• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Internasional

Pemimpin G7 akan Satu Suara Soal Taliban

Redaksi Editor Redaksi
Selasa, 24 Agustus 2021 - 14:11
in Internasional
indoposco

Anggota Pasukan Inggris dari 16 Brigade Serangan Udara tiba di Kabul, Afghanistan, untuk memberikan bantuan bagi para warga Inggris yang ingin meninggalkan negara itu, sebagai bagian dari Operasi PITTING setelah gerilyawan Taliban menguasai istana presiden di Kabul, Minggu (15/8/2021). (ANTARA/Reuters)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Para pemimpin negara ekonomi maju G7 akan berjanji bersatu untuk menentukan secara resmi untuk mengakui ataupun memberikan sanksi kepada Taliban, menurut 2 sumber diplomatik. Janji itu diperkirakan akan ditetapkan saat para pemimpin G7 bertemu secara virtual untuk membahas Afghanistan, Selasa (24/8/2021).

“Para pemimpin G7 akan sepakat untuk berkoordinasi mengenai apakah akan atau kapan mengakui Taliban. Serta pemimpin negara-negara G7 akan berkomitmen untuk terus bekerja sama secara erat,” tutur seorang diplomat Eropa seperti dikutip Antara, Selasa (24/8/2021).

BacaJuga:

Buka Akses Pasar Lebih Luas, Art Toys Indonesia Incar Pasar Korea Selatan

IRGC Tegaskan Selat Hormuz Baru Dibuka jika AS Penuhi Syarat Iran

Klaim Sepakat dengan Iran, Trump Batal Lancarkan Serangan

Para sekutu Amerika Serikat masih kesal sebab Washington tidak segera berkomunikasi setelah Kabul jatuh ke tangan Taliban pada 15 Agustus. Para diplomat asing di Washington menjelaskan kerja sama hendak menjadi tema utama dari pembahasan dalam pertemuan virtual tersebut.

Pengambilalihan kekuasaan secepat kilat oleh Taliban atas Afghanistan pada Agustus membuat para pemerintah asing berebut serta memicu eksodus massal orang-orang yang panik dari negara itu. Pengambilalihan cepat oleh Taliban itu terjadi setelah pasukan AS mulai mundur serta Presiden Ashraf Ghani melarikan diri.

Para pemimpin G7, yakni Amerika Serikat, Inggris, Italia, Prancis, Jerman, Kanada, serta Jepang, kemungkinan secara terpadu akan memberikan pengakuan atau menjatuhkan sanksi baru, untuk mendorong Taliban mematuhi janji untuk menghormati hak-hak perempuan serta hubungan internasional.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan menekankan pendekatan terpadu selama pembicaraan G7, yang juga akan menyertakan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jen Stoltenberg serta Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, tutur Duta Besar Inggris untuk AS Karen Pierce.

“Kami ingin memulai proses pengembangan rencana yang jelas, sehingga kami semua bisa mengatasi rezim baru Afghanistan dengan cara yang terpadu serta terencana bersama. Kita akan menilai rezim baru (Afghanistan) berdasarkan tindakan, bukan kata-kata,” tutur Pierce.

Pengakuan adalah suatu tindakan politik yang diambil oleh negara-negara berdaulat dengan konsekuensi penting, termasuk membolehkan Taliban mendapat bantuan asing seperti yang diandalkan oleh pemerintah Afghanistan sebelumnya.

Perjanjian 2020, yang ditandatangani oleh pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, secara eksplisit menyatakan kalau kelompok Taliban “tidak diakui oleh Amerika Serikat sebagai sebuah pemerintahan.

“Pengakuan ini adalah salah satu sisa pengaruh terpenting yang masih kita punya,” tutur Annie Pforzheimer, pensiunan diplomat AS yang dari 2017 hingga 2018 menjabat sebagai wakil kepala misi di kedutaan AS di Kabul.

Pengakuan akan ” jauh lebih kuat” apabila dikoordinasikan dengan baik serta memastikan kalau pemerintah baru bersifat inklusif dan mengakui komitmen hak asasi manusia Afghanistan, tuturnya.

