• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Gereja At Thohir

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Kamis, 8 Juli 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Ternyata tidak ada motif rivalitas agama ketika ada gereja berubah menjadi masjid. Di Amerika Serikat (AS). Pun yang berubah menjadi wihara.

BacaJuga:

Dominasi Suasana

Datuk Merdeka

Tepat Waktu

“Dengan membeli gereja, kami tidak perlu lagi mengurus izin peruntukan bangunan,” ujar Dwirana Satyavat, ketua Masjid At Thohir di Los Angeles, AS.

Di sana tidak dibedakan, izin bangunan untuk masjid, gereja, wihara, atau sinagoge. Kalau dalam izin sudah disebut untuk rumah ibadah keagamaan, tidak perlu menyebut untuk agama apa.

Masjid At Thohir itu –atau calon masjid itu– kini lagi direnovasi. Khususnya bagian dalamnya. Sekalian memanfaatkan waktu libur/tutup selama Pandemi Covid.

Bagian luar bangunan lama itu dibiarkan tetap sama. Seperti ciri khas gereja. Hanya tanda salibnya yang ditiadakan. Selebihnya tidak diadakan perubahan apa pun. Gedung itu memang masuk cagar budaya. Dianggap gedung bersejarah. Harus dilestarikan.

Gereja itu dibangun pada 1920. Milik masyarakat Amerika keturunan Samoa. Komunitas imigran Samoa banyak meninggalkan wilayah tersebut. Imigran baru datang lebih banyak. Terutama dari Asia. Lalu, gereja itu kosong. Lama sekali. Dijual. Lama juga tidak ada yang membeli.

Tiga tahun lalu, masyarakat Islam Los Angeles ingin membelinya. Mereka berasal dari Indonesia. Mereka menerima bantuan dari pengusaha Indonesia yang dulu kuliah di Los Angeles (LA): Boy Thohir. Ia memperoleh gelar MBA dari Northrop University. Sepulang dari Amerika, Boy menjadi bos besar Grup Adaro. PT Adaro adalah produsen batu bara terbesar keempat di dunia. Kakak Menteri BUMN Erick Thohir.

Karena itu, masjid baru tersebut diberi nama At Thohir. Artinya: suci. Boy Thohir juga yang membantu biaya pelaksanaan renovasi bagian dalamnya. “Kalau dalamnya boleh diubah total,” ujar Avat, nama panggilan Dwirana Satyavat.

Meski sering ke Los Angeles, saya tidak tahu semua itu. Saya baru tahu pekan lalu. Tidak sengaja. Saya lagi menelepon Boy Thohir. Tidak diangkat. Lalu, saya WA. Tidak segera dijawab. Tumben.

Ternyata ia lagi di Los Angeles. Saat saya telepon itu, ternyata sedang tengah malam di sana. “Ini lagi lihat pembangunan masjid,” kata Boy Thohir sembilan jam kemudian.

“Masjid apa?” tanya saya.

“Sejak saya kuliah di sini kan kita tidak punya masjid. Kasihan orang-orang Indonesia di Los Angeles,” katanya.

Luas tanah yang dibeli itu 8.346 m2. Ada dua bangunan di situ: gereja dan bangunan rumah dua lantai. Sudah lama sekali kosong. Lokasi masjid itu, tepatnya, di Korean Town, sekitar dua km dari Konsulat RI di Los Angeles.

Perubahan interior gereja itu cukup besar. Plafonnya dibuat seolah ada dome di atas sana. Padahal, itu hanya desain di interiornya. Perancang interior itu adalah Tariq Abelhadi Architect.

Avat lahir di Surabaya, Jawa Timur, 62 tahun lalu. Ia besar di Jakarta. Pendidikannya di SMP Katolik Kanisius, Jakarta. SMA-nya di Pangudi Luhur. Lalu, kuliah di Akademi Sekretaris dan Manajerial di Fakultas Komputer.

Ayahnya berpangkat Laksamana Madya TNI-AL atau bintang tiga. Campuran Makassar-Jawa. Sudah almarhum. “Pernah menjabat Pangkowilhan (Panglima Komando Wilayah Pertahanan),” ujar Avat.

Pada 1982, Avat ke Los Angeles. Ia melanjutkan kuliah sampai mendapat Associate of Arts Degree (AA) dari Pasadena City College. Bachelor of Science Degree (BS) dari California State University, Los Angeles. Dan Master of Business Administration Degree (MBA) dari West Coast University.

