INDOPOSCO.ID – Di balik senyum polos anak-anak TK Al-Baitina di Kampung Rel Seumadam, tersimpan kisah ketangguhan warga Aceh Tamiang yang masih berjuang pulih pasca bencana. Namun, di awal 2026 ini, mereka tidak sendiri. Sebuah kolaborasi hangat antara Laznas BMH dan tim dokter RSUD Drs. H. Amri Tambunan Deli Serdang hadir membawa uluran kasih—bukan hanya dalam bentuk sembako atau pakaian, tetapi dalam wujud solidaritas kemanusiaan yang menyentuh hati.
Pada 4 Januari 2026, rombongan gabungan tersebut menyalurkan bantuan ke dua desa terdampak di Kabupaten Aceh Tamiang: Kampung Rel Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, dan Desa Simpang Kiri, Kecamatan Tenggulun.
Bantuan berupa sembako, makan siang, snack, pakaian layak pakai, serta Al-Qur’an dan buku Iqra’ diserahkan langsung kepada warga. Di Kampung Rel, anak-anak TK Al-Baitina menerima bingkisan dengan wajah riang saat sedang berkumpul di sekolah mereka. Sementara di Simpang Kiri, bantuan diterima oleh Bapak Adi selaku tuan rumah setempat.
Kebersamaan itu tak luput menyentuh hati para relawan. Dr. Erni, perwakilan tim dokter, bahkan meneteskan air mata karena terharu melihat kondisi warga.
“Kami datang untuk berbagi dengan saudara di sini,” katanya dengan suara lirih.
“Jangan lihat nilainya, tapi lihatlah ketulusan kami. Semoga bermanfaat.”
Syukur Mendalam
Ucapan terima kasih pun mengalir dari warga. Ibu Maryani, mewakili masyarakat, menyampaikan rasa syukur mendalam.
“Terima kasih kepada BMH dan tim dokter yang telah datang membantu kami. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan ini,” ujarnya haru.
Kepala Perwakilan BMH Sumatera Utara, M. Nuh, menyampaikan apresiasi kepada dr. Erni dan rekan-rekan medis.
“Kami bersyukur atas sinergi ini. Semoga menjadi awal yang baik untuk program kemanusiaan berikutnya,” katanya.
Langkah bersama BMH dan tim dokter ini jauh lebih dari sekadar penyaluran bantuan. Ia menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dalam kebaikan mampu menjangkau mereka yang paling rentan.
Di tengah tantangan pasca bencana, solidaritas lintas profesi dan institusi menjadi penopang harapan.
“Oleh karena itu, program ini penting bukan hanya untuk meringankan beban sesaat, tetapi untuk meningkatkan kesadaran kolektif: bahwa membantu sesama—apalagi penyintas bencana—adalah tanggung jawab bersama yang paling mulia,” tutup M. Nuh. (ibs)




















