INDOPOSCO.ID – Pagi itu, Selasa (16/12/2025), langit Karawang masih berwarna pucat ketika keheningan di kawasan Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana mendadak pecah. Dentuman senjata terdengar nyaring, memantul di antara kontur perbukitan dan hamparan beton latihan. Tanpa aba-aba panjang, puluhan tubuh langsung menjatuhkan diri ke tanah.
Sebanyak 42 jurnalis dari berbagai media, termasuk INDOPOSCO.ID, yang mengenakan seragam Komponen Cadangan (Komcad) refleks tiarap setelah suara tembakan dan teriakan komandan pasukan. “Tiaraap! Cari perlindungan,” seru sang komamdan.
Lantai puving blok bercampur tanah terasa dingin menekan dada, sementara tangan sambil meraba mencari perlindungan. Beberapa merapat ke balik semak, sebagian lain memanfaatkan cekungan medan. Di momen itu, insting bertahan hidup bekerja lebih cepat daripada pikiran.
Bagi sebagian jurnalis, ini bukan sekadar simulasi. Bunyi letusan senjata yang selama ini hanya terdengar dari rekaman video atau liputan konflik di layar kaca, kini hadir nyata di jarak yang dekat. Detak jantung berpacu, napas tertahan bercampur rasa panik akan keselamatan.
Beruntung, apa yang dirasakan oleh puluhan jurnalis itu baru sekadar latihan yang merupakan bagian dari pembekalan prosedur kedaruratan di daerah rawan konflik yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI pada 14–20 Desember 2025. Selama sepekan, para jurnalis dilatih bukan untuk mengangkat senjata, melainkan menjaga keselamatan diri ketika meliput bersama pasukan TNI di wilayah berisiko tinggi.
Di medan latihan Sanggabuana, para jurnalis belajar membaca situasi, mengatur pernapasan, membatasi gerak, hingga melindungi kamera dan alat rekam, peralatan yang menjadi “senjata” utama mereka. Semua dilakukan seolah mereka benar-benar berada di wilayah konflik, di mana satu keputusan keliru bisa berujung fatal.
Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Menlatpur Kostrad Sanggabuana, Kapten (Inf) Syaepurrahman, menjadi salah satu instruktur yang membimbing langsung. Dengan suara mantap, ia mengingatkan bahwa jurnalis bukanlah target, tetapi bisa terjebak di tengah ancaman.
“Kunci utamanya adalah tetap hidup,” ujarnya di sela latihan.
Ia memperkenalkan konsep 5M sebagai pedoman dasar jurnalis saat terjadi kontak senjata. Menghilang, mencari perlindungan, menilai situasi, memilih kejadian yang layak dipublikasikan, dan mendokumentasikan peristiwa. Urutannya jelas—keselamatan selalu nomor satu, berita menyusul kemudian.
Latihan demi latihan dijalani dengan keringat dan lumpur. Seragam Komponen Cadangan yang dikenakan para jurnalis menjadi saksi bahwa profesi pencari fakta pun dituntut memahami risiko medan. Di sini, jurnalis tidak hanya ditantang untuk cepat menulis, tetapi juga cepat menyelamatkan diri.
Acara pembekalan ini pun dibuka oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah, yang membacakan amanat dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada Senin (15/12/2025).
Dalam amanatnya itu, ia menegaskan bahwa pertahanan negara adalah tanggung jawab bersama, termasuk insan pers.
“Awak media yang tangguh, terlatih, dan memahami prosedur kedaruratan, secara tidak langsung turut memperkuat ketahanan nasional,” ujarnya.
Bagi jurnalis INDOPOSCO dan puluhan awak media lainnya, pengalaman di Sanggabuana menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita dari daerah rawan, ada risiko nyata yang kerap tak terlihat oleh pembaca.
Di balik judul dan paragraf, ada detik-detik ketika tubuh harus tiarap, napas harus dikendalikan, dan naluri bertahan hidup mengambil alih segalanya.
“Di bawah dentuman senjata yang menggema, kami para jurnalis belajar satu hal penting: keselamatan adalah berita pertama yang harus mereka jaga sebelum menuliskan berita untuk publik,” ucap salah satu jurnalis di lokasi pelatihan. (dil)










