Alumni Cipayung Bersatu untuk Palestina, Wakil Ketua MPR: Tak Ada Lagi Perbedaan

INDOPOSCO.ID– Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Basarah mengatakan, karena paham kebangsaan, para pentolan alumni Cipayung bersatu untuk Palestina.
Pria yang juga Ketua Umum Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini menjelaskan, paham kebangsaan menyatukan perbedaan yang ada.
“Dalam ikatan kebangsaan, tidak ada lagi perbedaan agama, suku, partai politik dan ideologi,” ujarnya, di sela acara Silaturahmi Kebangsaan Kelompok Cipayung, dengan tajuk “Silahturahmi Kebangsaan dan Kordinasi Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina”, di Sekretariat Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Jalan Turi I No. 14, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (26/5/2021).
Menurut Basarah, paham kebangsaan terikat pada aturan konstitusi yang berlaku di Indonesia yang mengamanatkan Indonesia untuk aktif mewujudkan perdamaian dunia, salah satunya adalah dengan cara membantu persoalan Palestina.
“Setelah pertemuan ini, para sekretaris jenderal akan membahas bagaimana teknis pengumpulan dan penyaluran bantuan untuk Palestina,” katanya.
Karena persoalan kebangsaan, maka bantuan yang nanti terkumpul akan diberikan melalui jalur negara guna menghindari salah alamat. Hal itu bisa melalui Dubes. Namun, itu setelah mendapatkan arahan dari Kementerian Luar Negeri.
“Karena di Palestina juga banyak faksi-faksi yang masih bertikai. Jadi kita tidak mau salah alamat,” kata pria yang pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta ini.
Sementara itu, Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Viva Yoga Mauladi juga menyatakan hal tak jauh berbeda, yakni organisasi alumni Cipayung ini diikat dalam semangat kebangsaan.
“Kita terus merajut paham kebangsaan, dalam kegiatan alumni kelompok Cipayung ini,” tutur Politisi PAN ini.
Menurut Yoga, persoalan Palestina bukan merupakan masalah agama, melainkan permasalahan kemanusiaan. Ia juga memuji sikap pemerintah Indonesia yang selalu konsisten terhadap masalah Palestina ini.
“Dari pemerintahan Bung Karno, sampai Pak Jokowi, tetap konsisten. Tetap tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel,” ujar Yoga.
“Selama Bangsa Palestina belum dipimpin oleh orang-orang Palestina. Maka selama itu pula, Bangsa Indonesia akan terus melawan Israel,” sambung Yoga mengutip pernyataan Bung Karno.
Namun Yoga juga berharap, agar faksi-faksi yang ada di Palestina bersatu. Jangan menggunakan sentimen keagamaan untuk mendukung kepentingan faksi-faksi di Palestina.
Selain Yoga dan Basarah, beberapa pentolan organisasi alumni Cipayung juga hadir, di antaranya Sekretarsis Jenderal (Sekjen) Ikatan Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Hanif Dhakiri dan Sekjen Pengurus Nasional Perkumpulan Senior (PNPS) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sahat Sinaga, Tak Ketinggalan, Ketum Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI), Hermawi Taslim. Acara dipandu oleh Sekjen Majelsi Nasional KAHMI, Manimbang Kahariady. (arm)