INDOPOSCO.ID – Di tengah derasnya arus transformasi digital yang menuntut kecepatan dan relevansi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kembali menegaskan komitmennya sebagai motor penggerak inovasi nasional. Hal itu tampak dalam keikutsertaan Telkom pada webinar nasional bertema “Masa Depan Inovasi Indonesia: Dari Ide ke Dampak Nyata” yang digelar oleh BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Dewan Pendidikan Tinggi (DPT).
Acara yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, peneliti, hingga pelaku industri, menjadi ruang penting untuk memetakan arah inovasi Indonesia. Dalam forum tersebut, Direktur IT Digital Telkom Indonesia, Faizal Rochmad Djoemadi, tampil dengan pesan yang menohok, inovasi tidak boleh berhenti menjadi konsep atau sekadar proyek laboratorium.
Dalam presentasinya, Faizal memperkenalkan dua konsep kunci yang ia nilai harus berjalan seiring agar Indonesia dapat melompat lebih jauh dalam pengembangan teknologi. Ia menyebutnya sebagai hulunisasi dan hilirisasi.
“Hulunisasi, menurutnya, mencakup pembentukan talenta, riset terapan, dan literasi digital di tingkat akademik, sementara hilirisasi berfokus pada penerapan hasil inovasi ke berbagai sektor industri dan layanan publik,” ujar Faizal dalam keterangannya, Rabu (5/11/2025).
Pendekatan tersebut kini diterjemahkan Telkom ke dalam empat pilar strategis yang menjadi fondasi Telkom AI Center of Excellence (AI CoE). Pilar pertama, AI Campus, berfungsi sebagai mesin hulunisasi—tempat riset, pembelajaran, serta pemupukan talenta AI dilakukan secara sistematis.
“Tiga pilar lainnya berfungsi sebagai hilirisasi, yaitu AI Playground untuk uji coba cepat dan pengembangan prototipe, AI Connect untuk memperkuat jejaring kolaborasi antara kampus, komunitas, pemerintah, dan industri, serta AI Hub yang berfungsi sebagai pusat berbagi use case dan solusi AI yang siap diimplementasikan,” terangnya.
Tak berhenti di situ, Faizal menegaskan bahwa seluruh ekosistem AI CoE dibangun dengan mengadopsi pendekatan Pentahelix. Lima unsur—akademisi, media, pemerintah, komunitas, dan industri—didorong untuk bergerak dalam satu ritme agar inovasi bisa diuji, dikembangkan, lalu diterapkan secara berkelanjutan.
Menurut Faizal, proses inovasi sendiri tidak pernah final. “Tidak ada inovasi yang hasilnya sempurna, kita terus berkembang, melakukan improvement untuk mengikuti kebutuhan dan feedback dari pelanggan,” tambahnya.
Melalui penguatan AI CoE, Telkom menempatkan dirinya sebagai katalis yang menjembatani riset dan implementasi nyata. Kolaborasi lintas sektor yang semakin solid diyakini akan mempercepat kelahiran solusi berbasis AI yang bukan hanya canggih di atas kertas, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi produktivitas dan daya saing bangsa. (srv)










