INDOPOSCO.ID – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan bahwa puluhan anak di berbagai wilayah Indonesia terpapar paham radikalisme, white supremacy, hingga Neo-Nazi. Paparan itu diduga menyebar melalui grup percakapan internasional bernama True Crime Community.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana mengatakan, paparan radikalisme maupun paham kekerasan di media sosial tersebut sangatlah cepat dalam mempengaruhi perilaku, emosi, serta pola pikir anak-anak.
“Adapun sebaran wilayah yang teridentifikasi sebagai member group True Crime Community, ada 70 anak di 19 provinsi ya,” kata Mayndra Eka Wardhana di Jakarta, dikutip (8/1/2026).
DKI Jakarta mendominasi sebaran tersebut, disusul Jawa Barat dan Jawa Timur dengan angka yang terpaut tipis.
“Provinsi yang terbanyak yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang. Setelah itu menyebar di beberapa daerah,” ujar Mayndra.
Hampir seluruh anak tersebut, sebagian besar di antaranya telah menjalani proses asesmen, pemetaan, hingga konseling yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) di wilayah masing-masing.
“Terhadap 70 anak ini, kurang lebih 67 orang sudah dilakukan asesmen, mapping, konseling, dan sebagainya dengan berbagai stakeholders yang ada di masing-masing wilayah,” ungkap Mayndra.
Ia menambahkan, komunitas tersebut tidak didirikan oleh tokoh pendiri organisasi maupun institusi, melainkan tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital.
“(Grup percakapan itu) merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” jelas Mayndra. Salah satu kasus menonjol anak terpapar radikalisme adalah ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada, Jumat (7/11/2025) siang. Terduga pelaku merupakan siswa sekolah itu. (dan)





















