Nasional

Sekali Lagi Diingatkan, Awas Pemudik Dini Picu Covid-19!

INDOPOSCO.ID – Masyarakat diingatkan relasi antara mobilitas penduduk dan peningkatan penularan Covid-19. Bahkan Satgas Covid-19 mengakui dalam beberapa kali peningkatan mobilitas akibat liburan dan hari raya telah menyebabkan lonjakan penularan SARS-CoV-2.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo bahkan mengingatkan selain angka kasus aktif setelah liburan, selalu terjadi peningkatan Bed Occupancy Rate (BOR) di setiap rumah sakit dan angka kematian tenaga medis dan dokter serta perawat.

Oleh karena itu, langkah Pemerintah untuk menekan lonjakan sudah sangat tepat dengan melarang mudik lebaran tahun ini karena berdasarkan pengalaman sebelumnya walaupun sudah ada pelarangan ternyata angka mudik berdasarkan data Kementerian Perhubungan dari angkutan umum saja tercatat 297.453 orang.

Angka itu memang baru tercatat dari angkutan umum, namun bisa mewakili sebuah analisa karena untuk mencatat jumlah pemudik dengan angkutan pribadi belum ada instrumen yang menjadi rujukan. Ada angka kendaraan yang melintas di tol, namun tidak bisa memberikan identifikasi secara jelas mana kendaraan pribadi dan angkutan umum dari data tersebut.

Dengan mobilitas penumpang umum yang tercatat sekitar 300 ribu pada tahun lalu sudah cukup memicu peningkatan kasus harian sekitar 70-90 persen, dua pekan setelah libur lebaran usai. Saat itu sempat membuat rumah sakit kewalahan menyediakan ruang perawatan dan karantina.

Untuk menganalisa perkiraan peningkatan kasus tahun ini, angka 300 ribu pemudik pada angkutan umum tahun lalu bisa menjadi rujukan, jika angka itu terlampaui maka semua pihak harus bersiap menghadapi lonjakan kasus Covid-19 yang lebih besar lagi.

Mengapa prediksinya tetap ada lonjakan? Beberapa yang mendasari analisa itu adalah sikap masyarakat yang belum banyak berubah dalam menerapkan protokol kesehatan.

Pejabat publik dan pengamat di sejumlah daerah bahkan menilai mulai kendor penerapan protokol kesehatan karena pertama terbuai oleh program vaksinasi dan kedua banyak yang mulai lelah menerapkan protokol kesehatan khususnya memakai masker dan menjaga jarak.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio juga sependapat, pola masyarakat dalam menghadapi pandemi ini belum berubah dan sebagian justru tidak peduli dan abai dengan protokol kesehatan menjelang musim mudik tahun ini.

Faktor lainnya adalah apakah pemerintah daerah benar-benar sudah menyiapkan sumber daya untuk melakukan 3T (testing, tracing dan treatment) untuk para pemudik. Bisa jadi puluhan daerah memang terlihat sudah siap tapi ratusan lainnya apakah sudah sungguh-sungguh menyiapkan hal itu.

Libur mudik lebaran akan berbeda dengan libur lainnya, karena budaya silaturahim atau mengunjungi kerabat melekat pada mudik Lebaran, artinya akan banyak kumpul-kumpul dalam skala mikro yang memungkinkan terjadinya penularan virus itu. Apalagi kumpul dalam keluarga akan mempunyai risiko penularan 10 kali lebih tinggi dibanding kluster lainnya.

Sementara itu, masih menjadi tanda tanya apakah angka 300 ribu pemudik angkutan umum terlampaui tahun ini. Namun, dari fenomena yang terjadi saat ini, dalam sepekan terakhir ratusan ribu pemudik dini sudah bergerak ke kampung halaman. Dan untuk keperluan analisa seharusnya hitungan jumlah pemudik angkutan umum tahun ini sudah mulai dicatat sebelum larangan mudik diberlakukan, tidak seperti biasanya yang perhitungan mulai pada H-7 sampai H+7 saja.

Sejumlah terminal angkutan umum di daerah sudah mencatat lonjakan penumpang sebelum larangan mudik diberlakukan, salah satunya di Terminal Rajabasa Bandarlampung yang mencatat kedatangan penumpang dengan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) naik 498 persen dari pertama puasa Ramadhan hingga Selasa (27/4/2021) dibandingkan tahun lalu seperti dilansir Antara.

Tahun lalu selama 14 hari pertama Ramadhan tercatat hanya 854 orang dan tahun ini naik fantastis yaitu tercatat 5.030 orang, artinya mobilitas sudah terjadi sebelum larangan mudik diberlakukan. Angka ini harusnya menjadi peringatan bagi daerah lain untuk mulai mencatat kenaikan mobilitas ini sehingga bisa dasar bagi penyiapan aparat pemantauan di daerah.

Salah satu daerah yang sudah merasakan dampak pemudik dini adalah warga Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Satu keluarga pemudik dini dari Jakarta yang tiba di desa itu menggelar pengajian manaqib dengan mengundang warga lainnya. Diduga pemudik itu sudah terinfeksi Covid-19 sehingga menularkan virus kepada 39 warga yang ikut acara itu.

Ketua GTPP Covid-19 Pati Haryanto mengatakan setelah ada informasi soal acara keagamaan yang diselenggarakan pemudik dini asal Jakarta, pihaknya langsung melakukan uji usap kepada semua warga yang hadir dan hasilnya ada 37 orang yang dinyatakan positif Covid-19. Kemudian ditelusuri lebih lanjut kontak eratnya dan ditemukan lagi dua yang positif.

Kesigapan tim satgas seperti itu patut dicontoh untuk mengawasi para pemudik dini, lebih baik dilakukan karantina bagi pemudik dini sehingga kalaupun ada yang terinfeksi dari mereka tidak menularkan kepada yang lain.

Peran RT dan RW sangat strategis karena berada di garis depan untuk mengawasi pemudik dini yang tahun ini diperkirakan akan lebih banyak karena Pemerintah telah membatasi angkutan umum di semua terminal saat larangan mudik berlaku mulai 6 sampai 17 Mei 2021.

Sejumlah daerah juga mulai mewaspadai kedatangan pemudik dini seperti Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang meminta setiap RT dan RW mendata pemudik dini. Pemudik yang memiliki gejala terinfeksi segera lakukan tes cepat antigen dan jika positif Covid-19 maka akan diisolasi di Gedung Diklat Jalan Merbabu Kota Pekalongan.

Kecepatan untuk menyisir pemudik yang dicurigai terpapar, lalu dilakukan tes antigen dan segera dilakukan karantina jika ditemukan yang positif akan sangat menentukan dalam mengurangi penyebaran Covid-19 di daerah tujuan mudik.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button