INDOPOSCO.ID – Di tengah situasi darurat akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, cara pemerintah menyampaikan pesan ke publik menjadi faktor krusial. Bagi analis komunikasi politik Hendri Satrio, pendekatan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya justru tampil menonjol dan layak dijadikan rujukan bagi pejabat lainnya.
Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, Teddy tidak sekadar menyampaikan laporan teknis penanganan bencana. Ia menghadirkan potret lapangan yang hidup dan manusiawi, sebuah narasi yang memperlihatkan kebersamaan nyata antara warga dan petugas bantuan.
Salah satu ilustrasi yang disorot Hensa adalah cerita warga terdampak yang memberikan durian sebagai bentuk terima kasih kepada petugas. Bagi Hensa, kisah sederhana itu memuat pesan kuat tentang gotong royong yang benar-benar terjadi di lapangan.
“Pernyataan Teddy soal warga tersebut tidak hanya beri info kondisi terkini di area bencana, tapi juga tunjukkan gotong royong nyata yang harus ditiru pejabat lain untuk bangun kepercayaan publik,” kata Hensa melalui gawai, Rabu (31/12/2025).
Pendekatan komunikasi semacam ini dinilai relevan di tengah kompleksitas bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025. Dalam situasi krisis berskala besar, lanjut Hensa, publik membutuhkan informasi yang berbasis pengamatan langsung, bukan sekadar laporan administratif.
Ia menilai fakta-fakta konkret di lapangan, seperti kolaborasi warga dan aparat, mampu meredam mispersepsi serta mendorong sinergi lintas pihak.
“Dalam bencana skala besar, cara Teddy jadi kunci: jelas, berbasis pengamatan langsung, dan ciptakan aksi kolektif. Pejabat lain harus tiru agar komunikasi pemerintah lebih efektif,” ujar founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) itu.
Meski demikian, Hensa mengingatkan bahwa narasi gotong royong tidak boleh berdiri sendiri. Cerita positif harus berjalan beriringan dengan evaluasi kinerja yang terukur, mulai dari koordinasi antarlembaga hingga distribusi bantuan yang adil dan merata.
“Komunikasi baik bukan sekadar cerita, tapi dorong respons pemangku kepentingan,” jelasnya.
Ke depan, Hensa berharap pendekatan komunikasi seperti yang dilakukan Teddy dapat menjadi fondasi strategi pemerintah dalam berinteraksi dengan publik—terutama saat menghadapi krisis.
“Publik ternyata tidak butuh sekadar narasi positif, tapi transparansi keadaan yang membuat pemerintah jadi lebih terbuka ke masyarakat,” tambahnya. (her)




















