• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Melebihi Kecepatan

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 31 Maret 2021 - 06:01
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Drama Terusan Suez sudah selesai. Minggu (28/3/2021) sore lalu. Tapi masalah itu belum sudah. Terutama: mengapa?

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

“Kapal itu berjalan melebihi kecepatan,” tulis Bloomberg, kemarin. “Menurut catatan komputer di kapal itu, kecepatan terakhirnya 13,5 mil per jam,” katanya. Itu setara dengan 25 km per jam.

Padahal, menurut ketentuan, kecepatan kapal di Terusan Suez maksimum 8 mil per jam. Atau sekitar 14 km per jam. Bahkan di bagian tertentu yang lebih sempit hanya boleh 7 mil per jam.

Itulah fakta yang harus diselidiki. Karena itu satu dua awak kapal Ever Given mungkin harus ditahan di Suez. Untuk diperiksa.

Belum tentu kapten kapal bisa disalahkan. Kapten punya otoritas penuh. Salah satu kiat seorang kapten di keadaan kritis adalah mempercepat laju kapal. Misalnya di saat terjadi badai seperti di Suez bagian selatan pagi itu. Dengan berjalan lebih cepat, pengaruh terpaan angin berkurang. Apalagi Ever Given salah satu kapal terbesar di dunia. Yang muat kontainer yang ditumpuk-tumpuk tinggi. Tumpukan kontainer itu menjadi ibarat tembok solid yang tinggi dan lebar.

Dinaikkannya kecepatan itu bisa juga untuk mengejar waktu: agar cepat meninggalkan bagian kanal yang sempit. Di depan sana ada danau besar: Danau Pahit. ( البحيرة المرة الكبرى).

Danau ini sebenarnya bukan danau. Pada 1850 kawasan ini masih berupa tanah dataran rendah. Kering. Berpasir. Tidak ada tetumbuhan. Tanah di situ asin. Mungkin saja sekian juta tahun lalu kawasan ini adalah laut.

Pada 1860-an dibuatlah sungai buatan. Dari arah selatan. Juga dari arah utara. Ketika dataran rendah ini dilewati oleh sungai buatan, mengalirlah air laut dari arah selatan: dari Laut Merah. Mengalir juga air laut dari arah utara: dari Laut Tengah.

Air laut itu lantas menggenang di dataran rendah itu. Dalam sekali. Lalu membentuk danau besar. Yang karena tanahnya dulu asin, maka disebut Danau Pahit.

Saya tidak habis pikir mengapa genangan besar ini disebut danau. Bukankah baru bisa disebut danau kalau airnya tawar? Misalnya Danau Michigan di Chicago, Amerika Serikat itu. Luasnya seperti laut. Tapi tetap disebut danau karena airnya tawar. Sebaliknya yang di Jordania itu. Biar pun hanya seperti danau tapi tetap disebut Laut Mati karena airnya asin.

Terserah saja. Yang jelas kapal yang melintasi Terusan Suez akan merasa lebih aman ketika tiba di danau Pahit. Mungkin saja penambahan kecepatan Ever Given dimaksudkan agar cepat sampai di danau ini.

Apalagi kalau di depan Ever Given tidak ada kapal yang berdekatan. Maka menaikkan laju kapal tidak akan menabrak kapal di depannya.

Masih begitu banyak persoalan yang harus dijawab. Sedang kapal itu sendiri, harus terus berlayar ke Amsterdam. Yakni setelah berhenti sebentar di Danau Pahit untuk pemeriksaan fisik. Sejauh ini tidak ada indikasi negatif. Tidak ada bagian yang rusak. Apalagi pengapungan kembali Ever Given lebih banyak ditentukan oleh alam. Yakni oleh pasang laut purnama di hari ketiga, malam pada 16 Sya’ban. Berarti satu hari setelah nisfu sya’ban –pertanda 15 hari lagi bulan puasa.

Pasang laut pada 14 Sya’ban memang sudah tinggi. Tapi belum membuat kapal itu mengapung kembali. Puncak pasang laut terjadi pada 15 Sya’ban. Belum pula sudah. Maka di pasang laut pada 16 Sya’ban kapal itu mulai bergerak. Artinya: tarikan kapal-kapal penarik mulai bisa ”menggoyang” kapal raksasa itu.

Ada yang belum lega. Persatuan awak kapal India merasa masih harus terus mengawal kejadian itu. Mereka tidak mau awak kapal Ever Given dijadikan kambing hitam. Semua awak kapal Ever Given memang berkebangsaan India.

Meski kapal itu begitu besar, awak kapalnya ”hanya” 25 orang. Memang peraturan internasional memungkinkan efisiensi tenaga seperti itu. Pemilik kapal di Indonesia tidak mungkin bisa sehemat itu. Kapal-kapal di Indonesia diharuskan menampung siswa sekolah pelayaran untuk tempat magang.

Sebuah kapal kontainer Ever Given yang terkena angin kencang dan kandas tampak di Terusan Suez, Mesir, 24 Maret 2021. Foto : Antara/Suez Canal Authority/Handout via Reuters
Sebuah kapal kontainer Ever Given yang terkena angin kencang dan kandas tampak di Terusan Suez, Mesir, 24 Maret 2021. Foto : Antara/Suez Canal Authority/Handout via Reuters

Organisasi pelaut India mempersoalkan ini: otoritas Terusan Suez juga ikut bertanggung jawab. Setiap kapal besar yang memasuki Terusan Suez harus dibantu pilot dari Mesir. Pilot itu naik ke anjungan kapal untuk berdampingan dengan kapten. Sang pilot naik ke anjungan bersamaan dengan selesainya pengurusan dokumen di mulut terusan.

Pilot itulah yang paling tahu kondisi Terusan Suez. Mulai dari alur airnya sampai peraturan yang harus diikuti.

Menurut perhitungan saya, pilot itu naik ke anjungan sekitar pukul 4 pagi. Udara dingin –terbawa oleh musim dingin di belahan utara. Dua jam kemudian kapal memasuki bagian paling sempit di kanal sepanjang hampir 200 km itu. Terjadilah badai. Tiba-tiba, badai itu menerbangkan pasir. Sebelah kanan kanal ini Gurun Sinai yang berpasir. Sebelah kirinya dusun-dusun kecil. Itulah gambaran bagian selatan kanal ini.

Saat itulah kecepatan kapal ditambah. Tapi pandangan ke depan tertutup badai pasir.

Maka terjadilah drama enam hari itu. Kapal yang panjangnya 400 meter itu melintang diagonal di kanal selebar 200 meter. Tidak ada lagi kapal lain yang bisa lewat. Bagian depan kapal itu menghunjam pinggiran timur kanal. Bagian belakangnya menempel di pinggir barat: di pinggir sebuah desa miskin yang berpenduduk 5.000 jiwa. Kapal itu pun seperti terdampar di halaman rumah penduduk desa itu. Dan kalau malam memancarkan cahaya gemerlapan yang indahnya tak terpermanai –bagi penduduk desa.

Mulai Senin (29/3/2021) lalu desa itu kembali sepi. Kalau malam kembali gelap. Mereka tetap bisa melihat lalu-lalang kapal di Terusan Suez, tapi di kejauhan sana. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Pengusaha Pilihan

    675 shares
    Share 270 Tweet 169
  • Elnusa Perkuat Produksi Migas, HWU EHR#10 Dukung Pembukaan Kembali Sumur Idle

    667 shares
    Share 267 Tweet 167
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.