• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Nono dan Menggali Potensi Alam Pulau Mupuruka, Papua

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 10 Oktober 2021 - 10:32
in Gaya Hidup
indoposco

Sulaksono atau Nono (baju putih) dan timnya bersama masyarakat Pulau Mupuruka, Papua. Foto: nelly marinda situmorang/indoposco.id

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Langkahnya tak surut meski ia tak tahu besarnya gelombang yang akan menghadangnya. Tekadnya bulat tatkala suasana itu tak lajim dalam hidupnya, keringat yang mengucur deras didahi turun membasahi kemeja putih yang dikenakannya, menandakan suhu itu sudah tak bersahabat dengannya. Tapi semua ketidaknyamanan itu tak dihiraukan dan tantangan itu harus dilaluinya hingga sampai tujuan. Dia adalah Sulaksono atau biasa disapa Nono. Pria berdarah Jawa Tengah (Jateng) kelahiran Biak 39 tahun silam itu tengah merangkak pasti menggali potensi alam Pulau Mupuruka, Papua untuk meningkatkan ekonomi penduduk setempat.

Terik matahari mulai membakar kulit sawomatangnya, meski jam di tangan baru menunjukkan pukul 11.00 WIT (Waktu Indonesia Timur), namun suhu udara hampir mendekati 40 derajat celcius. Panas menyengat itu bukan hanya dari atas yang langsung memapar ke tubuh, namum pantulan terik dari hamparan pasir dan bebatuan di sekitar Pelabuhan Poumako, juga membuat suasana begitu sempurna panasnya.

BacaJuga:

Tekanan Air Lemah Tak Lagi Jadi Masalah, WizFlo Hadirkan Sensasi Mandi Optimal

Gugatan Ganti Rugi Berujung Kekalahan, HYBE dan ILLIT Dibebani Semua Biaya Hukum

CORTIS Tembus 2 Juta Kopi dalam 4 Hari, “GREENGREEN” Meledak di Pasar Global

Serasa masuk dalam alat pemanggang yang isinya hampir matang, begitu gambaran sengatan matahari turut membakar semangat yang makin berkobar. Pipinya kemerahan, sesekali tangan lembutnya mengusap butiran keringat yang mengalir dari kepala ke keningnya, tapi ia masih bisa tersenyum dan mengkayuh langkah hingga masuk ke perahu yang akan membawanya menuju Pulau Mupuruka yang diyakini sebagai surga udang diujung barat tengah Kabupaten Mimika.

Perubahan iklim akhir – akhir ini memang makin ekstrem, sebentar begitu terik, tapi tiba-tiba bisa juga langsung berganti dengan hujan deras yang semalaman tidak akan berhenti. Cuaca itu tak membuat niat untuk menyusuri pulau yang masih asing di telinga Nono. Kalau beberapa pulau di sekitar Mupuruka, sudah ada yang disambanginya dan beberapa di antaranya juga sudah sering didengar. Nama Mupuruka serasa memiliki magnet tersendiri bagi jebolan Universitas Pelita Harapan (UPH) tersebut.

Kapal viber kecepatan sedang meluncur menuju tujuan, kapal dengan kapasitas muatan ideal 1 ton atau untuk orang 12-15 orang itu melewati beberapa desa yang sudah akrab ditelinga Nono seperti Desa Kampus Biru, Atuka, Ekwa, Ipaya dan Pulau Ngawer.

Setelah enam jam perjalanan melewati gelombang laut, sesekali menyusuri sungai Sabtu (21/8/2021) pukul 17.00 waktu Mupuruka, kapal yang membawa pria bertubuh tambun tersebut pun sandar di jembatan penghubung antara sungai dan pemukiman warga. Sengat matahari mulai hilang, perlahan menuju peraduan, namun rasa hangat tetap ada, lewat pantulan pasir yang mengelilingi pemukiman di Mupuruka.

Kehangatan lain datang dari masyarakat yang melihat ada sosok bersahaja, melangkah tegap melewati jembatan yang mulai agak reyot dan tiang jembatan pun mulai goyang, jika tak cermat melangkah bisa saja kaki jeblos ke air karena berapa papan jembatan sudah hilang. Mulai dari anak kecil sampai orang tua dengan sigap membantu membawa semua barang bawaan Nono dan tim.

Spontan, mama-mama –sebutan untuk ibu ibu di desa tersebut– menyuguhkan tarian khas masyarakat lokal, sebagai pengganti ucapan selamat datang baik dari tokoh dan masyarakat. Sambutan mendadak yang berkesan, kesederhanaan namun sangat bermakna karena kehadiran Nono dan tim di Mupuruka sifatnya blusukan, tidak ada informasih ke tokoh atau masyarakat akan hadirnya sosok pengusaha muda, menyambangi kampung tersebut.

Masyarakat berbagi tugas, yang membawa barang berjalan, yang menari tetap menyambut dengan tarian, sementara jumlahnya masyarakat turun makin banyak. Dari 250 penduduk keseluruhan hanya bayi dan orang tua yang tak kuat berdiri yang tak ikut menari. Sambutan yang luar biasa, suara riuh dari warga yang melihat hadirnya tamu, membuat Nono dan tim merasa tersangjung. Tak menyangka ada sambutan spontan yang sekeren itu.

”Sambutan yang luar biasa, meski mereka belum tahu siapa kita. Siapa pun tamu yang datang dihormati dan disambut sebegitu hangat dengan tarian sederhana, tapi saya sangat berkesan dan saya merasa tersanjung, dan bangga disambut begitu,’’ ujar bungsu dari tiga bersaudara itu.

indoposco
Sulaksono atau Nono. Foto: nelly marinda situmorang/indoposco.id

Wajah lelah selama dalam perjalanan sirna tatkala Nono mengikuti gerakan tarian simple yang dipertontonkan oleh masarakat, riuh suara gembira dari gerbang selamat datang diarak sampai rumah kepala desa.

