INDOPOSCO.ID – Di tengah hiruk-pikuk ekonomi global yang terus berubah, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai negara yang mampu menjaga keseimbangan momentum pertumbuhan. Di saat banyak negara masih berjuang meredam guncangan eksternal, pemerintah justru melihat peluang besar untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menekankan bahwa kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian bukan alasan untuk menunda langkah besar Indonesia. Baginya, tantangan yang hadir, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga dinamika geopolitik, nustru membuka ruang untuk memperkuat fondasi ekonomi.
“Ini kesempatan kita urus rumah kita sendiri. Ini kesempatan kita urus rumah kita, melakukan transformasi ekonomi Indonesia,” tegas Suahasil dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Ia mengungkapkan bahwa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berhasil mempertahankan kombinasi stabil yang jarang ditemukan di banyak negara. Pertumbuhan ekonomi konsisten di kisaran 5 persen, sementara inflasi tetap terjaga di sekitar 2,5 persen.
“Itu bukan kombinasi yang mudah untuk diwujudkan, tapi Indonesia punya itu,” ucapnya.
Suahasil juga menyoroti keberhasilan APBN 2025 sebagai salah satu instrumen penting yang menjaga stabilitas makro sekaligus menjamin keberlanjutan fiskal. Konsolidasi pemerintahan baru, transisi birokrasi, hingga efisiensi anggaran sebesar Rp300 triliun dari total Rp3.600 triliun berjalan mulus dan tetap mampu mendukung pembiayaan program prioritas nasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa stabilitas saat ini hanyalah pijakan awal menuju visi jangka panjang Indonesia Emas 2045. Untuk melompat menjadi negara maju, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berada pada rentang 6–8 persen, sebagaimana dicapai banyak negara yang berhasil menembus status maju.
Kunci lompatan itu, menurutnya, berada pada sektor manufaktur bernilai tambah tinggi. Suahasil menekankan bahwa Indonesia harus mengembangkan produksi barang yang meningkatkan produktivitas nasional, bukan sekadar memenuhi konsumsi.
“Kita ingin manufaktur yang memproduksi barang produktif, bukan sekadar barang konsumsi, seperti mesin dan peralatan,” tegasnya.
Untuk menggerakkan ambisi pertumbuhan tinggi, pemerintah mengandalkan tiga mesin ekonomi Utama, yakni APBN sebagai instrumen fiskal, Danantara sebagai penggerak investasi strategis, serta peran industri keuangan. Sinergi ketiganya akan menjadi “Indonesian Way” dalam membangun iklim investasi dan usaha yang semakin dinamis.
Dengan arah kebijakan yang semakin jelas, optimisme bahwa Indonesia mampu menembus batas-batas baru perekonomian nasional kini terasa semakin nyata, sekaligus membuka babak baru perjalanan menuju negara maju. (her)









