INDOPOSCO.ID – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, buku sejarah Indonesia tidak dimaksudkan untuk menuliskan sejarah Indonesia secara detail dan menyeluruh. Melainkan menghadirkan sorotan utama perjalanan bangsa dalam konteks dinamika global.
“Kalau sejarah kita ditulis lengkap, mungkin harus seratus jilid. Buku ini adalah highlight perjalanan bangsa, dari masa prasejarah sampai era Reformasi,” ujar Fadli Zon dalam keterangan, Senin (15/12/2025).
Ia menjelaskan, jilid pertama bertajuk Akar Peradaban Nusantara membahas fondasi awal peradaban di wilayah Nusantara, mulai dari dinamika prasejarah hingga terbentuknya masyarakat awal. Pada jilid ini ditegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah dengan peradaban tertua di dunia, termasuk melalui pembahasan kembalinya fosil Java Man (Homo erectus) ke Indonesia sebagai bagian dari kedaulatan budaya dan peradaban.
Interaksi Nusantara dengan dunia luar diulas dalam Jilid 2 dan Jilid 3 bertema Nusantara dalam Jaringan Global, yang menyoroti perjumpaan intensif dengan India, Tiongkok, dan Persia. Pertemuan tersebut membentuk jaringan perdagangan maritim, pertukaran budaya, serta fondasi pluralitas masyarakat Indonesia.
Periode kedatangan bangsa Barat dibahas dalam Jilid 4, Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi, yang merekam dinamika persaingan dan kerja sama antara kekuatan Eropa dengan entitas politik lokal. Proses kolonialisasi selanjutnya diuraikan dalam Jilid 5 tentang Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial.
Kesadaran kebangsaan dan perjuangan menuju kemerdekaan menjadi fokus Jilid 6, sementara dinamika pascaproklamasi hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dikaji dalam Jilid 7 tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945–1950).
Masa awal kemerdekaan dibahas dalam Jilid 8, Konsolidasi Negara Bangsa: Konflik, Integrasi, dan Kepemimpinan Internasional (1950–1965), disusul Jilid 9 yang mengulas Pembangunan dan Stabilitas Nasional Era Orde Baru (1967–1998). Dinamika Reformasi hingga era kontemporer disajikan dalam Jilid 10 bertajuk Reformasi dan Konsolidasi Demokrasi (1998–2024).
Seluruh jilid buku disunting oleh sejarawan senior dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Diponegoro, Universitas Islam Internasional Indonesia, dan masyarakat sejarawan Indonesia.
Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia, menilai buku ini sebagai capaian penting dalam historiografi Indonesia.
“Ini luar biasa dan bersifat historis. Kita sudah lama membutuhkan buku sejarah yang lebih komprehensif dengan data-data baru. Buku ini diharapkan menjadi pedoman, terutama bagi mahasiswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan ke depan adalah memastikan buku ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh generasi muda yang semakin banyak belajar sejarah melalui media digital di luar ruang kelas konvensional.
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Jakarta. Buku sejarah nasional terbaru ini disusun dalam sepuluh jilid utama serta satu jilid faktaneka dan indeks, melibatkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. (nas)




















