• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Sahabat Baru

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Rabu, 1 Oktober 2025 - 08:00
in Disway
disway

disway

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Tiga hari di Syria saya dapat satu sahabat baru Belal. Nama lengkapnya Belal bin Mohamed Adnan Bader.

Saya mengenalnya di makan malam bersama. Di malam pertama saya di Syria. Di resto eksklusif bintang lima. Lantai atasnya full music “lagi ada tamu penting dari Saudi Arabia”.

BacaJuga:

Moral Pusbatara

Tekstil Danantara

Komunikasi Xi

Saya menduga tamu penting itu tak lain adalah si Butik yang dijemput konvoi lima mobil di tangga pesawat siang tadi.

Keesokan harinya saya diundang ke kantor perusahaan Belal. Kantornya sederhana. Di lantai empat gedung miliknya sendiri.

Selama kami bicara, telepon sering berdering dan ia selalu mengangkatnya. Sesekali tamu nyelonong masuk, bicara sebentar dengannya, lalu berganti tamu lainnya.

Perusahaannya banyak. Di berbagai bidang usaha. Dagang. Jasa. Industri. Saya puji Belal “Anda hebat sekali”.

“Ana ummi….” jawabnya merendah.

“Ana aidzon,” jawab saya.

Belal model pengusaha yang merangkak dari bawah. Ia tidak tamat universitas. Bahkan tidak tamat SMA. Begitu rendah latar belakang pendidikannya sampai ia menyebut dirinya “saya buta huruf”. Maka saya jawab “saya juga buta huruf”.

Belal punya anak tiga orang. Yang sulung baru saja tamat MBA di Jerman. Masih bujang. Sang anak diserahi memimpin perusahaannya yang di Jerman.

Belal ingin generasi anaknya lebih maju dan modern. Tidak lagi mulai bisnis dari nol seperti dirinya. Belal tipe pengusaha perintis. Karena itu, meski perusahaannya sudah besar kantornya tetap sederhana.

Sebenarnya Belal ingin terus bergerak ke hulu. Ia mulai membangun pabrik kimia dasar yang sangat besar. Saya diajak melihat pabrik itu. Sedikit di luar kota Damaskus. Ia naik sedan Mercy warna hitam. Saya membuntuti di belakangnya.

Dari luar pabrik itu kelihatan sangat besar dan canggih. Pabrik benzene. Menggunakan teknologi dari Amerika. benzene akan menjadi bahan baku ratusan jenis kimia olahan. Salah satu dari ratusan itu adalah tekstil sintetis.

Berarti Belal membangun pabrik bahan baku. Perkirakan saya pabrik ini telah menghabiskan uang Rp 5 triliun. “Tidak pakai kredit bank,” kata Belal.

Setelah meninjau sampai dalamnya barulah saya tertegun: ada bagian pabrik ini yang hancur. Akibat perang. Lalu beberapa bagian kecilnya tapi vital dijarah orang. Puluhan pompa raib dari tempatnya. Salah satu tangki besarnya kena bom. Atapnya melayang dan terlihat hinggap di bagian lain pabrik itu.

Pabrik ini telah selesai dibangun. Ketika sudah siap-siap berproduksi pecahlah perang. Investasi yang begitu besar tidak bisa menghasilkan benzene. Selama perang Belal tidak bisa melihat pabriknya. Banyak onderdil yang dicuri orang. Termasuk kabel-kabelnya.

“Saya serasa ingin menangis melihat investasi sebesar ini mangkrak karena perang,” kata saya sambil mengelus dada. Saya ingat nasib diri sendiri: melakukan investasi besar, begitu mau selesai, mangkrak dua tahun karena Covid.

“Tidak apa-apa. Saya kuat menghadapi musibah ini,” ujar Belal.

Belal melihat dirinya masih tergolong beruntung. Ia masih bisa hidup. Masih sehat. Anak-anaknya tumbuh seperti yang ia inginkan. Belal masih pula bisa menyantuni semua anak yatim di kampung halamannya. Memberi makan mereka yang miskin. Di Syria kini terdapat 70.000 anak yatim. Belal banyak membantu biaya sekolah mereka.

Kini Syria sudah damai. Belal harus memperbaiki pabriknya. Mungkin diperlukan setengah triliun rupiah lagi untuk bisa sampai memproduksi benzene.

Saya kagum pada Belal. Usahanya tetap bisa berkembang di masa pemerintahan lama. Juga bisa bertahan di masa perang. Dan kini melaju cepat di masa damai setelah perang.

Dari pabrik benzene saya diajak ke pabrik alat-alat listrik. Tapi waktu sudah sore. Mobil berbelok ke arah lain. Kami belum sempat makan siang. Saya diajak makan siang di rumahnya.

Saya pun terperangah. Ini bukan rumah. Ini istana!

Luasnya hampir satu hektare. Pagar sekelilingnya adalah pohon tinggi berjajar rapat. Rindang. Indah. Teduh. Bebungaan di bawah pohonnya menambah keasriannya.

