Disway

Siapa Membunuh Putri (29)

BAP
Oleh: Hasan Aspahani

INDOPOSCO.ID – RUMAH Rinto selalu begini suasananya. Rumah besar yang lengang. Tenang. Agak misterius. Dia tinggal sendiri. Anak-anaknya tinggal di luar negeri. Ada pembantu yang bekerja pulang hari membereskan pekerjaan rumah dan merawat taman. Saya hari itu melihatnya tidak seperti orang yang habis sakit. Atau habis menjalani operasi berat.

”Sudah sehat, Pak?” tanya saya. ”Bagaimana operasinya?”
”Biasa, sehat-sehatnya orang tua seperti saya,” katanya. ”Pak Azhari, calon mertuamu itu cerita apa saja?”

Berita Terkait

”Tak banyak, Pak. Cuma menyebut nama Pak Rinto sebagai salah satu temannya waktu dia aktif sebagai wartawan di sini,” kata saya. Dan memang cuma itu. Pak Rinto mengangguk-angguk.

”Kami lebih dari sekadar teman. Tapi benar ya dia tak cerita lebih dari itu?” tanya Pak Rinto sekali lagi. Seolah cemas ada yang saya tahu dari ayah Inayah yang harus ia jelaskan padaku. ”Ia tak berubah ternyata.”

“Apa pun yang dia ceritakan padamu, Dur, kalau ada, saya tak akan membantahnya, tapi saya yakin kamu jujur, seperti dia, bahwa dia tak cerita apa-apa. Saya ingin kamu tahu cerita yang sebenarnya. Ini bagi kami seperti rahasia yang kami jaga,” kata Pak Rinto.

Rinto dan Azhari muda datang ke Borgam pada tahun yang sama. Di tahun-tahun awal, Azhari sempat menumpang sebentar di rumah dinas Rinto. Tak sulit bagi mereka untuk menjalin hubungan yang kemudian berkembang menjadi persahabatan.

Rinto polisi berdedikasi. Azhari wartawan yang idealis. Mereka berdua, dengan profesi masing-masing ingin memberi kontribusi pada kota pulau ini, kota yang mereka bayangkan sebagai masa depan mereka, seperti ratusan ribu pendatang lainnya.

Rinto selalu memasok Azhari dengan informasi-informasi penting yang bisa dia akses, terkait fakta-fakta dan kejadian penting. Dengan dedikasi dan peran masing-masing, keduanya merasa ikut mengarahkan Borgam agar berkembang ke arah yang benar. Ibarat seorang ibu yang melahirkan anak, mereka ingin jangan sampai kota ini lahir dengan terlalu banyak pendarahan.

“Kami sadar bahwa terlalu besar musuh yang kamu hadapi. Musuh itu maksud saya situasi, keadaan, yang terjadi karena lebih banyak orang yang menyesuaikan diri dengan hukum rimba, aturan ala mafia. Kamu faham kan? Siapa yang kuat, yang banyak modal dia bisa mengatur dan membeli peraturan dan orang-orang yang pegang kekuasaan. Itu yang kami hadapi. Azhari lebih dahulu menyerah. Ia tinggalkan kota ini, jadi dosen. Dia orang yang cerdas. Dia cocok jadi orang kampus. Kegelisahannya membuat dia selalu kembali ke sini, sebagai akademisi dan peneliti, bukan sebagai wartawan. Saya bertahan beberapa tahun sebagai polisi. Sebelum keluar,” katanya.

“Terus, selepas tak lagi dinas, apa yang Pak Rinto kerjakan?”
“Nah itu rahasianya. Saya ceritakan ke kamu sekarang,” katanya.

Rinto dan Azhari muda, dulu, pernah menolong beberapa perempuan muda korban trafficking, perdagangan manusia. Mereka direkrut sebagai tenaga di tempat-tempat hiburan, karaoke, panti pijat, bar, mereka diiming-imingi gaji menggiurkan, nyatanya mereka tak lebih dari sekadar dijadikan pelacur.

Dipekerjakan seperti budak. Terikat kontrak, tak bisa lari, dikawal ketat.

Suatu kali ada enam orang kabur dan dikejar preman suruhan pemilik pelacuran. Saya masih ingat nama-nama mereka. Enam orang itu membawa bukti-bukti keterlibatan beberapa oknum keamanan dan nama-nama tokoh besar lain.

Rinto dan Azhari mengupayakan enam orang itu lari mengamankan diri dulu ke luar pulau dengan kapal lewat pelabuhan tikus. Mereka bawa bukti-bukti yang mereka punya. Modal perlawanan mereka. Di tengah laut, awak kapal yang ternyata sudah dibayar oleh jaringan mafia itu, terjun ke laut dan kapal itu dibakar. Enam orang perempuan malang itu itu hilang. Tak berjejak.

“Azhari sangat terpukul. Ia merasa telah ikut membunuh enam orang itu. Ia tak bisa melakukan apa-apa. Tak ada sumber yang tahu, kalaupun tak tak ada yang mau buka mulut. Koran tempatnya bekerja tak mau memuat beritanya. Ia mendesak saya untuk melakukan sesuatu. Saya juga tak bisa apa-apa. Atasan saya tak memercayai laporan saya. Kamu tahu apa kata atasan saya waktu itu? ‘Selama tak muncul di koran berarti tak ada kejadian itu’, katanya,” kata Pak Rinto.

Sejak itu Pak Rinto percaya betul pada kekuatan media yang independen, yang dikelola wartawan yang masih punya idealisme. Tapi media kerap ada pada posisi yang rapuh, seringkali tinggal berdiri sendiri atau dengan mudah terbeli. Atau menyerah.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button