prinsip belajar sederhana, di mana efek merupakan reaksi (respon) terhadap stimuli (rangsangan) tertentu. Komunikator dianggap dapat meramalkan reaksi dari pihak audience.
Melalui festival Tungguk Tembakau, masyarakat petani tembakau di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi kini mulai terbiasa. Menjelang bulan Agustus mereka akan mempersiapkan segala kebutuhan untuk memeriahkan festival Tungguk Tembakau. Mulai dari kebutuhan sembako hingga keperluan lainnya.
Apalagi, festival ini tidak hanya menghilangkan pandangan negatif masyarakat luas tentang persembahan dengan sesaji, tapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya petani di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. (*)










