INDOPOSCO.ID – Kasoem Group melalui brand Kasoem Vision Care dan Kasoem Hearing Center hadir di Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng) sebagai solusi untuk menangani masalah gangguan pendengaran dan penglihatan.
“Saya berharap dengan hadirnya Kasoem Group di sini bisa menjadi salah satu rujukan bagi dokter mata dan dokter THT, termasuk juga untuk masyarakat Solo dan sekitarnya dalam membantu mengatasi masalah gangguan penglihatan dan pendengaran,” kata Deputy CEO Kasoem Group, Trista Mutia Kasoem kepada media melalui keterangan tertulis, Minggu (12/12/2021).
Menurutnya, ketatnya standar pemeriksaan dan relatif canggihnya peralatan yang dipakai Kasoem Vision Care dan Kasoem Hearing Center dalam menganalisa gangguan penglihatan dan pendengaran ini, tentu menjadi poin utama yang layak dipertimbangkan oleh para tenaga medis.
Pada Kasoem Vision Care, pengunjung bisa memeriksakan mata lengkap seperti pemeriksaan lapang pandang, kontra sensitivitas, binokuler, strabismus, buta warna, serta screening low vision dan pemeriksaan lensa kontak Rigid Gas Permeable (RGP).
Sedangkan Kasoem Hearing Center adalah one stop solution untuk masalah gangguan pendengaran yang dialami oleh anak-anak maupun dewasa dan orang tua. Pemeriksaan ini termasuk pemberian solusi alat bantu dengar yang tepat hingga tersedia rehabilitasi AVT untuk anak-anak.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial Kasoem kepada masyarakat, dilakukan pemeriksaan dan pemberian kacamata gratis bagi 100 pengemudi ojek online. Selain itu, sebanyak 10 alat bantu dengar juga disumbangkan kepada komunitas DFSR (Deaf Family Solo Raya).
“Kami berharap ke depan Kasoem Group bisa menjadi partner dalam memberikan solusi terbaik untuk masalah pendengaran dan penglihatan di Solo dan sekitarnya,” tutur Trista.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, gangguan pendengaran dan penglihatan memiliki dampak serius ke penderitanya. Disebutkan sekitar 4,6 persen dari total populasi penduduk Indonesia memakai kacamata refraksi atau kacamata minus dan saat ini sekitar 10 persen dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun) mengalami gangguan mata akibat kelainan refraksi.
Sedangkan menurut WHO, diperkirakan 1 dari 4 orang di dunia bisa mengalami gangguan pendengaran pada tahun 2050. Pernyataan ini disampaikan WHO di laman resminya pada 2 Maret 2021. Dalam lampiran itu disebutkan pada tahun 2050 diperkirakan 2,5 miliar orang berpotensi memiliki gangguan pendengaran dengan tingkat tertentu dan 700 juta dari jumlah itu akan membutuhkan bantuan alat pendengaran dan layanan rehabilitasi.
“Gangguan pendengaran memiliki dampak serius, khususnya kepada anak-anak. Karena jika terlambat diatasi dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan bicara, komunikasi dan pemahaman bahasa. Ini tentu akan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial anak tersebut nantinya,” ujar Ketua PERHATI Solo Raya, dr. Putu Wijaya, Sp.T.H.T K.L,FICS. (ibs)











