• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Hoki Irwan

Redaksi Editor Redaksi
Sabtu, 27 Februari 2021 - 06:03
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Saya sulit kalau harus mengilmiahkan kata ”hoki”. Yakni kata hoki seperti yang diucapkan pengusaha besar Irwan Hidayat –pemilik pabrik jamu Sido Muncul itu. Ia ngotot bahwa keberhasilannya selama ini benar-benar semata karena hoki. Tidak ada yang lain. Juga bukan karena kerja keras.

BacaJuga:

Pulih Percaya

Independensi Habibie

Abu Putih

Saya bertemu Pak Irwan kemarin. Lewat layar Zoom. Kami sama-sama menjadi pembicara seminar yang diadakan MarkPlus. Yakni sebuah lembaga marketing terkemuka milik guru marketing Hermawan Kartajaya.
Semula saya tidak percaya bahwa kesuksesan Pak Irwan semata-mata karena hoki. Saya yakin Pak Irwan itu pasti pekerja keras.

Tapi Pak Irwan ngotot: tidak. “Saya benar-benar bukan pekerja keras,” kata Pak Irwan. Pekerjaannya dulu hanya jalan-jalan. Bersama saudaranya. Sambil mengembangkan Sido Muncul.

Saking ngototnya Pak Irwan sampai saya harus kalah. Setidaknya harus mengalah. Tapi saya terus berpikir. Masak benar-benar hanya karena hoki. Saya pun lantas menemukan istilah kompromi. Yang mungkin lebih tepat. Saya coba memperkenalkan istilah baru ini: hoki yang diupayakan.

Itu berarti saya memang memercayai adanya faktor hoki, tapi hoki yang diusahakan.
Saya pun ingat wartawan saya. Yang karya fotonya terpilih sebagai foto terbaik dunia –di tahun itu. Namanya Sholehudin. Justru ia bukan wartawan foto.

Foto juara dunia itu berupa truk tentara yang penuh sesak dengan suporter sepak bola Bonek. Saking penuhnya sampai posisi truk itu miring sekali. Suporter remaja itu seperti hendak tumpah ke jalan. Satu dua orang sudah loncat dari truk –ketakutan. Beberapa lagi terlihat panik. Sopir truk itu –berpakaian tentara– menoleh dengan wajah tegang.

Dewan juri di Swiss secara aklamasi memilih foto itulah juara dunia tahun itu. Tidak perlu diskusi. Tidak perlu pemungutan suara.
“Itu kan kebetulan. Ia lagi hoki. Lagi berada di lokasi truk itu,” ujar beberapa wartawan –yang kelihatannya cemburu.

Tentu saya setuju: ada unsur kebetulan di situ. Tapi seandainya si wartawan tidak rajin keliling kota mencari berita apakah ia akan mendapatkan keberuntungan itu? Seandainya ia hanya di kantor menghadapi komputer apakah akan bisa menemukan kejadian itu?
Itulah yang saya maksud dengan hoki yang diupayakan.

Pak Irwan masih belum bisa menerima. Ia tidak seperti itu. Ia mengaku bukan orang yang rajin. Tubuhnya pun bukan tubuh yang kuat dan enerjetik.
Saudara-saudaranya punya tubuh yang tinggi. Ada yang 175 cm, ada yang 179 cm. Ia hanya 168 –seperti saya.

Pun waktu bayi. Ia sakit-sakitan tiada henti. Sakit apa saja pernah ia alami. Istilah modern sekarang disebut stunting.

Karena itu ketika usia Pak Irwan baru tiga bulan, masih bayi, sudah diberikan ke ”orang lain”. Untuk diambil anak. Dengan kepercayaan agar tidak sakit-sakitan lagi.
”Orang lain” itu adalah neneknya sendiri. Jadilah Irwan anak neneknya.

Semua itu karena sang ibu punya banyak anak: sembilan orang. Irwan anak ketujuh. Tiap tahun ibunya melahirkan. Saat Irwan berumur tiga bulan itu sang ibu sudah hamil lagi.

Karena tidak bisa mendapat air susu, bayi Irwan diberi makan tajin –kuah dari nasi yang sengaja diberi air lebih banyak. Kondisi ekonomi memang lagi sulit. Belanda dan Inggris melakukan agresi pertama sampai ke Jogjakarta. Perang tidak berkesudahan. Ekonomi masyarakat menjadi sangat berat.
Saat perang itu sang nenek membuka usaha jualan bahan-bahan untuk jamu. Di Jogja.

Ketika sang nenek harus mengungsi ke Semarang, Jawa Tengah –untuk menghindar jadi korban perang– Irwan diajak mengungsi.

Di Semarang itulah sang nenek mulai membuat produksi jamu. Dari pengalaman sang nenek jualan bahan baku jamu di Jogja. Itulah riwayat lahirnya jamu Sido Muncul. Pada 1951. Di saat ketika banyak jamu lain sudah lebih dulu terkenal: ada jamu Jago, Nyonya Meneer, Nyonya Item, Nyonya Go, dan seterusnya.

Saat remaja pun Irwan bertubuh kerempeng —kurus. Bahkan ketika di umur yang seharusnya punya berat badan 63 kg, Irwan hanya 46 kg.

Saya pun baru tahu: Irwan itu ternyata keturunan orang kaya raya. Kakek buyutnya adalah adik kandung Oei Tiong Ham –orang terkaya se Asia di zaman itu.

Kapan-kapan saya akan bertemu khusus Pak Irwan untuk menggali kisah leluhurnya di Semarang itu.
Sebelum itu biarlah saya percaya dulu bahwa sukses Pak Irwan benar-benar semata karena hoki. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Pulih Percaya

Kamis, 30 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Independensi Habibie

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Abu Putih

Senin, 27 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Satpam MBG

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Anak Telur

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dua Menit

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    1830 shares
    Share 732 Tweet 458
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1799 shares
    Share 720 Tweet 450
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    932 shares
    Share 373 Tweet 233
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3128 shares
    Share 1251 Tweet 782
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.