Nasional

T20 Diharapkan Hasilkan Rekomendasi Kebijakan Inklusif bagi G20

INDOPOSCO.ID – Think 20 (T20), yang merupakan forum kerja sama lembaga think tank dan penelitian dari seluruh negara anggota G20, diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang inklusif dan objektif bagi berbagai tantangan global.

Aspek inklusivitas, menurut Lead Co-Chair T20 Indonesia Bambang PS Brodjonegoro, menjadi lebih penting daripada sebelumnya karena pandemi Covid-19 menciptakan ketimpangan yang semakin melebar di seluruh negara dan memperburuk ketidakseimbangan sosial-ekonomi global.

“Meskipun menantang, T20 memiliki wewenang untuk memastikan agenda penelitian dan perumusan (rekomendasi kebijakan) mewakili negara maju dan berkembang secara setara,” kata Bambang dalam pembukaan T20 Inception Conference yang berlangsung secara virtual pada Rabu (9/2/2022), seperti dikutip Antara.

Bambang menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi global berada di jalur yang pas, meskipun pada tingkat yang lebih moderat daripada yang diantisipasi sebelumnya karena kebangkitan Covid-19 di berbagai bagian dunia.

Baca Juga : KSP Dorong ASN Jadi Komunikator Untuk Gaungkan “demam” Presidensi G20

Seperti negara-negara lain di dunia, ekonomi G20 telah memprioritaskan kebijakan mereka pada pengelolaan pandemi Covid-19 terutama pada tahun 2020 dan awal tahun 2021.

Dengan relaksasi tertentu pada pembatasan mobilitas menyusul perlombaan vaksinasi dan meluasnya ketersediaan pengujian, kapasitas penelusuran, serta fasilitas medis termasuk obat-obatan perspektif kebijakan nasional secara bertahap bergeser melalui agenda ekonomi.

Tidak dapat dipungkiri, kata Bambang, pandemi Covid-19 telah meninggalkan dampak sementara dan struktural bagi perekonomian global. Transisi dari periode pandemi ke tahap pemulihan kemungkinan akan membutuhkan koordinasi global dari strategi kebijakan pascakrisis (exit policy) ke sikap makroekonomi ekspansif di seluruh dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya,

“Di masa lalu, agenda exit policy merupakan ranah negara-negara maju, terutama setelah krisis keuangan global 2007/2008. Penguraian kebijakan stimulus selama krisis pandemi global Covid-19 akan memerlukan koordinasi kebijakan internasional dan domestik yang lebih luas di dalam negeri serta di antara negara maju dan negara berkembang,” tutur dia.

Lebih lanjut, Bambang membahas besarnya peran ekonomi digital untuk kembali mendorong aktivitas ekonomi selama pandemi dan telah mengubah pasar dan regulasi di seluruh sektor ekonomi, termasuk di sektor keuangan.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button