INDOPOSCO.ID – Dari efisiensi biaya hingga komitmen lingkungan, PetroChina International Jabung Ltd. (PCJL) menegaskan bahwa operasi hulu migas modern bukan sekadar soal produksi, melainkan tentang presisi, keselamatan, dan keberlanjutan.
Sebagai operator Wilayah Kerja Jabung, PCJL terus memacu langkah eksplorasi dan pengembangan lapangan dengan pendekatan yang semakin terukur. Dalam kerangka Komitmen Kerja Pasti (KKP) 2023–2028, perusahaan menargetkan enam sumur eksplorasi. Hingga kini, dua sumur telah memasuki tahap pelaksanaan, sementara satu sumur eksplorasi berikutnya diproyeksikan mulai dibor pada 2027.
Tak hanya di pengeboran, PCJL juga menuntaskan rangkaian survei seismik berskala besar. Program 3D Seismik Ketemu dan Rukam, serta 2D Seismik Eastern Jabung, rampung hingga tahap akuisisi dan pemrosesan data pada akhir kuartal pertama 2025. Capaian ini dibukukan dengan catatan keselamatan yang impresif: 1,74 juta jam kerja aman tanpa insiden.
Vice President Operations PCJL, Andika Jaya, menyampaikan bahwa fokus perusahaan ke depan tidak semata pada penambahan sumur, tetapi juga pada penguatan infrastruktur produksi dengan pembiayaan yang disiplin.
“Pada 2026, kami menjalankan pengeboran sumur pengembangan bersamaan dengan pembangunan sejumlah fasilitas penunjang di Jabung, seluruhnya dengan prinsip efisiensi biaya,” ujar Andika dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).
Efisiensi tersebut telah terbukti sepanjang 2025. Dari target sembilan sumur pengembangan, tujuh sumur telah diselesaikan dengan penghematan biaya sekitar USD 5,6 juta, atau setara 14 persen dari total anggaran pengeboran yang disetujui SKK Migas senilai USD 41,2 juta.
Penghematan ini bukan hasil kompromi kualitas, melainkan buah dari inovasi teknis—mulai dari desain sumur yang lebih akurat, pengendalian non-productive time, hingga pemanfaatan teknologi mutakhir seperti high-performance drill bit, AI-assisted drilling, dan Measurement While Drilling (MWD) generasi terbaru dengan kecepatan transfer data yang lebih tinggi.
Selain pengeboran, PCJL juga mengerjakan 11 program workover dan 155 well services sepanjang tahun ini. Agenda 2026 bahkan lebih agresif: enam sumur pengembangan, 11 workover, dan 170 well services telah masuk daftar eksekusi.
“Kami memastikan seluruh persiapan drilling campaign 2026 matang sejak awal. Tidak ada ruang untuk penundaan, karena stabilitas produksi sangat bergantung pada ketepatan waktu,” jelas Andika.
Dari sisi operasional, PCJL juga membidik efisiensi energi. Perusahaan menargetkan tambahan penghematan USD 900 ribu hingga USD 1 juta dari optimalisasi konsumsi bahan bakar fasilitas produksi.
Komitmen efisiensi tersebut berjalan beriringan dengan perhatian serius pada aspek keselamatan dan lingkungan. Program kesehatan dan keselamatan kerja diterapkan secara berkelanjutan, dibarengi penguatan budaya keselamatan di seluruh lini operasi. Pengelolaan limbah di fasilitas produksi maupun rig pengeboran dilakukan sesuai regulasi dan dikoordinasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup.
Salah satu praktik berkelanjutan yang diterapkan adalah pemanfaatan ulang air limbah produksi. Air tersebut digunakan kembali sebagai bahan pengencer lumpur bor sebelum kegiatan pengeboran, sehingga menekan konsumsi air baru dan mengurangi beban lingkungan.
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas, PCJL memastikan seluruh kegiatan berjalan sejalan dengan kebijakan nasional. Dukungan regulator dan pemangku kepentingan menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan operasi di Jabung.
“Kepercayaan stakeholder adalah aset utama. Itu kami jaga dengan memastikan operasi migas dijalankan secara bertanggung jawab,” tegas Andika.
Dari sisi pemerintah, SKK Migas menilai langkah PCJL berkontribusi langsung pada pencapaian target lifting nasional. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, menekankan bahwa keberhasilan hulu migas ditentukan oleh sinergi lintas sektor.
“Kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah pusat dan daerah, serta kementerian teknis menjadi kunci memperkuat ketahanan energi nasional di tengah peningkatan kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Heru menambahkan, aktivitas hulu migas memiliki efek berganda yang luas—mulai dari investasi, penguatan tenaga kerja lokal, hingga penggerak ekonomi daerah dan UMKM. Dengan demikian, keberhasilan eksplorasi dan efisiensi operasi PCJL bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga dampak sosial-ekonomi yang nyata bagi wilayah Jabung.
Di tengah tantangan industri energi global, langkah PCJL menunjukkan bahwa efisiensi, inovasi, dan tanggung jawab lingkungan dapat berjalan beriringan—menjadi fondasi kuat bagi ketahanan energi nasional hari ini dan esok. (her)




















