INDOPOSCO.ID – Pesisir Desa Labuhan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur, yang dahulu dikenal rusak dan sekarat, kini menjelma menjadi ruang hidup baru, bagi laut maupun masyarakatnya.
Melalui pengembangan Program Taman Wisata Laut Labuhan, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) berhasil mengintegrasikan konservasi lingkungan, edukasi, dan penguatan ekonomi lokal dalam satu ekosistem berbasis ekowisata.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning Desa Labuhan, Mohammad Sahril, menegaskan bahwa dampak program ini dirasakan langsung oleh warga. Menurutnya, kawasan ini kini menjadi tujuan utama penelitian akademik dari berbagai perguruan tinggi.
“Banyak penelitian ke sini, dari mahasiswa maupun lembaga. Mereka datang untuk wisata edukasi, bahan skripsi, dari ekonomi pembangunan sampai kelautan,” kata Sahril, saat ditemui INDOPOSCO, Senin (22/12/2025).
Penelitian yang dilakukan umumnya berkaitan dengan terumbu karang, mangrove, hingga lamun, yakni tumbuhan laut yang berperan penting dalam menjernihkan air dan menjadi tempat bertelur biota laut. Kehadiran para peneliti tersebut memberikan efek ekonomi berantai. Seluruh aktivitas laut difasilitasi oleh kelompok masyarakat setempat.
“Kalau mau ke laut, otomatis sewa perahu dari kami. Tarifnya Rp50 ribu per orang, sudah termasuk life jacket. Dari situ, Rp10 ribu masuk kas kelompok, sisanya untuk pemilik sampan,” jelasnya.
Saat ini, terdapat 10 armada perahu besar yang beroperasi, masing-masing mampu mengangkut hingga 10 orang untuk kegiatan penelitian. Meski belum dibuka untuk snorkeling umum, aktivitas riset laut sudah cukup menggerakkan ekonomi warga.
Tak hanya dari sektor transportasi laut, manfaat juga dirasakan dari penyediaan katering dan penginapan yang dikelola masyarakat menengah ke bawah.
“Kalau ada 100 orang menginap, makannya (si penginap) itu dialihkan ke masyarakat. Kita sudah punya daftar giliran. Jadi semua (warga pesisir Desa Labuhan kebagian,” ungkap Sahril.
Harga katering pun terjangkau, mulai dari Rp10 ribu untuk mahasiswa hingga Rp25 ribu untuk dosen, menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga nelayan.
Dari sisi lingkungan, lanjut Sahril, perubahan paling nyata terlihat pada kawasan pesisir yang kini hijau. Penanaman cemara laut sepanjang 2,5 kilometer dilakukan bertahap sejak 2023 hingga 2025 sebagai pemecah gelombang alami.
“Yang dulu mangrove ditebang, sekarang masyarakat sudah sadar. Burung-burung yang dulu diburu, sekarang dibiarkan hidup. Pola pikir masyarakat berubah,” ujar Sahril.
Program ini berangkat dari kondisi lingkungan yang memprihatinkan. Pada 2017, tutupan karang hidup di perairan Labuhan hanya 10-25 persen, dengan abrasi mencapai 5,24 meter per tahun. Hasil tangkapan nelayan pun merosot drastis, kurang dari 10 kilogram per sekali melaut.
Sebagai solusi, PHE WMO memperkenalkan transplantasi karang menggunakan kubah beton berongga, modul pertama di Indonesia yang telah memperoleh Hak Cipta. Hingga kini, 80 kubah dengan 480 fragmen karang berhasil ditanam, dengan tingkat kesintasan mencapai 97 persen.
Empat jenis karang utama, yakni Acropora millepira, Acropora hyacinthus, Porites cylindrica, dan Sinularia sp, berhasil tumbuh dan memulihkan ekosistem. Dampaknya signifikan, jumlah spesies biota laut meningkat dari 8 spesies pada 2017 menjadi 40 spesies pada 2024. Keberhasilan ini bahkan direplikasi secara mandiri oleh Pemerintah Desa Labuhan dengan penambahan 130 kubah beton.
Sebagai operator Blok West Madura Offshore sejak 2011, PHE WMO menjalankan produksi migas dengan fondasi keberlanjutan. Hingga Desember 2025, produksi tercatat mencapai 1.703 BOPD minyak dan 26,454 MMSCFD gas, dengan wilayah operasi lepas pantai Madura Barat dan fasilitas gas di Gresik.
Kini, Desa Labuhan tak lagi sekadar pesisir nelayan. Ia menjelma menjadi laboratorium alam, ruang belajar terbuka, sekaligus bukti ketika laut dipulihkan, kehidupan, baik ekologi maupun ekonomi ikut bangkit bersama.(her)








