INDOPOSCO.ID – Perkembangan teknologi bedah ortopedi kembali mendapat panggung penting di Indonesia. Pada simposium bertema “35 Tahun Mengembangkan Seni dan Ilmu Bedah & Rekonstruksi Bahu” yang digelar Siloam Hospitals Kebon Jeruk di Jakarta, Kamis (11/12/2025), kehadiran maestro bedah bahu dunia, Dr. med. Laurent Lafosse, menjadi sorotan utama para dokter spesialis dari berbagai daerah.
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Konsultan Hip & Knee di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Dr. dr. Franky Hartono, SpOT(K), menyebut Dr. Lafosse sebagai rujukan global bagi para ahli bedah bahu. Menurutnya, kehadiran Dr. Lafosse membuka akses bagi dokter Indonesia untuk mempelajari teknik-teknik paling mutakhir dalam artroplasti maupun artroskopi.
“Dr. Lafosse merupakan salah satu maestro bedah bahu internasional. Dia adalah seorang pakar mengenai operasi bahu, baik artroplasti maupun artroskopi,” ujar Dr. Franky, saat ditemui INDOPOSCO usai simposium, di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Ia menjelaskan teknik artroplasti yang dipaparkan Lafosse memberi harapan besar bagi pasien dengan keterbatasan gerak akibat kerusakan sendi.
“Untuk artroplasti bisa membantu pasien-pasien yang terganggu gerakannya dengan melakukan operasi artroplasti, artinya menanam implan yang baik untuk menggantikan sendi bahunya yang rusak. Dari beliau kita belajar. Bahwa teknik itu bisa dilakukan dengan hasil yang baik,” jelas Dr. Franky.
Antusiasme para peserta simposium pun terlihat tinggi. “Yang tertarik mengenai teknik yang diajarkan beliau itu semua teman-teman dokter ortopedi dari berbagai penjuru di Indonesia. Karena beliau adalah seorang pakar,” lanjutnya.
Dr. Lafosse, yang dikenal sebagai inovator berbagai teknik hingga pencipta banyak paten implan, juga memperlihatkan langkah paling benar dalam menjalankan artroskopi, mulai dari prinsip dasar, indikasi, hingga evaluasi hasil akhir.
“Dari beliau kita belajar bagaimana melakukan operasi artroskopi dengan benar dan dengan hasil yang baik secara teknik, secara ABC-nya, gimana cara melakukannya benar, indikasinya gimana, hasil akhirnya gimana,” jelas Dr. Franky.
“Beliau mengajarkan bahwa kita harus tetap berpraktis untuk bisa mendapat hasil yang baik,” lanjutnya.
Salah satu hal yang paling ditekankan Dr. Lafosse adalah kejujuran dan keterbukaan dalam menghadapi risiko operasi.
“Tadi kan dilakukan juga beberapa pertanyaan yang bagaimana kalau kita gagal. Dia mengatakan bahwa kita harus semua open, jujur. Harus tahu bahwa kesalahan bisa terjadi. Untuk hasil yang lebih baik kita harus belajar juga bagaimana mengatasi kesalahan tersebut,” ungkapnya.
Dalam sesi pembelajaran, Dr. Lafosse mengurai tiga kondisi utama yang sering ditemui pada bahu. Pertama, kondisi degeneratif atau kerusakan sendi akibat pengapuran atau usia, yang ditangani melalui penggantian sendi dengan implan. Kedua, masalah instability atau bahu yang mudah terlepas (dislokasi berulang).
“Kalau dulu sebelum ada artroskopi kita buka, kita jahit. Sekarang tidak, tanpa dibuka, dengan melakukan endoskopi, yang robek itu, yang kendor itu, kita bisa ikat,” jelasnya.
Ketiga, robekan otot akibat gesekan atau trauma, yang sering disalahartikan sebagai frozen shoulder.
“Sebenarnya bukan frozen shoulder, itu mah sakit. Enggak bisa ngangkat (menggerakkan) tangan keatas. Kenapa enggak bisa ngangkat? Karena robek. Ototnya robek di atas. Awalnya robek kecil, kemudian enggak ditangani, lalu jadilah robek yang besar,” tambahnya.
Fenomena salah kaprah penanganan, termasuk kecenderungan masyarakat mengandalkan pijat atau pengobatan alternatif, masih sering terjadi. Padahal, kerusakan tersebut umumnya membutuhkan intervensi medis yang tepat.
Dr. Franky menegaskan teknik-teknik yang ditunjukkan Dr. Lafosse memberikan kepercayaan diri baru bagi dokter-dokter Indonesia untuk berani melakukan tindakan yang sebelumnya dianggap sulit.
“Setelah ditunjukkan oleh beliau, waduh gampang sekali. Gampang karena dia pandai, dia bisa, skillnya tinggi, dibantu peralatan yang bagus. Tapi kita di Siloam Hospitals Kebon Jeruk sini sudah mempunyai alat-alat tersebut. Kita mau belajar. Dan kita akan menjadi pusat rujukan,” tutupnya.
Dengan komitmen peningkatan kompetensi serta dukungan teknologi, Dr. Franky optimistis Indonesia dapat melahirkan lebih banyak ahli bedah bahu bertaraf internasional di masa datang.(her)











