Gaya Hidup

Nono dan Menggali Potensi Alam Pulau Mupuruka, Papua

INDOPOSCO.ID – Langkahnya tak surut meski ia tak tahu besarnya gelombang yang akan menghadangnya. Tekadnya bulat tatkala suasana itu tak lajim dalam hidupnya, keringat yang mengucur deras didahi turun membasahi kemeja putih yang dikenakannya, menandakan suhu itu sudah tak bersahabat dengannya. Tapi semua ketidaknyamanan itu tak dihiraukan dan tantangan itu harus dilaluinya hingga sampai tujuan. Dia adalah Sulaksono atau biasa disapa Nono. Pria berdarah Jawa Tengah (Jateng) kelahiran Biak 39 tahun silam itu tengah merangkak pasti menggali potensi alam Pulau Mupuruka, Papua untuk meningkatkan ekonomi penduduk setempat.

Terik matahari mulai membakar kulit sawomatangnya, meski jam di tangan baru menunjukkan pukul 11.00 WIT (Waktu Indonesia Timur), namun suhu udara hampir mendekati 40 derajat celcius. Panas menyengat itu bukan hanya dari atas yang langsung memapar ke tubuh, namum pantulan terik dari hamparan pasir dan bebatuan di sekitar Pelabuhan Poumako, juga membuat suasana begitu sempurna panasnya.

Serasa masuk dalam alat pemanggang yang isinya hampir matang, begitu gambaran sengatan matahari turut membakar semangat yang makin berkobar. Pipinya kemerahan, sesekali tangan lembutnya mengusap butiran keringat yang mengalir dari kepala ke keningnya, tapi ia masih bisa tersenyum dan mengkayuh langkah hingga masuk ke perahu yang akan membawanya menuju Pulau Mupuruka yang diyakini sebagai surga udang diujung barat tengah Kabupaten Mimika.

Perubahan iklim akhir – akhir ini memang makin ekstrem, sebentar begitu terik, tapi tiba-tiba bisa juga langsung berganti dengan hujan deras yang semalaman tidak akan berhenti. Cuaca itu tak membuat niat untuk menyusuri pulau yang masih asing di telinga Nono. Kalau beberapa pulau di sekitar Mupuruka, sudah ada yang disambanginya dan beberapa di antaranya juga sudah sering didengar. Nama Mupuruka serasa memiliki magnet tersendiri bagi jebolan Universitas Pelita Harapan (UPH) tersebut.

Kapal viber kecepatan sedang meluncur menuju tujuan, kapal dengan kapasitas muatan ideal 1 ton atau untuk orang 12-15 orang itu melewati beberapa desa yang sudah akrab ditelinga Nono seperti Desa Kampus Biru, Atuka, Ekwa, Ipaya dan Pulau Ngawer.

Setelah enam jam perjalanan melewati gelombang laut, sesekali menyusuri sungai Sabtu (21/8/2021) pukul 17.00 waktu Mupuruka, kapal yang membawa pria bertubuh tambun tersebut pun sandar di jembatan penghubung antara sungai dan pemukiman warga. Sengat matahari mulai hilang, perlahan menuju peraduan, namun rasa hangat tetap ada, lewat pantulan pasir yang mengelilingi pemukiman di Mupuruka.

Kehangatan lain datang dari masyarakat yang melihat ada sosok bersahaja, melangkah tegap melewati jembatan yang mulai agak reyot dan tiang jembatan pun mulai goyang, jika tak cermat melangkah bisa saja kaki jeblos ke air karena berapa papan jembatan sudah hilang. Mulai dari anak kecil sampai orang tua dengan sigap membantu membawa semua barang bawaan Nono dan tim.

Spontan, mama-mama –sebutan untuk ibu ibu di desa tersebut– menyuguhkan tarian khas masyarakat lokal, sebagai pengganti ucapan selamat datang baik dari tokoh dan masyarakat. Sambutan mendadak yang berkesan, kesederhanaan namun sangat bermakna karena kehadiran Nono dan tim di Mupuruka sifatnya blusukan, tidak ada informasih ke tokoh atau masyarakat akan hadirnya sosok pengusaha muda, menyambangi kampung tersebut.

Masyarakat berbagi tugas, yang membawa barang berjalan, yang menari tetap menyambut dengan tarian, sementara jumlahnya masyarakat turun makin banyak. Dari 250 penduduk keseluruhan hanya bayi dan orang tua yang tak kuat berdiri yang tak ikut menari. Sambutan yang luar biasa, suara riuh dari warga yang melihat hadirnya tamu, membuat Nono dan tim merasa tersangjung. Tak menyangka ada sambutan spontan yang sekeren itu.

”Sambutan yang luar biasa, meski mereka belum tahu siapa kita. Siapa pun tamu yang datang dihormati dan disambut sebegitu hangat dengan tarian sederhana, tapi saya sangat berkesan dan saya merasa tersanjung, dan bangga disambut begitu,’’ ujar bungsu dari tiga bersaudara itu.

Indoposco
Sulaksono Atau Nono. Foto: Nelly Marinda Situmorang/Indoposco.id

Wajah lelah selama dalam perjalanan sirna tatkala Nono mengikuti gerakan tarian simple yang dipertontonkan oleh masarakat, riuh suara gembira dari gerbang selamat datang diarak sampai rumah kepala desa.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button