INDOPOSCO.ID – Perjalanan kepemimpinan global kerap bermula dari ruang belajar yang sederhana, namun sarat makna. Di Jakarta, langkah itu diwujudkan melalui in-person workshop AFS Global Future Leaders Network (GFLN) 2025, sebuah program kolaboratif antara Yayasan Bina Antarbudaya dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang berfokus pada pendidikan energi dan keberlanjutan.
Program ini menjadi bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) di bidang pendidikan, dengan tujuan memperluas akses pembelajaran berkualitas bagi pelajar Indonesia, khususnya yang berasal dari wilayah operasi hulu minyak dan gas bumi. Sebanyak 55 siswa didatangkan dari berbagai daerah seperti Kepulauan Tanimbar, Kutai Kartanegara, Bojonegoro, Aceh Utara, dan Lhokseumawe, untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun jejaring lintas wilayah.
Selama kegiatan, peserta mengikuti rangkaian indoor workshop yang membahas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), dasar perancangan proyek, pengenalan sektor energi, serta penguatan soft skills. Materi disampaikan oleh fasilitator dan praktisi dari bidang pendidikan dan energi, dengan pendekatan partisipatif yang mendorong pemikiran kritis dan kerja tim.
Pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Peserta juga diajak mengikuti outdoor learning experience melalui kunjungan ke Depo LRT Jakarta sebagai contoh infrastruktur transportasi berkelanjutan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang menerapkan teknologi ramah lingkungan, Kantor SKK Migas, serta Museum Nasional. Kegiatan ini dirancang agar peserta dapat melihat langsung keterkaitan antara pendidikan, teknologi, dan sektor energi dalam kehidupan nyata.
Salah satu peserta, Fradhea Anam (16) dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari rangkaian kegiatan tersebut.
“Motivasi belajar saya meningkat setelah mengunjungi Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Kami melihat langsung penerapan panel surya, pengelolaan air hujan, hingga teknologi robotik. Saya juga pertama kali menaiki LRT dan mempelajari penerapan infrastruktur berkelanjutan di Depo LRT Jakarta. Semuanya sangat menarik dan bermanfaat,” kata Fradhea, Jumat (19/12/2025).
Sebagai puncak pembelajaran, peserta mempresentasikan capstone project yang disusun dalam 11 kelompok pada hari kelima. Capstone project merupakan tugas akhir kelompok yang dirancang untuk menjawab suatu permasalahan nyata dan berpotensi diimplementasikan. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang melibatkan perwakilan dari SKK Migas.
Penilaian dibagi ke dalam lima kategori penghargaan, yakni The Most Innovative Idea, The Most Impactful Solution, The Most Progressive Group, The Most Engaging Presentation, dan The Best Capstone Project. Pengumuman pemenang disampaikan dalam acara penutupan yang turut dimeriahkan oleh penampilan budaya dari para peserta, mencerminkan keberagaman latar belakang mereka.
Sejalan dengan tujuan program dalam menyiapkan pemimpin masa depan berdaya saing global, CSR Specialist SKK Migas, Fadhilah, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membuka akses pendidikan berkualitas.
“Diharapkan peserta mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan memahami isu keberlanjutan, serta industri migas. Dalam hal ini, SKK Migas memberi dukungan berupa penyediaan akses dan membantu koordinasi antara KKKS dengan Bina Antarbudaya. Kami senang berkolaborasi dengan Bina Antarbudaya yang memastikan kualitas pengalaman belajar bagi peserta,” kata Fadhilah.
Program AFS Global Future Leaders Network 2025 didukung oleh 10 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) SKK Migas, yang wilayah operasinya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, yakni Pertamina Hulu Mahakam, Bumi Siak Pusako, Pertamina EP, Premier Oil Andaman, PetroChina International Jabung, Premier Oil Natuna Sea, ExxonMobil Cepu Limited, Pertamina Hulu Rokan, Mubadala Energy South Andaman, Petronas Carigali Ketapang II, dan Inpex Masela Ltd. Dukungan ini menjadi bukti kepercayaan terhadap peran Yayasan Bina Antarbudaya dalam membangun pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun sejak berdiri pada 1985, Yayasan Bina Antarbudaya telah membina ribuan pemuda Indonesia menjadi pemimpin yang menjunjung tinggi perdamaian dan keadilan global, didukung oleh jaringan relawan di 20 chapter di seluruh Indonesia. Berbagai program pun terus dikembangkan, baik dalam format digital maupun kombinasi digital dan workshop, termasuk AFS Global Future Leaders Network.
Pada akhirnya, program ini bukan sekadar rangkaian kegiatan belajar, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia, menyiapkan generasi muda yang memahami energi, keberlanjutan, dan kepemimpinan global sejak dini. (her)




















