INDOPOSCO.ID – Indonesia dinilai perlu memperkuat strategi maritim nasional dengan kebijakan pertahanan dan keamanan yang mumpuni di tengah meningkatnya kompleksitas dan ketidakpastian global.
Dalam konferensi pers yang digelar National Maritime Institute (Namarin) di Jakarta, Rabu (7/1/2026), Kepala Pusat Kajian Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Pusjianmar Seskoal) Laksamana Pertama TNI Salim menyampaikan penguatan maritim nasional sangat penting karena domain maritim adalah penggerak utama ekonomi dan keamanan global.
“Meningkatnya kompleksitas dan ketidakpastian lingkungan maritim global sekarang ini dipengaruhi banyak faktor. Domain maritim sebagai penggerak utama ekonomi dan keamanan global ini sangat penting,” ujar Salim.
Salim menambahkan rivalitas Amerika Serikat dan China di kawasan, invasi AS ke Venezuela, serta potensi konflik China–Taiwan menjadi faktor yang memperburuk kondisi global.
“Kita harus mempersiapkan strategi maritim yang mencakup kebijakan pertahanan dan keamanan yang mumpuni, sekaligus ditopang teknologi maritim yang memadai,” ucap dia.
Direktur Eksekutif Namarin Siswanto Rusdi menilai dinamika global tersebut berpengaruh langsung terhadap biaya logistik dan keamanan maritim Indo-Pasifik.
“Peristiwa invasi Amerika ke Venezuela membuat arus perdagangan global terganggu, dan sudah pasti berdampak pada sektor maritim,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan diplomat Kementerian Luar Negeri yang juga mantan Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar RI di Beijing Ple Priatna menekankan perlunya sinkronisasi kebijakan luar negeri dengan kebijakan maritim.
“Kebijakan luar negeri kita harus terkait dengan kebijakan maritim, termasuk pertahanan dan keamanan, sehingga ekonomi maritim bisa bersaing di tengah dinamika global,” ujarnya.
Sementara itu, pakar pelabuhan Wahyono Bimarso menyoroti dasar kebijakan dalam Undang-Undang Pelayaran yang harus dijalankan, terutama terkait kepelabuhanan, kenavigasian, angkutan perairan, hingga perlindungan lingkungan maritim.
“Sebagai negara kepulauan, kita masih menghadapi banyak tantangan. Ini yang harus dilakukan agar kinerja logistik meningkat,” katanya. (ney)