Bangunan rumah itu sendiri sangat besar. Tiga lantai. Di depannya ada kolam renang seukuran Olimpiade. Airnya jernih menggoda. Tergelar taman dan rumput di sekeliling kolam. Juga pohon-pohon hias. Di sebelah kolam masih terhampar halaman hijau. Rumputnya terawat rapi sekali. Banyak tanaman pohon kurma berjajar rapi.

Di sebelah kebun kurma itu ada lapangan bola mini. Rumputnya sintetis. Gawangnya berukuran setengah gawang normal. Saya bermain bola di situ dengan bungsu Belal yang baru berumur 11 tahun.

Di pojok sebelah lapangan ada bangunan indah: dapur. Ada kompor listrik. Ada pemanggang listrik. Ada tungku tradisional yang untuk membuat roti Arab. Masih ada satu tungku tradisional lagi: yang bikin rotinya dengan cara menempelkan roti di dinding-dinding dalam tungku itu.

Hari kian sore. Pegawai rumah itu memasang meja makan di halaman rumput di sela-sela pohon kurma. Pegawai lain menggelar karpet di atas rumput dekat kolam renang. Kami pun berwudlu: siap-siap salat berjamaah di sela-sela pohon kurma. Itu sudah waktu ashar. Gus Najih dan saya sekalian salat gabungan jama’ ta’khir duhur dan asar.

Selesai salat, makan siang belum siap. Meja masih kosong. Saya diajak Belal masuk gedung rumahnya. Bukan di bagian rumah tangganya, tapi diajak naik lift ke lantai tiga. Di lantai paling atas itu lagi dilakukan finishing. Keseluruhan rumah ini memang baru. Selesai dibangun tiga tahun lalu. Bahkan belum selesai sepenuhnya: lantai tiganya sedang diselesaikan bagian dalamnya.

Matahari kian petang. Makanan di meja pun tersaji. Luar biasa banyaknya –dan lezatnya. Anak sulung yang di Jerman ikut bergabung makan. “Ia baru saja tiba dari Jerman,” ujar Belal memperkenalkan si sulung.

Makan siang pun dimulai ketika magrib tidak lama lagi tiba. Saat kami berpamitan Belal minta agar kami terus berhubungan sebagai sahabat.

Sudah banyak negara saya kunjungi. Belum tentu saya dapat satu teman di satu kunjungan. Syria ternyata beda. Sekali datang satu sahabat terbentang. (Dahlan Iskan)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Moral Pusbatara

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00
Disway

Tekstil Danantara

Rabu, 30 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Komunikasi Xi

Selasa, 29 September 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Kikin

Senin, 28 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Durian Jonathan

Minggu, 27 September 2026 - 08:00
Debat Muktamar
Disway

Debat Muktamar

Sabtu, 26 September 2026 - 07:43

OLAHRAGA

Indonesia Tembus Final FIFA ASEAN Cup, Justin Hubner Bungkam Sindiran Suporter Malaysia
Olahraga

Indonesia Tembus Final FIFA ASEAN Cup, Justin Hubner Bungkam Sindiran Suporter Malaysia

Editor Nelly Marinda Situmorang
Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:38

INDOPOSCO.ID - Bek Timnas Indonesia Justin Hubner memberikan sindiran tajam kepada suporter Timnas Malaysia seusai membawa skuad Garuda melangkah ke...

SelengkapnyaDetails
MotoGP Mandalika 2026, Pertamina Siagakan 7 SPBU dan 10 Extra Flight

MotoGP Mandalika 2026, Pertamina Siagakan 7 SPBU dan 10 Extra Flight

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:28
Menang Dramatis Usai ‘Diteror’ Malaysia, Garuda Segel Tiket Final FIFA ASEAN Cup!

Menang Dramatis Usai ‘Diteror’ Malaysia, Garuda Segel Tiket Final FIFA ASEAN Cup!

Jumat, 2 Oktober 2026 - 08:36
Libas Bangladesh 9-2, Indonesia Ungguli Malaysia dan Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup

Libas Bangladesh 9-2, Indonesia Ungguli Malaysia dan Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:07
Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan

Susunan Pemain Indonesia vs Bangladesh: Rizky Ridho Starter, Maarten Paes Cadangan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:58

BERITA POPULER

  • puan

    Kembali Raih Emas Asian Games 2026, Ketua DPR Dorong Penghargaan Bagi Atlet Secara Utuh

    3894 shares
    Share 1558 Tweet 974
  • Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    3921 shares
    Share 1568 Tweet 980
  • Lolos Seleksi Barca Academy, Pesepak Bola Muda Bekasi Terbang ke Spanyol

    1135 shares
    Share 454 Tweet 284
  • Kanwil BPN Banten Serahkan Sertifikat BMN dan BMD Senilai Rp 1,4 Triliun di Momentum Hantaru 2026

    832 shares
    Share 333 Tweet 208
  • Dorong Ekonomi dan Pariwisata, Pengusaha Muda Boyolali Dirikan PO Sa’roni Trans

    802 shares
    Share 321 Tweet 201
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.