Sebelum dipersilakan untuk masuk di rumah panggung yang menjadi ciri rumah rumah di desa tersebut, Nono dan tim diajak kembali menari seraya berlari kecil, berputar sebanyak tiga kali di depan rumah kepala desa. Setelah puas ikut dalam kegembiraan masyarakat, Nono dan tim pun dipersilakan duduk di kursi yang dipersiapkan seketika itu juga.

Seraya berkenalan dengan sekretaris desa, keluarga kepala desa dan perangkat desa lainnya, karena kepala desa setempat baru wafat 38 hari yang lalu. Malam hari, masyarakat kembali berkumpul untuk berkenalan lebih dekat, apa maksud dan tujuan sang tamu menyambangi desa yang berada ditengah hutan tersebut.

Dengan santun Nono menjabarnya keinginannya untuk maju bersama masyarakat, menggali potensi sumberdaya alam alam laut Mupuruka, untuk kesejahteraan bersama. “Kami datang untuk bekerja bareng. Bapak dan ibu di sisi hulu, kami mencoba dari hilirnya,” ucap pria mudah senyum itu.

Setelah memberikan penjelasan panjang lebar, masyarakat pun sepakat mau dibina untuk tumbuh bersama, pertemuan singkat yang begitu akrab dan bisa saling memahami. Semoga berjalan seperti yang diharapkan, untuk memberikan kehidupan yang lebih layak di Mupuruka seperti cita-cita mulia Sulaksono.

Dia juga dengan sabar mendengarkan berbagai keluhan masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, kesulitan dapat bahan bakar minyak, mahalnya es batu, dan rendahnya harga tangkapan mereka. Setelah saling bicara, sepakat kerja sama terlajin, untuk menumbuhkan perekonimian di wilayah lumbung udang di ujung Barat Mimika.

Sebelum kembali ke Timika, pada kesempatan itu Nono dan tim menjajal jaring yang dibagikan ke nelayan. Alhasil, mengejutkan, udang dengan ukuran yang dibutuhkan terjaring, Nono pun tersenyum bahagia, karena apa yang ada dibenaknya terealisasi ada di lapangan.

Kali ini, Nono dan tim mencoba menjaring menurunkan jaring ketiga kalinya ke laut, hasil jaring yang hanya ujicoba satu jam, bisa disimpulkan, udang di laut sudah siap panen.

“Dari ukuran udang sudah saat nya panen, seharus nya udang Mupuruka tidak bergantung musim. Kita pastikan nelayan bisa menanhkap terus. Karena ada hutan bakau,” harapnya penuh optimistis.

Selepas makan siang, Nono dan tim berpamitan, diantar oleh tokoh masyarakat dilepas pulang sampai dermaga. Air mata bahagia melepas kepulangan, seraya berharap segera kembali untuk merealisasikan semua program yang sudah dibahas dan direncanakan dengan masyarakat.

“Kita bisa realisasikan target ekspor empat kali ke Jepang per bulan. Saya bangga bisa membeli udang langsung dari masyarakat. Lewat potensi alam laut Mupuruka yang banyak udang, saya berkesimpulan udang bisa menyehatkan, mencerdaskan dan mensejahtrakan,” pungkasnya dengan penuh senyuman.

(nelly marinda situmorang)

Tags: nelayanPapuaPulau Mupuruka

Berita Terkait.

shower
Gaya Hidup

Tekanan Air Lemah Tak Lagi Jadi Masalah, WizFlo Hadirkan Sensasi Mandi Optimal

Senin, 11 Mei 2026 - 10:15
ILLIT
Gaya Hidup

Gugatan Ganti Rugi Berujung Kekalahan, HYBE dan ILLIT Dibebani Semua Biaya Hukum

Sabtu, 9 Mei 2026 - 18:02
Cortis
Gaya Hidup

CORTIS Tembus 2 Juta Kopi dalam 4 Hari, “GREENGREEN” Meledak di Pasar Global

Sabtu, 9 Mei 2026 - 14:08
Perfect-Crown
Gaya Hidup

Cuplikan Episode 9 “Perfect Crown”: Air Mata Hui Ju dan Keputusan Sang Ayah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:06
Lari
Gaya Hidup

PLN EPI Dorong Pegawai Lebih Aktif dan Sehat lewat Wellness Terintegrasi

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:05
Gala-Premier
Gaya Hidup

Bukan Sekadar Horor, Tumbal Proyek Angkat Drama Keluarga yang Menyentuh

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:03

BERITA POPULER

  • psim

    PSIM vs Malut United: Laskar Kie Raha Enggan Terkecoh Tren Buruk Tuan Rumah

    691 shares
    Share 276 Tweet 173
  • Lisa Blackpink dan Ningning aespa Tuai Kontroversi, Seruan Boikot Menguat

    666 shares
    Share 266 Tweet 167
  • Brigpol Arya Supena Tewas Ditembak Pelaku Curanmor, Ketua Komisi III: Polisi Teladan, Insya Alloh Syahid

    663 shares
    Share 265 Tweet 166
  • DPR Didesak Turun Tangan, Warga Pam Baru Benhil Bersikukuh Tolak Penggusuran Paksa

    674 shares
    Share 270 Tweet 169
  • HUT Ke-40, Patelki Tegaskan Peran ATLM sebagai Pilar Presisi Diagnostik

    658 shares
    Share 263 Tweet 165
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.