• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Penderita Covid-19 dan Pembekuan Darah

Redaksi Editor Redaksi
Jumat, 12 Februari 2021 - 17:37
in Gaya Hidup
Ilustrasi. Foto : Pixabay

Ilustrasi. Foto : Pixabay

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pembekuan darah pada kasus Covid-19 merupakan salah satu reaksi imun atau hasil peperangan saat antibodi melawan virus SARS-CoV-2. Pengobatan kondisi ini bisa melalui pemberian pengecer darah sesuai prosedur dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Ini artinya pengobatan kasus pembekuan darah tidak bisa sembarang misalnya dengan memberi air minum banyak pada pasien seperti pendapat seseorang yang muncul di media sosial (medsos) beberapa waktu lalu.

BacaJuga:

The Wind Rilis Tracklist Mini Album Second Wind : S#00, Diproduseri Park Kyung Block B

Song Kang dan Lee Jun Young Temukan Harapan dalam Teaser Drama Four Hands, Two Sonatas

Akun yang Mengaku Ibu Jungkook BTS Tuai Kecaman, Diduga Sebarkan Konten AI dan Picu Kecurigaan

Vito A. Damay, pakar kesehatan yang mengambil spesialisasi jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) menjelaskan, pasien bisa diberikan antikoagulan yang bertugas melarutkan kembali bekuan-bekuan darah yang berbahaya akibat peradangan infeksi pada pasien Covid-19.

Ada dua jenis antikoagulan yang biasanya diberikan pada pasien Covid-19, yakni LMWH atau Low Molecular Weight Heparin dan Unfractionated Heparin. Pemberian antikoagulan ini pun memperhitungkan risiko terjadi pengenceran darah yang juga mengikuti pengentalan darah. Tubuh orang yang terkena Covid-19 mengalami inflamasi virus SARS-CoV-2 menyebabkan koagulopati atau gangguan pembekuan darah.

“Koagulopati adalah istilah medis untuk gangguan pembekuan darah. Proses pembekuan darah ini menjadi kacau, sehingga terjadi aktivitas berlebihan. Darah menggumpal dan terjadi thrombosis (penggumpalan darah) pada pembuluh vena (pembuluh balik, Red) yang mengalir ke jantung,” ujar Vito kepada Antara belum lama ini.

Lebih lanjut, gumpalan darah ini akhirnya menyumbat pembuluh darah jantung yang harusnya mengalirkan darah ke paru-paru, akibatnya aliran dari jantung kanan ke paru-paru sangat berkurang atau tidak ada. Inilah alasan saturasi oksigen (kadar oksigen dalam darah) mendadak turun dan terjadi –risiko– kematian pada pasien.

Roberts Brodsky, pakar hematologi dari the Johns Hopkins University School of Medicine dan Panagis Galiatsatos, dokter spesialis pengobatan paru di Johns Hopkins Bayview Medical Center mengungkapkan, selain paru-paru, pembekuan darah termasuk yang terkait dengan Covid-19 juga dapat membahayakan sistem saraf.

Mereka menerangkan, gumpalan darah di arteri yang menuju ke otak dapat menyebabkan stroke. Beberapa orang yang tadinya sehat lalu terkena Covid-19 bisa mengalami stroke, kemungkinan karena pembekuan darah yang tidak normal.

Beberapa orang dengan Covid-19 juga dapat mengembangkan gumpalan darah kecil yang menyebabkan area kemerahan atau ungu pada jari kaki. Gejalanya bisa terasa gatal atau nyeri.

Parameter untuk memeriksa adanya gumpalan darah antara lain D Dimer dan fibrinogen. Semakin banyak pembekuan darah yang terjadi maka semakin banyak juga proses melarutkan bekuan itu yang akhirnya menyebabkan semakin tinggi pula D Dimer.

“D Dimer bagian dari penyakit Covid-19 yang masih menyimpan banyak misteri, salah satunya pembekuan darah yang kacau, merangsang proses keenceran darah. Maka, pemberian pengencer darah tidak boleh sembarangan,” jelas Vito.

Pembekuan ini berbeda dengan istilah kekentalan darah yang sebagian orang anggap bisa diatasi dengan meminum banyak air agar darah menjadi lebih encer. Pada kondisi darah mengental misalnya saat seseorang dehidrasi maka viskositas atau kekentalan dan osmolalitas –keseimbangan cairan dan garam tubuh–nya meningkat dan terjadi hemokonsentrasi.