Di AS, ia bekerja antara lain di UCLA Health System. Di Bagian Keuangan. Begitu lama Avat menetap di Amerika. Ia pun kini sudah sepenuhnya menjadi warga negara Amerika. Demikian juga istrinya yang dari Jakarta. Dan dua anaknya.

Sebelum menjadi ketua Masjid At Thohir, Avat sudah lama aktif di berbagai kegiatan masyarakat. Karena itu, ia berhubungan baik dengan tokoh Tionghoa asal Indonesia di Los Angeles. Ia bersahabat dengan drg Irawan, putra pejuang kemerdekaan, yang menerbitkan media cetak Indonesia Media.

Juga, berteman dengan youtuber asal Biak di sana: Butce. Keduanya juga sudah menjadi warga negara Amerika. Sekarang Avat menjadi Ketua Indonesia Muslim Foundation (Imfo). Organisasi itu sudah terdaftar di US Federal dan California State. Avat juga menjabat Ketua Indonesian Diaspora Network of Southern California (IDN SoCal).

Tidak sulit mencari gereja yang dijual di Amerika. Umumnya gereja lama. Di California saja pernah diiklankan 82 gereja yang dijual. Lihatlah harga di iklan itu.

Apalagi di wilayah yang banyak ditinggalkan imigran generasi pertama. Misalnya, di Buffalo, di utara New York. Dekat air terjun Niagara. Di situ ada dua yang sudah berubah menjadi masjid. Lalu, satu lagi menjadi wihara Buddha.

Imigran yang datang ke wilayah itu umumnya dari Norwegia dan sekitarnya. Itu pada 1800-an. Mereka membangun perkampungan sekaligus rumah ibadah. Sejak 1970-an kian banyak yang meninggalkan Buffalo. Keturunan imigran itu pindah ke daerah yang ekonominya lebih berkembang.

Harga properti di situ pun turun. Imigran dari Asia datang. Dengan berbagai agama mereka. Mengalir pula ke daerah itu penduduk kulit hitam dari wilayah selatan. Yang punya gereja sendiri –atau pilih tidak ke gereja yang sudah ada.

Di Amerika kelembagaan pemilik aset gereja juga sangat privat. Amerika sangat melindungi wilayah privat. Termasuk pun kalau pemilik gereja itu mau menjualnya. Tentu banyak juga yang karena orang modern di Amerika tidak rajin lagi ke gereja.

Kekhawatiran menjadi seperti itulah sebagian sinode di Indonesia mulai mengurus kepemilikan aset gereja menjadi aset sinode. Agar tidak lagi menjadi aset pribadi.

Di lingkungan NU (Nahdlatul Ulama), aset lembaga pendidikan juga banyak dimiliki pribadi kiai NU. Bukan dimiliki NU. Tapi, sulit membayangkan ada kiai NU yang menjual aset untuk mal atau gereja. Sedangkan di lingkungan Muhammadiyah, semua aset lembaga pendidikan dan rumah sakit resmi milik organisasi Muhammadiyah.

Meski banyak gereja yang dijual di Amerika, banyak juga gereja baru. Yang arsitekturnya juga baru. Tidak sama lagi dengan gereja zaman dulu. Lihatlah foto arsitektur gereja modern itu. Lalu, bandingkan dengan masjid baru di Los Angeles yang asalnya gereja. Zaman berubah. Pun di arsitektur tempat ibadah: masjid maupun gereja. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Dominasi Suasana

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Datuk Merdeka

Senin, 17 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Tepat Waktu

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Zhu Rongji

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Sutrimo Winda

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Deleg Deleg

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • antam

    Harga Emas Pekan Depan Bakal Berayun, Selisih Proyeksi Capai Rp300 Ribu

    3248 shares
    Share 1299 Tweet 812
  • METOO Dorong Kesadaran Kesehatan Mulut Lewat Inovasi Perfume Toothpaste

    925 shares
    Share 370 Tweet 231
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3873 shares
    Share 1549 Tweet 968
  • Bea Cukai Yogyakarta Awasi Pemusnahan Rokok HM Sampoerna, Pastikan Sesuai Ketentuan

    880 shares
    Share 352 Tweet 220
  • Restrukturisasi Subholding Upstream, SP PDSI Minta PDSI Diperkuat Jadi National Drilling Champion

    874 shares
    Share 350 Tweet 219
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.