Nasional

Korupsi di Indonesia Jadi Patologi Sosial Kronis, KPK Diusulkan Permanen

INDOPOSCO.IDKasus korupsi yang terjadi di Indonesia sudah masuk kategori kejahatan yang sangat luar biasa. Bahkan, korupsi telah menjadi patologi (penyakit) sosial kronis yang mencengkram dan menggerogoti secara masif keuangan negara di berbagai instansi di Indonesia.

Karena itu pemberantasan korupsi harus menjadi agenda sangat utama bagi Indonesia tahun 2022 ini dan tahun seterusnya.

Hal itu ditegaskan pakar komunikasi politik (komunikolog) dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr. Emrus Sihombing, kepada Indoposco.id, Senin (3/1/2022).

Dosen UPH ini mengatakan korupsi merupakan perbuatan tidak berbudaya. Padahal, yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan adalah budaya. Manusia adalah mahluk berbudaya, sedangkan hewan tidak mempunyai budaya.

“Di Indonesia hingga saat ini dan sangat boleh jadi ke depan, bahwa peristiwa korupsi masih ada di semua bidang dan lini kehidupan sosial. Korupsi langsung atau tidak langsung, korupsi kasat mata atau tidak kasat mata terus terjadi di berbagai instansi pemerintah,” ujar Emrus.

Emrus berpendapat korupsi di sebuah instansi, secara sosiologis dilakukan melalui interaksi komunikasi sesama mereka, termasuk antara lain pemberian “setoran” kepada “raja-raja kecil” yang berpengaruh di institusi tersebut.

Padahal, kata Emrus makna rezeki semacan itu sangat keliru. Rezeki itu merupakan pemberian dari maha pencipta alam semesta kepada seseorang atau sekelompok orang yang konsisten melakukan kehendak-Nya. Rezeki itu sesuatu yang halal.

Oleh karena itu, menurut Emrus, penguatan kelembagaan KPK menjadi penting berbasis pada hukum positif dan profesionalitas.

“Penguatan kelembagaan KPK, menurut hemat saya, baru mulai sejak berlaku UU KPK hasil revisi. Selanjutnya, terpilihnya komisioner KPK periode 2019 – 2023 yang dinahkodari Firli Bahuri, KPK melakukan perbaikan antara lain penataan kepegawaian sebagai program penguatan internal kelembagaan dan secara simultan KPK menunjukan kenerja yang luar biasa pemberantasan korupsi di tanah air dalam bentuk pencegahan dan penindakan,” ujarnya.

Emrus mengungkapkan KPK terus melancarkan program pencegahan korupsi antara lain pendidikan dan peran serta masyarakat secara terus menerus.

Melalui program ini dipastikan memunculkan efek pengetahuan/kesadaran, pemahaman, sikap dan perilaku masyarakat sebagai antikorupsi. Individu dan kelompok masyarakat dengan kesadaran etis melakukan fungsi pengawasan eksternal kepada tindak tanduk setiap aparatur birokrasi pemerintah.

Dalam bidang penindakan, kata Emrus, KPK menunjukan profesionalitas dan independensi yang berlandaskan hukum positif. Diberitakan, dua menteri dari dua partai papan atas telah diproses.

Ini salah satu bukti, KPK tidak di bawah bayang-bayang kekuasaan apa pun. Bahkan KPK telah memasukkan empat tersangka dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), salah satunya HM (Harun Masiku).

Selanjutnya penguatan kelembagaan internal terkait penataan kepegawain, komisioner KPK merujuk pada undang-undang dan peraturan yang berlaku. Sesuai perintah undang-undang, dilakukan seleksi untuk peralihan status menjadi ASN melalui sebuah paket tes wawasan kebangsaan (TWK). Hasilnya luar biasa.

“Menurut catatan saya, ada 1.271 pegawai KPK yang lolos. Sebagian, sangat sedikit, tidak signifikan, tidak lolos. Sebagian besar yang tidak lolos tersebut, tentu setelah melalui tahapan proses berbasis peraturan yang berlaku, telah dilantik menjadi ASN di kepolisian,” katanya.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button