Mudahnya, disebut darah mengental dan ini berbeda dengan darah menggumpal atau adanya bekuan darah seperti pada kasus Covid-19.

Dalam pengobatan, pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit biasanya juga diinfus cairan saline NaCL 0.9 persen kecuali apabila dia mengalami kondisi lain. Komposisi cairan ini sama seperti pada tubuh sehingga mencukupi kebutuhan walaupun pasien lupa minum air.

“Sekali lagi itulah fungsinya ada cairan infus diberikan agar mencukupi kebutuhan cairan harian apalagi kalau lupa minum selama diopname,” ujar Vito.

Vito menyayangkan ada pendapat di masyarakat yang menyebut pengobatan Covid-19 hanya cukup dengan banyak minum air bukannya dengan cara yang selama ini dilakukan para dokter.

Pendapat ini bersumber dari seorang pria melalui video yang beredar beberapa waktu lalu. Dia mempertanyakan alasan rumah sakit tidak mewajibkan pasien Covid-19 minum air. Sang pria lalu mengklaim penelitian menunjukkan pasien Covid-19 mengalami pengentalan darah sehingga diberi obat heparin dan aspirin. Padahal seharusnya pasien ini diberi minum air hangat.

Vito menegaskan pendapat pria ini salah. Pengobatan standar sudah merujuk pada panduan pengobatan pasien Covid-19 yang diberikan Kementerian Kesehatan berdasarkan rekomendasi resmi para dokter termasuk spesialis paru, jantung dan pembuluh darah, penyakit dalam, spesialis anak dan anestesi.

Jadi, berdasarkan paparan yang diungkapkan pada paragraf-paragraf di atas, pembekuan darah pada kasus Covid-19 memang dapat mengakibatkan pembekuan darah vena yang fatal dan tidak bisa diobati dengan minum air yang banyak.

Di sisi lain, dia mengingatkan aktifnya pembekuan darah selain karena virus penyebab COVID-19 juga bisa diperparah kebiasaan sedenter atau tak aktif semisal rebahan. Selain itu, waspadai kondisi obesitas. Pada mereka yang mengalami obesitas, di dalam tubuhnya terjadi peradangan kronik yang meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah.

Vito menambahkan, kalau orangnya banyak rebahan, menyebabkan pembekuan darah semakin tinggi. Bahkan pada kasus bukan Covid-19, kebiasaan ini bisa menyebabkan pembekuan darah vena. (aro)

Tags: coronacovid-19pandemi

Berita Terkait.

wind
Gaya Hidup

The Wind Rilis Tracklist Mini Album Second Wind : S#00, Diproduseri Park Kyung Block B

Jumat, 24 Juli 2026 - 04:40
song
Gaya Hidup

Song Kang dan Lee Jun Young Temukan Harapan dalam Teaser Drama Four Hands, Two Sonatas

Jumat, 24 Juli 2026 - 02:20
akun
Gaya Hidup

Akun yang Mengaku Ibu Jungkook BTS Tuai Kecaman, Diduga Sebarkan Konten AI dan Picu Kecurigaan

Jumat, 24 Juli 2026 - 00:30
Raditya-Dika
Gaya Hidup

William Wongso Racik Menu Ready to Eat Yummy Choice, Raditya Dika: Cocok buat yang Mager

Kamis, 23 Juli 2026 - 18:47
Geely
Gaya Hidup

Geely Kenalkan Coolray, Perluas Pilihan Mobilitas bagi Konsumen Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:45
kim
Gaya Hidup

Kim Myung Soo dan Kang Min Ah Tampil Romantis di Pemotretan ‘Singles’ untuk ‘Love in Sync’

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:11

BERITA POPULER

  • epi

    Desa Berdaya Energi Berbuah Hasil, Populasi Kambing Perah dan Pendapatan Peternak Meningkat

    3193 shares
    Share 1277 Tweet 798
  • Spanyol vs Argentina: De la Fuente Tuntut Wasit Pimpin Final dengan Sangat Ketat

    1414 shares
    Share 566 Tweet 354
  • Tokoh Banten Mulyadi Jayabaya Sesalkan Ada Oknum Pejabat Dikaitkan Aksi Penculikan Aktivis

    1155 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2815 shares
    Share 1126 Tweet 704
  • Jelang Final Piala Dunia 2026, Scaloni Keluhkan Singkatnya Waktu Pemulihan Argentina

    823 shares
    Share 329 Tweet 206
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.