INDOPOSCO.ID – Di bawah rimbun hutan dan bentang medan latihan militer Menlatpur Kostrad Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, puluhan awak media menjalani pengalaman yang tak biasa, yakni bagaimana kemampuan bertahan dan bergerak aman di medan berisiko, salah satunya melalui pelatihan navigasi titik koordinat menggunakan peta, kompas, dan Global Positioning System (GPS).
Pembekalan ini merupakan bagian dari program peningkatan keselamatan liputan di wilayah rawan bencana maupun konflik yang digelar oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) selama enam hari, dari tanggal 14- 20 Desember 2025 ini.
Memasuki hari keempat, terdapat sesi navigasi, di mana peserta diajak memahami bagaimana menentukan posisi, membaca medan, hingga memastikan arah pergerakan tetap akurat dalam berbagai kondisi.
Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Menlatpur Kostrad Sanggabuana, Kapten (Inf) Syaepurrahman, selaku pelatih, menjelaskan bahwa kemampuan navigasi menjadi keterampilan krusial bagi jurnalis yang bertugas di lapangan terbuka, wilayah terpencil, atau daerah dengan keterbatasan infrastruktur.
“Penguasaan navigasi penting agar awak media mampu beradaptasi di situasi dinamis, khususnya saat mengikuti kegiatan di daerah rawan konflik, sekaligus menjaga keselamatan diri,” ujarnya kepada awak media saat kegiatan itu.
Dalam penyampaian materi, para pelatih memperkenalkan fungsi dan prinsip kerja GPS, teknik membaca koordinat, penentuan titik awal dan tujuan, serta simulasi penggunaan GPS untuk navigasi siang hari.
Peserta juga dilatih mengombinasikan perangkat navigasi digital dengan pemahaman kondisi medan, sehingga keputusan pergerakan dapat diambil secara tepat dan aman.
Pembekalan kemudian diperkuat melalui latihan navigasi malam hari dengan memanfaatkan GPS dan kompas prisma. Dalam kondisi minim cahaya, peserta dilatih menjaga orientasi arah, menentukan azimut, serta memahami prosedur keselamatan pergerakan malam.
Pada sesi ini, pelatih menekankan pentingnya ketelitian, disiplin, dan kewaspadaan, termasuk mengenali potensi gangguan navigasi akibat medan, cuaca, maupun benda logam yang dapat memengaruhi akurasi kompas.
Melalui pembekalan navigasi ini, diharapkan awak media memiliki bekal teknis lapangan yang memadai untuk mendukung kelancaran tugas jurnalistik, meningkatkan keselamatan pribadi, serta memperkuat sinergi antara TNI dan media dalam menyampaikan informasi kepada publik secara profesional dan bertanggung jawab.
Wartawan INDOPOSCO.ID yang turut menjadi peserta, pelatihan ini menegaskan kebanggaannya karena mendapat pembekalan yang menjadi pengalaman berharga jika dirinya di kemudian hari akan meliput di daerah rawan bencana.
“Seumur hidup, saya belum pernah mempelajari navigasi medan seperti ini secara langsung. Ini pelajaran penting yang membuka wawasan,” tuturnya.
Sementara di hari sebelumnya, 42 awak media juga diperkenalkan konsep 5M sebagai pedoman dasar jurnalis saat terjadi kontak senjata. Menghilang, mencari perlindungan, menilai situasi, memilih kejadian yang layak dipublikasikan, dan mendokumentasikan peristiwa. Urutannya jelas—keselamatan selalu nomor satu, berita menyusul kemudian.
Latihan demi latihan dijalani dengan keringat dan lumpur. Seragam Komponen Cadangan yang dikenakan para jurnalis menjadi saksi bahwa profesi pencari fakta pun dituntut memahami risiko medan. Di sini, jurnalis tidak hanya ditantang untuk cepat menulis, tetapi juga cepat menyelamatkan diri. (dil)










