• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Porang Glukomanan

Redaksi Editor Redaksi
Selasa, 23 Februari 2021 - 06:01
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Petani porang kini merambah ke mana-mana. Pun sampai ke Riau. Juga Sumbawa. Tidak lagi hanya di Jateng (Jawa Tengah) dan Jatim (Jawa Timur). Di Gunung Kidul merajalela. Di Ponorogo demikian juga. Pun Pantura seperti Tegal dan Batang.

BacaJuga:

Pulih Percaya

Independensi Habibie

Abu Putih

“Apakah ini tidak berbahaya? Apakah harga tidak akan jatuh?” tanya seorang peserta seminar Zoom yang diadakan Paguyuban Petani Porang Nasional, kemarin.

Saya tidak bisa menjawab. Saya sendiri terheran-heran. Tujuh tahun lalu, ketika saya ke Purwodadi dan Blora masih sulit meyakinkan petani untuk menanam porang.

Tapi hasil menanam porang memang meyakinkan. Harga pun masih terus naik –sampai saya sendiri miris. Harga yang terlalu baik justru tidak baik. Bisa jadi, suatu saat akan berubah jadi bencana: ketika benih sudah ikut naik, jangan sampai harga tiba-tiba jatuh. Petani bisa rugi.

Sampai hari ini harga porang masih terus tinggi. Bisa Rp8.000 per kg. Padahal biaya tanam dan rawatnya sangat rendah. Hanya sekitar Rp2.000 per kg. Maka, banyak petani porang sangat menikmatinya. Lalu, tanpa dikampanyekan pun, petani tergerak sendiri untuk tanam porang.

Yang jelas Indonesia masih impor glukomanan. Sampai sekarang. Impornya masih 100 persen pula. Glukomanan atau konjak, bahan bakunya harus dari porang. Kita hanya bisa ekspor porang dalam bentuk umbi. Belakangan mulai berdiri beberapa pabrik tepung porang. Tepung itu mereka ekspor. Lumayan. Maju selangkah. Tepung porang itulah yang jadi bahan baku pabrik glukomanan di luar negeri.

Petani porang adalah petani yang paling mandiri. Pupuknya tanpa subsidi. Pasarnya bebas. Penyuluhannya dari sesama petani.

Saya bangga dengan itu. Mereka tidak ingin pemerintah membantu –ujung-ujungnya justru bisa bikin repot. Dan bikin ketergantungan. “Lebih baik seperti ini. Jangan cengeng,” kata saya pada mereka.

“Jangan merepotkan pemerintah. Nanti justru bikin kita repot,” kata saya lagi. Dalam banyak hal pemerintah itu tidak perlu membantu. Yang penting jangan ngrusuhi –jangan mengganggu.

Tidak banyak komoditas pertanian yang bisa memberikan imbal hasil sebaik porang. Tebu pasti kalah. Apalagi padi. Jagung. Kedelai. Tapi begitu meluas petani yang menanam porang sekarang ini. Pesantren kami di Pangandaran pun saya minta tanam porang. Di pekarangannya yang luas itu.

Begitu banyak makanan yang tergantung pada glukomanan. Kue atau minuman jelly pasti impor glukomanan. Makanan yang memerlukan kekenyalan pasti mengandung glukomanan. Termasuk bulatan-bulatan dalam minuman boba yang lagi ngetop sekarang.

Bagaimana masa depan porang? Apakah akan menghadapi kelebihan pasok?

Saya pun menghubungi relasi lama saya. Hamzah Muhammad Ba’abud. Yang tujuh tahun lalu saya gelari anak muda andalan. Yang tinggal di Lawang, Malang. Yang mampu menciptakan mesin pengolah rumput laut. Agar kita tidak lagi impor karagenan 100 persen. Yang bahan bakunya rumput laut.

Waktu itu kita hanya bisa ekspor rumput laut kering. Lalu impor karagenan. Hamzah tidak omong kosong. Ia membuat pabrik karagenan di Pasuruan. Ia olah rumput laut kering menjadi tepung karagenan. Yakni bahan baku makanan dan pasta gigi dan banyak lagi.

Pabrik karagenannya bertahan sampai sekarang. Bahkan kian besar. “Sudah dua kali lebih besar dari waktu Pak Dahlan pertama ke sini,” ujar Hamzah.

Enam bulan lalu saya hubungi lagi Hamzah. Saya sampaikan persoalan mirip rumput laut di bidang lain: porang. Sambil berharap Hamzah memikirkan untuk menciptakan mesin pembuat tepung glukomanan. Yang bahan bakunya porang.

Setelah itu beberapa kali lagi saya hubungi Hamzah. Terakhir kemarin sore. Saya ingin tahu perkembangan pemikirannya: apakah sudah terbayang bisa membuat mesin glukomanan-porang.

“Sudah ketemu Pak. Insya Allah bisa,” kata Hamzah. “Ternyata jauh lebih mudah dari membuat pabrik karagenan,” tambahnya.

Alhamdulillah.

“Saya sudah mulai kerjakan pembuatan peralatannya,” ujar Hamzah.

Alhamdulillah.

“Mungkin, akhir tahun ini bisa produksi,” katanya.

Alhamdulillah.

Saya masih ingat siapa Hamzah. Bagaimana posturnya. Seperti apa semangatnya. Ia lulusan Teknik Mesin Universitas Merdeka, Malang, Jatim. Anaknya tiga orang –yang terkecil empat tahun.

Abahnya masih sehat –umur 96 tahun. Uminya belum lama meninggal dunia. Hamzah telah bikin rekor: bikin pabrik karagenan dari rumput laut. Ia telah memberi muara bagi petani rumput laut. Mesin ciptaannya terbukti bisa beroperasi secara komersial. Juga berkelanjutan. Mutu karagenannya pun sejajar dengan yang impor dari Jepang.

Lalu saya minta Hamzah memikirkan petani porang. Hasil pemikirannya ternyata sudah final: siap dikerjakan.

“Mesin yang Anda rancang ini perlu bahan baku apa? Umbi porang atau chip porang atau tepung porang?” tanya saya.

“Langsung dari umbi porang,” jawabnya.

“Umbi kering atau basah?” tanya saya.

“Umbi basah,” jawabnya.

Alhamdulillah… (*/dah)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Pulih Percaya

Kamis, 30 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Independensi Habibie

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Abu Putih

Senin, 27 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Satpam MBG

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Anak Telur

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dua Menit

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    1739 shares
    Share 696 Tweet 435
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1799 shares
    Share 720 Tweet 450
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    924 shares
    Share 370 Tweet 231
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3127 shares
    Share 1251 Tweet 782
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.