• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Cut-Off Vitamin D

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 3 Maret 2021 - 06:03
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Kenapa orang Indonesia banyak yang kekurangan vitamin D? Padahal kita hidup di negara tropis? Yang lebih sering terkena sengatan sinar matahari?
Baru kemarin malam saya tahu jawabnya. Yakni ketika saya diminta jadi pembicara di pertemuan Zoom diaspora Indonesia.

BacaJuga:

Basah Wet

Tahanan Cornell

Anda Menang

“Memang sinar matahari itu sumber vitamin D. Tapi perlu protein tertentu yang bisa menjadi perantara. Agar sinar matahari itu benar-benar bisa menjadi vitamin D-3,” ujar dr Roy Panusunan yang juga jadi salah satu pembicara.

Moderator forum Zoom ini beberapa orang. Satu di New York, Lia dan James Sundah. Satu di Austria, EA Adoracion. Satu lagi di Belanda, Sisca Hotrop dan Titiek van Houten, lainnya di Jakarta. Pembicaranya banyak. Ada yang dari Atlanta (Amerika Serikat/AS), Moskow (Rusia), Washington DC (AS), dan juga Shanghai (China).

Semua berbicara tentang pengalaman vaksinasi. Yang di Moskow mendapat vaksinasi merek Sputnik –bikinan Rusia. Tidak ada masalah. Tidak merasakan efek samping apa-apa.

Yang di Atlanta mendapat vaksin Moderna. Buatan Amerika. Juga tidak merasakan apa-apa. Hanya lengan kirinya sakit. Tidak bisa tidur miring ke kiri. Pun hari berikutnya sakit itu hilang. Padahal ia punya gula darah dan hipertensi –yang terkontrol karena disiplin minum obat.

Daniel Fu, orang Atlanta itu, juga baru menjalani operasi jantung –triple bypass. Yakni setelah ia kembali dari Jakarta. “Waktu di Jakarta saya banyak makan macam-macam,” kata Daniel.

Ia merasa tidak punya keluhan apa-apa. Olahraganya juga kuat. Menjelang kembali ke Amerika pundaknya terasa tegang –sampai ke punggung. Ketika tiba di Atlanta ia dipaksa istri untuk periksa ke dokter keluarga. Hasilnya: ia harus operasi bypass.
Intinya: vaksinasi ini aman. Pun bagi orang seperti Daniel.

Lia Sundah –moderator yang di New York– juga sudah suntik vaksin. Yakni di stadion Queen, New York. Yang melakukan penyuntikan adalah marinir AS.

Lia mendapat vaksin Pfizer. Juga tidak mengalami masalah apa-apa.
Lia Sundah sudah 20 tahun di New York. Lia menjadi pengacara di sana. Lia memang doktor hukum lulusan Boston –meski lulus S-1 dari jurusan musik, juga di Boston.

Di New York Lia hidup bersama suami: James Sundah –pencipta lagu ”Lilin-Lilin Kecil” yang terkenal itu. Karena itu di awal dan di akhir forum ini dimeriahkan oleh konser musik. Yang menampilkan lagu ciptaan James itu. Yang dinyanyikan oleh penyanyi dari banyak negara. Pemain musiknya pun dari segala macam penjuru dunia.

Lia sendiri ternyata anak tokoh pers senior saya: Aristides Katoppo –Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan. “Cita-cita awal saya memang menjadi wartawan. Ternyata jadi lawyer di New York,” ujar Lia.

Menurut dokter Roy, protein yang bisa mengubah sinar matahari menjadi vitamin D-3 adalah yang datang dari susu, yogurt, atau mentega. “Di sinilah yang kita kurang. Mataharinya melimpah, tapi minum susu atau yogurt-nya kurang,” ujar Roy.

Roy sendiri ahli hormon. Lulus S-1 dan S-2 dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Lalu mendalami hormon sampai ke Harvard Medical School, Boston.