Para pemimpin G7 juga akan membahas kemungkinan perpanjangan batas waktu penarikan pasukan AS oleh pemerintahan Biden hingga 31 Agustus. Tenggat itu memberi Amerika Serikat serta negara-negara lain lebih banyak waktu untuk menemukan serta mengevakuasi para warga negara Barat, warga Afghanistan yang membantu pasukan NATO serta AS, dan orang-orang lainnya yang menghadapi risiko.

Inggris serta Prancis mendesak untuk mendapatkan tambahan waktu. Namun, seorang pejabat Taliban menyatakan pasukan asing tidak meminta perpanjangan waktu serta perpanjangan tidak akan diberikan meski mereka memintanya, tutur beberapa sumber.

Para pemimpin G7 juga akan berkomitmen untuk mengkoordinasikan sanksi serta pemukiman kembali gelombang pengungsi, tutur sumber tersebut.

Menurut Pierce, G7 akan mempertimbangkan upaya evakuasi saat ini serta berkomitmen untuk berkoordinasi erat pada langkah-langkah lebih lanjut, termasuk keamanan, bantuan kemanusiaan, serta pemukiman kembali pengungsi.

“Kita ingin bekerja sama untuk menyampaikan poin yang sangat penting kalau kami tidak ingin Afghanistan menjadi tempat berkembangbiaknya terorisme. Kami tidak mau itu terjerumus ke dalam keadaan sebelum peristiwa 9/11 (11 September),” tuturnya.

Jerman akan menekan mitra G7 agar memberikan dana tambahan untuk bantuan kemanusiaan, tutur Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada Senin( 23/8). “Menurut saya, negara-negara G7 harus memenuhi tanggung jawab mereka serta menemukan cara untuk mengurangi kesulitan kemanusiaan akut yang sudah lazim di area itu serta yang akan meningkat selama beberapa minggu mendatang,” ucap Maas.

Pada Minggu( 22/ 8), Biden menjelaskan kepada reporter kalau Amerika Serikat sudah berkomunikasi dengan Taliban untuk memfasilitasi evakuasi, namun kelompok itu” meminta legitimasi” dalam jangka panjang.

Permintaan itu berarti Taliban akan membutuhkan “bantuan tambahan dalam hal bantuan ekonomi, perdagangan, serta berbagai macam hal”. Namun, tanggapan internasional termasuk kemungkinan penjatuhan sanksi akan bergantung pada tindakan Taliban ke depan di Afghanistan. (mg2/wib)

Tags: afghanistanKelompok G7Taliban

Berita Terkait.

toys
Internasional

Buka Akses Pasar Lebih Luas, Art Toys Indonesia Incar Pasar Korea Selatan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 20:02
IRGC Tegaskan Selat Hormuz Baru Dibuka jika AS Penuhi Syarat Iran
Internasional

IRGC Tegaskan Selat Hormuz Baru Dibuka jika AS Penuhi Syarat Iran

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:30
Trump
Internasional

Klaim Sepakat dengan Iran, Trump Batal Lancarkan Serangan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:50
Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Kemlu Minta WNI Tetap Waspada
Internasional

Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Kemlu Minta WNI Tetap Waspada

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:19
Terima Kunjungan Dubes Palestina, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf Sampaikan Putusan MMS Tentang Dukungan Palestina
Internasional

Terima Kunjungan Dubes Palestina, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf Sampaikan Putusan MMS Tentang Dukungan Palestina

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:15
SB
Internasional

Swiss-Belhotel International Perluas Portofolio di Bali dengan Soft Opening Resor Ashva Swiss-belresort Ubud

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:25

BERITA POPULER

  • Erick-Thohir

    PSSI Ubah Haluan Piala Presiden, Turnamen Kini Diproyeksikan untuk Timnas

    2463 shares
    Share 985 Tweet 616
  • Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    2196 shares
    Share 878 Tweet 549
  • Erick Thohir Angkat Suara Soal John Herdman Usai Indonesia Dibekuk Vietnam

    1995 shares
    Share 798 Tweet 499
  • Bea Cukai Tanjung Priok Gagalkan Penyelundupan Motor Harley-Davidson Bekas Asal Tiongkok

    1379 shares
    Share 552 Tweet 345
  • Honda Scoopy Modifikasi Jadi Magnet di Jakarta Sneakers Day 2026, Booth Honda Sedot Ratusan Pengunjung

    1279 shares
    Share 512 Tweet 320
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.