• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Kisah Perawat Jalani Idulfitri di Rumah Sakit

Redaksi Editor Redaksi
Jumat, 14 Mei 2021 - 11:51
in Nasional
Restu Wijayanti (39) saat bertugas merawat pasien bayi di ruang ICU salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Bandung, Jawa Barat, yang bertepatan dengan hari libur Idul Fitri 1442 hijriah, Kamis (13/5/2021). Foto: Antara/HO

Restu Wijayanti (39) saat bertugas merawat pasien bayi di ruang ICU salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Bandung, Jawa Barat, yang bertepatan dengan hari libur Idul Fitri 1442 hijriah, Kamis (13/5/2021). Foto: Antara/HO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Kamis (13/5/2021), Restu Wijayanti (39) kembali melalui separuh harinya merawat pasien bayi di rumah sakit saat sebagian besar masyarakat merayakan libur Idulfitri 1442 hijriah/2021 masehi.

Terlibat dalam kerja tim bersama 22 rekan kerja di Unit Pelayanan Intensif (ICU) perawatan bayi menuntut ibu dari dua anak itu perlu bekerja ekstra meladeni setiap pasien yang datang silih berganti dalam kondisi kritis.

BacaJuga:

Akreditasi Unggul LAM Teknik, Teknik Elektro Untar Perkuat Mutu Pendidikan dan Inovasi

Wamendagri Ribka: Indonesia Timur Punya Peran Penting Wujudkan Indonesia Emas 2045

Wamendiktisaintek Fauzan: Talenta Muda Jangan Cuma Jadi Penonton Bioenergi

Semua pasien di ruang ICU sudah tentu membutuh perhatian lebih dari para perawat yang saat itu bertugas. Misalnya, penyediaan alat bantu pernapasan, kontrol kesehatan, konsultasi orang tua hingga penanganan situasi kegawatdaruratan yang ditangani bersama dokter piket.

Dalam situasi ideal, kata Restu, seharusnya seorang pasien di ruang ICU membutuhkan dua petugas perawat. Namun berbeda dengan pelayanan di ruang bayi, biasanya tiga pasien hanya ditangani oleh satu perawat.

Dari total sembilan pemanfaatan tempat tidur atau ‘Bed Occupancy Ratio’ di ruang kerja Restu, boleh dibilang hampir jarang sekali kosong. Bahkan, fasilitas perawatan pasien bayi pada rumah sakit rujukan nasional itu kerap menjadi rebutan antarkeluarga pasien.

Saat libur Idulfitri, aktivitas di rumah sakit cenderung lebih sepi dari kehadiran keluarga pasien yang datang menjenguk di ruang tunggu. Sebab sebagian mereka memilih untuk bersilaturahim ke tempat sanak saudara. Namun situasi itu tidak sedikitpun mengurangi kesibukan Restu melayani pasien bayi.

“Kadang, duduk kalau cuma pas shalat saat duduk tahiyat aja. Karena kerja di ICU bayi itu beda sama di ruang perawatan umum yang pasiennya bisa saja pulang. Tapi kalau di ICU bayi, pasti pasiennya selalu berdatangan,” katanya seperti dilansir Antara.

Tidak jarang panggilan tugas diemban warga asal Cimahi itu saat mayoritas tetangganya sedang tertidur lelap di malam hari atau saat sibuk mempersiapkan agenda perayaan hari libur keluarga di “tanggal merah”.

Dalam setahun, kata Restu, hanya dua perawat yang diizinkan mendapat hak cuti merayakan Idulfitri di tengah keluarga. Artinya, baru di tahun ke-11 Restu bisa hadir secara penuh di tengah keluarga untuk merayakan Idul Fitri.

Selama 16 tahun berkarir sebagai perawat, baru dua kali ia merasakan pengalaman menikmati waktu luang libur Idulfitri. Itu pun kebetulan bertepatan dengan hari kelahiran kedua anaknya, sehingga bisa mengambil cuti kerja.

Biasanya, sepi dan perasaan sedih kerap dirasakan Restu saat harus bekerja di tengah kumandang takbir saat malam menjelang Idulfitri. “Yang sedihnya, saya kalau malam takbiran. Sedihnya paling mantap pokoknya. Takbiran di rumah sakit itu yang paling berat,” katanya.

Keluarga

Pada Idulfitri hari pertama, perempuan berhijab yang karib disapa Teh Ines itu mendapat jadwal siaga di rumah sakit pukul 14.00 hingga 21.00 WIB, sehingga ada kesempatan untuk menunaikan Shalat Id bersama keluarga.

Tujuh jam waktu yang ia miliki sebelum waktu kerja pun dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk beribadah bersama keluarga, termasuk bersilaturahim ke kediaman orang tua.

“Karena sudah terbiasa dinas saat malam takbiran, kalau dinas siang di hari raya itu rasanya seperti dapat anugerah gitu, karena ada waktu untuk shalat Id dan langsung menemui orang tua,” katanya.

Idulfitri pun terasa lengkap dengan kehadiran suami yang juga berprofesi perawat serta dua anaknya yang berusia pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Baru kali ini mereka bisa saling berinteraksi bersama setelah pada 2020, sang suami harus bertugas hampir sepanjang tahun sebagai tenaga kesehatan yang menangani pasien di ruang isolasi Covid-19.

