INDOPOSCO.ID – Di tengah meningkatnya kesadaran akan isu lingkungan dan gaya hidup berkelanjutan, Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif (FKDK) Universitas Budi Luhur (UBL) menghadirkan sebuah terobosan kreatif melalui Barter Market 2025 yang digelar di lingkungan kampus, pada Sabtu (13/12/2025).
Mengusung konsep tukar-menukar pakaian tanpa transaksi uang, kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus aksi nyata mahasiswa dalam menjawab tantangan limbah fashion yang kian meningkat.
Barter Market 2025 diselenggarakan oleh mahasiswa kelas karyawan FKDK UBL sebagai bagian dari ujian akhir semester (UAS) mata kuliah Event Management. Setiap mahasiswa diwajibkan merancang sebuah kegiatan yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui tagline Kampus Berdampak atau Diktisaintek (Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi berkontribusi nyata bagi lingkungan sosial.
Dosen FKDK UBL, Anastasya Putri menjelaskan bahwa pemilihan konsep barter market berangkat dari riset tren yang menunjukkan tingginya perhatian generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap isu keberlanjutan dan Sustainable Development Goals (SDGs).
“Isu sustainability dan keberlanjutan saat ini sangat tinggi, terutama di kalangan anak muda. Mereka mulai peduli dengan lingkungan dan mencari cara berkontribusi dengan gaya mereka sendiri,” ujar Putri kepada INDOPOSCO, Sabtu (13/12/2025).
Menurutnya, tingginya angka belanja fashion di masyarakat turut berdampak pada meningkatnya limbah tekstil. Di sisi lain, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil serta pembatasan aktivitas thrifting mendorong perlunya alternatif baru yang tetap ramah lingkungan.
“Dari situ muncul ide, bagaimana kalau kita menghidupkan kembali sistem lama yang relevan dengan kondisi sekarang, yaitu barter. Anak muda tetap bisa tampil stylish, tanpa menambah limbah fashion,” jelasnya.
Mengusung hashtag #ShowYourGreenStyle, Barter Market 2025 tidak hanya menghadirkan aktivitas tukar-menukar pakaian, tetapi juga dirancang sebagai kampanye gaya hidup hijau. Konsep ini dikembangkan dari komunitas tukar baju yang sudah ada, lalu dimodifikasi agar sesuai dengan konteks akademik dan kebutuhan mahasiswa.
Tak berhenti di situ, Barter Market 2025 juga menghadirkan rangkaian kegiatan edukatif, salah satunya workshop ecopreneur. Dalam sesi ini, peserta diajak mengolah limbah fashion, seperti pakaian sobek atau tidak terpakai menjadi produk baru bernilai ekonomis, seperti pouch multifungsi.
“Dari limbah fashion, kita bisa ciptakan barang baru yang punya nilai jual. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga peluang ekonomi,” tutur Putri.
Menariknya, peserta workshop didominasi pelajar SMA yang baru pertama kali belajar menjahit. Kegiatan ini menjadi sarana pengenalan life skill yang bermanfaat di masa depan.
“Menjahit itu life skill. Bukan cuma ilmu akademik, tapi keterampilan yang bisa jadi tambahan penghasilan,” imbuhnya.
Sebagai bagian dari kampanye visual, Barter Market 2025 juga menampilkan fashion show sustainability, yang memperlihatkan karya-karya busana hasil olahan limbah fashion oleh desainer muda. Peragaan ini menjadi bukti bahwa busana berkelanjutan tetap bisa tampil modis dan bernilai estetika tinggi.
“Antusiasme peserta terlihat sejak awal acara. Banyak pengunjung yang pulang ke rumah untuk mengambil pakaian dari lemari mereka, lalu kembali untuk menukarkannya dengan koleksi lain. Sejumlah testimoni menyebutkan bahwa kegiatan ini membantu mereka mendapatkan pakaian baru tanpa mengeluarkan uang sama sekali,” tambahnya.
Sementara itu, mahasiswi FKDK sekaligus Ketua Pelaksana Barter Market 2025, Euis Rosma mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara dan respons positif dari masyarakat.
“Happy banget, Alhamdulillah acaranya berjalan lancar dan antusiasmenya tinggi. Karena ini event baru di Universitas Budi Luhur yang mengangkat sustainability, harapannya bisa memberi insight ke audiens muda,” ujar Euis.
Ia menambahkan, konsep acara ini disiapkan dalam waktu sekitar tiga minggu, namun mampu memberikan dampak positif yang nyata. Seluruh barang yang tersedia berhasil tersalurkan sesuai dengan konsep keberlanjutan. Sisa pakaian yang ada akan dikurasi kembali dan didonasikan ke yayasan sosial.
“Kami berharap ke depan akan ada event-event lain yang tidak kalah keren dan tetap membawa nilai kebermanfaatan bagi masyarakat,” tutupnya.
Barter Market 2025 menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa, jika dipadukan dengan kepedulian sosial dan lingkungan, mampu melahirkan gerakan sederhana namun bermakna. Dari lemari pakaian, lahir aksi nyata untuk bumi yang lebih berkelanjutan. (her)