Saat di Harvard itulah Roy tahu soal hubungan sinar matahari dengan protein dari susu. Banyak data ia pelajari. Mengejutkan. Terutama data mengenai orang Indonesia.

“Dari 1.000 orang Indonesia yang kekurangan vitamin D sebanyak 950 orang,” katanya. Berarti hanya 50 orang yang vitamin D-nya cukup. Tentu termasuk istri saya. Yang tidak bisa minum susu. Yang level vitamin D-nya 55. Yang karena itu tidak tertular Covid dari saya.

Saya sendiri, saat terkena Covid, baru ketahuan: vitamin D saya hanya 23,4. Bahkan anak wedok –perempuan– saya, Isna Iskan, payah sekali. Level vitamin D Isna hanya 16. Padahal dia itu gila sepeda. Praktis tiap hari menempuh jarak setidaknya 50 Km –kadang 150 Km.

Ternyata sinar matahari saja tidak cukup. Sinar itu harus diantarkan oleh protein susu agar bisa menjadi vitamin D.

Dokter Roy –alumnus SMAN 3 Jakarta itu– kini bekerja di RS Pertamina. Ia ingin agar suatu saat ditemukan cut-off vitamin D khusus untuk orang Indonesia.
“Selama ini belum ada patokan berapa vitamin D minimal yang harus dimiliki orang Indonesia,” ujar dokter Roy.
“Kan minimal 40,” kata saya.

“Itu cut-off untuk orang kulit putih,” jawab dokter Roy. “Belum ditemukan berapa cut-off untuk orang Indonesia,” katanya. “Siapa tahu lebih rendah dari 40 itu,” katanya.

Tentu saya juga menunggu-nunggu laporan satu ini: apakah semua orang Indonesia yang terkena Covid itu level vitamin D-nya rendah. Kalau dibuka ke publik akan sangat membantu.

Tentu RS khusus Covid sudah menghimpun datanya.
Jam 00.00 forum Zoom ini baru ditutup. Saya sudah sangat mengantuk. Tapi yang di New York baru bangun pagi. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Basah Wet

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Tahanan Cornell

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Anda Menang

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

In Five

Senin, 15 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bagi Hasil

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Teori Harga

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    Hasil Piala Dunia: Qatar Buyarkan Kemenangan Swiss, Brasil Gagal Tumbangkan Maroko

    7142 shares
    Share 2857 Tweet 1786
  • Los Blancos Makin Ganas! Rekrut 2 Bintang Tanpa Mahar, Kini Incar Bek Inter

    1117 shares
    Share 447 Tweet 279
  • Purbaya Siapkan APBN Hadapi Tantangan Global, Prioritas Nasional Tetap Jalan

    1044 shares
    Share 418 Tweet 261
  • Hantavirus Ramai Dibahas, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru

    1777 shares
    Share 711 Tweet 444
  • Menkeu RI Raih Dukungan Tiongkok untuk Panda Bond, AIIB Siapkan USD17 Miliar

    881 shares
    Share 352 Tweet 220
Brobbey
Olahraga

Hasil Piala Dunia: Bantai Swedia, Belanda Kuasai Puncak Grup

Editor Dilianto
Minggu, 21 Juni 2026 - 07:02

INDOPOSCO.ID - Timnas Belanda menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu kandidat kuat di Piala Dunia 2026 setelah melibas Swedia dengan skor...

SelengkapnyaDetails
Pemain-Paraguay

Turki Angkat Koper, Arda Guler Minta Maaf

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:01
malarza

Piala Dunia 2026: Gol Kilat Galarza Bawa Paraguay Tumbangkan Turki 1-0

Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:57
lesu

Keluhkan Performa Socceroos, Pelatih Australia: Kami Lesu, AS Lebih Bertenaga

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:42
maroko

Maroko Menang 1-0, Steve Clarke Ngamuk Klaim Penalti Skotlandia Dicuekin Wasit

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:41
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.