Meski telah memperoleh vaksin Covid-19 dosis pertama pada 14 Januari 2021, nyatanya Restu pernah terinfeksi virus SARS-CoV-2 selama hampir sebulan sejak 20 Januari sampai 17 Februari 2021.

Semua keluarga pun mengikuti anjuran swab test, “Alhamdulillah semua negatif. Isoman masih satu rumah, selama berminggu-minggu tidak ada kontak. Paling dibantu kalau sedang butuh makan disimpan di depan pintu kamar. Anak-anak bantu support saya sembuh,” kenang Restu.

Keterbatasan waktu yang dimiliki orang tua seakan membuat kedua anak Restu mulai terbiasa dengan situasi itu.

“Kalau anak-anak sepertinya sudah paham sekarang. Kalau waktu mereka kecil, saya yang sering nangis karena sedih harus meninggalkan mereka. Sekarang mereka sudah mengerti dan tidak protes lagi. Karena sudah biasa juga,” katanya.

Insentif

Restu pernah sampai pada titik jenuh akan rutinitasnya di rumah sakit. Sebab bekerja sebagai seorang perawat nyatanya bukanlah profesi yang dia cita-citakan sejak kecil. “Kadang terbersit, sampai kapan harus dinas malam. Kok enak orang lain bisa libur,” katanya.

Penghargaan dalam bentuk pemberian insentif pun nyatanya belum sebanding dengan pengorbanan serta perjuangan yang dia jalani bersama keluarga. Insentif yang dia terima kali ini berupa gaji pokok di luar tunjangan. Nominalnya disebut berkurang hampir separuhnya dari situasi sebelum pandemi.

Bekerja sebagai perawat di rumah sakit, kata Restu, adalah profesi prioritas kedua setelah dokter. Bahkan tidak jarang seorang perawat dituntut berkemampuan multitalenta untuk membantu tanggung jawab dokter maupun profesi lain tenaga medis.

“Perawat ini profesi yang sedang berjuang selama pandemi. Kita masih ada dalam perjuangan itu, kalau bicara penghargaan di daerah-daerah itu sedih rasanya. Sekolah perawat juga kan mahal,” katanya.

Sebetulnya masih banyak pilihan yang bisa dijalani Restu selain berkiprah di rumah sakit. Salah satunya menjadi perawat mandiri di bidang ‘homecare’ pada perawatan bayi dan balita, kelompok lanjut usia dan sebagainya.

Namun profesi itu dianggap Rasti belum terlalu menjanjikan dari segi pendapatan, sebab belum banyak dibutuhkan orang. “Tapi sepertinya tetap di rumah sakit aja dulu. Kalau ‘homecare’ kan harus ada terus di rumah orang. Ada yang minta harus kita didampingi, semuanya bagaimana permintaan pasien,” katanya.

Profesi sebagai perawat nyatanya perlu banyak pengorbanan. Sikap patuh pada protokol kesehatan serta anjuran pemerintah, diharapkan bisa meringankan beban para parawat di rumah sakit. (bro)

Tags: IdulfitriKisah Perawatlebaran

Berita Terkait.

untar
Nasional

Akreditasi Unggul LAM Teknik, Teknik Elektro Untar Perkuat Mutu Pendidikan dan Inovasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:02
ribka
Nasional

Wamendagri Ribka: Indonesia Timur Punya Peran Penting Wujudkan Indonesia Emas 2045

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:29
fauzan
Nasional

Wamendiktisaintek Fauzan: Talenta Muda Jangan Cuma Jadi Penonton Bioenergi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:09
wiyagus
Nasional

Wamendagri Wiyagus Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Eliminasi TB di Sumsel

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 16:18
Tanda-Tangan
Nasional

PMEP-Ruangguru Tingkatkan Kapasitas Guru Sanggar Bimbingan di Malaysia Lewat Program CHARISMA

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:07
Ojol
Nasional

Jadi Usul Inisiatif DPR, RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Benahi Upah Layak Buruh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:05

OLAHRAGA

Trophi-Carabao
Olahraga

Ada MU vs Brighton hingga Liverpool vs Tottenham, Ini Drawing Babak Ketiga Carabao Cup

Editor Ali Rachman
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:20

INDOPOSCO.ID - Babak ketiga Carabao Cup 2026/2027 belum dimainkan, tetapi panasnya sudah terasa sejak hasil undian diumumkan. Sejumlah klub Premier...

SelengkapnyaDetails
YKK-Real Madrid Foundation Nyalakan Mimpi Anak Indonesia lewat Sepak Bola

YKK-Real Madrid Foundation Nyalakan Mimpi Anak Indonesia lewat Sepak Bola

Jumat, 28 Agustus 2026 - 22:05
Trophi-Liga-Champions

Drawing Liga Champions: Deretan Bigmatch Langsung Hiasi Fase Liga

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:47
Piala-AFF

Bekuk Tailan di Final AFF, Kim Sang Sik Ukir Sejarah untuk Vietnam

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:43
RF

Jakarta Jadi Saksi, RF ONLINE NEXT Bawa Kejutan Besar untuk Player Indonesia

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:03

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.