INDOPOSCO.ID – Di tengah berbagai tantangan kesehatan yang masih membayangi desa-desa di Indonesia, peran perempuan muncul sebagai kekuatan yang sering kali luput disorot, namun sesungguhnya menjadi kunci perubahan.
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menegaskan bahwa perempuan memegang posisi strategis dalam menjaga sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat desa, terutama dalam menghadapi persoalan stunting, keterbatasan layanan kesehatan, hingga rendahnya literasi kesehatan di tingkat keluarga.
“Di sinilah peran perempuan menjadi sangat strategis. Dengan memberi ruang, akses, dan kesempatan yang setara, perempuan dapat menjadi penggerak utama dalam menciptakan masyarakat desa yang sehat dan sejahtera,” kata Kepala Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT Dicky Yosepial saat menjadi narasumber Webinar Lentera bertajuk “Pemberdayaan Perempuan dalam Upaya Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Desa” di Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Menurut Dicky, persoalan kesehatan di desa masih tergolong kompleks dan berlapis. Mulai dari akses layanan kesehatan yang terbatas, minimnya tenaga serta fasilitas medis, hingga masalah gizi kronis yang berdampak pada tingginya angka stunting.
“Prevalensi stunting nasional pada 2025 masih berada di kisaran 24 persen dan angkanya lebih tinggi di desa dibandingkan wilayah perkotaan,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan masih adanya desa yang belum menikmati akses air minum layak dan sanitasi yang memadai. Tak hanya itu, pemahaman keluarga tentang pola makan sehat, pentingnya imunisasi, serta kesehatan reproduksi juga masih tergolong rendah.
Situasi inilah yang, menurut Dicky, menuntut pendekatan pembangunan yang lebih inklusif dengan melibatkan perempuan sebagai aktor utama di tingkat akar rumput.
“Perempuan di desa adalah penggerak utama dalam keluarga, ekonomi lokal, dan kesehatan masyarakat. Mereka juga menjadi agen perubahan sosial di komunitasnya,” tuturnya.
Ia menambahkan, potensi perempuan desa sebenarnya sangat besar jika diberi ruang dan dukungan yang tepat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat lebih dari 49 persen penduduk desa merupakan perempuan, dengan sekitar 42 juta di antaranya berada pada usia produktif 20–49 tahun.
Angka tersebut, menurut Dicky, bukan sekadar statistik, melainkan modal sosial yang dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan kesehatan desa yang berkelanjutan. “Potensi tersebut, bernilai besar untuk mendukung pembangunan kesehatan di desa,” tambahnya. (her)










