Disway

Siapa Membunuh Putri (20)

Jangan Mengadu Domba

INDOPOSCO.ID – Pulang dari makan malam di kelong, di Watubesar, Inayah memintaku menemaninya kembali ke pesantren. Edo saya minta pulang sendiri. Di mobil, selama perjalanan ke Watuaji, Inayah bercerita banyak tentang rencana-rencananya mengembangkan pesantren, koperasi, dia bahkan punya ide bikin majalah dakwah.

”Redaksinya siapa?” tanyaku.
”Anak-anak pesantren. Kamu sudah lihat tulisan mereka kan?”

”Sudah, bagus-bagus. Beberapa dari mereka berbakat. Siapa itu? Indra sama Aidil itu yang paling berbakat.”

Berita Terkait

”Rodi juga. Anak dari panti dulu itu,” kata Inayah.

”Iya dia juga,” kataku. Tapi kuingatkan dia, untuk menerbitkan majalah tak hanya perlu penulis yang bagus. Perlu modal yang cukup untuk biaya cetak di tahun-tahun awal, perlu pengelola bisnis yang paham dunia media.

”Kan ada kamu, Bang Dur. Kamu terbukti berhasil membesarkan dua koran. Kata Ustad Samsu sih gitu. Iya kan?”

”Mau merekrut saya nih ceritanya? Bu Ustadzah Inayah investornya? Saya mau digaji berapa nih?” kataku menggoda dia.

”Saya paksa untuk kerja tanpa gaji. Mau?”

”Atau….,” kataku menggodanya dengan kalimat menggantung.
”Atau apa?” suara Inayah berubah manja dan balik menggoda.
”Atau, bayar saya dengan cintamu. Saya mau…,”
“Oh, kalau itu gak cukup dengan kerja gratis di majalah dakwah itu saja. Dan kontraknya harus sampai mati,… Berani?”

Kami terdiam. Hanya sekilas berpandangan lalu saling lempar mata ke arah lain. Aku menatap ke samping, Inayah menatap lurus ke depan.

”Sudah ada nama majalahnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
”Manzilah. Bagus kan? Artinya… peredaran. Garis edar,” kata Inayah.
”Bagus… Kata itu ada di Surah Yasin ya…”

Kami kembali terdiam. Sampai mobil berhenti di pesantren. Malam itu saya tidur di asrama pesantren. Saya tidur dengan sangat nyenyak. Tapi kata anak-anak santri, malam itu saya bermimpi. Saya seperti bernyanyi atau bersenandung. Saya tak pernah bermimpi begitu. Pagi-pagi ada sarapan tersedia untukku di kamar. Kata yang mengantar itu dari Ustadzah Inayah.

Saya minta Edo menjemput saya di pesantren. Sampai pukul 10 dia belum sampai. Sampai kemudian dia menelepon ke ponsel saya. Dia menelepon dari Polrestabes. Dia ditahan sejak malam kembali dari Kelong.

”Di Simpangkapal ada razia. Saya distop, mereka periksa mobil. Terus katanya ada ganja di mobil kita. Saya tak tahu mereka temukan di bagian mana. Saya pastikan itu bukan punya saya. Saya tak pernah pakai ganja, tak pernah berurusan dengan penjual ganja,” kata Edo.
”Oke, tunggu. Saya ke sana,” kata saya.

Saya menelepon Bang Eel. Juga Bang Jon. Ferdy menelepon saya juga menanyakan soal itu. Dia juga serta-merta datang ke Polrestabes. Di ruang tamu Kasatnarkoba saya menemani Edo. Dia tak ditahan. Cek urine-nya bersih. Tadi juga dijelaskan tak ada sidik Edo jari di bungkusan plastik ganja yang disita polisi.

Sepertinya yang diincar malam itu saya, bukan Edo. Kata Edo, yang distop hanya mobil Dinamika Kota. Untung saja tadi malam Inayah mengajak saya ke pesantren.

”Saya sudah tahu trik polisi. Mereka kalau mau jebak kita pas razia, mereka suruh kita pegang barang yang katanya ditemukan di mobil kita, pura-pura tanya, ’ini apa?’ Ah, saya sudah hafal itu. Di mana-mana sama saja. Kalau kita pegang nah, kena kita, habis kita, ada sidik jari kita di situ,” kata Edo bicara setengah berbisik padaku.

Saya dipanggil ke masuk ke ruangan khusus menemui Kasatnarkoba Polres Bogram AKP Heru Rusdiyanto. Dia termasuk polisi senior. Karirnya berjalan normal, tak pernah melejit. Orangnya bersih. Ferdy datang, dia temani Edo di ruang tunggu.

Bang Eel, Bang Jon sudah ada di situ. AKP Heru menjelaskan razia malam itu bukan atas perintahnya. Itu razia liar atas suruhan eorang perwira terkait AKBP Pintor. Menurutnya, sudah lama ada kubu-kubuan di tubuh Polresta Borgam. Yang sekarang di atas angin adalah kubu yang dikepalai oleh AKPB Pintor.

”Saya ini netral. Saya tak suka kubu-kubuan. Saya selalu ingatkan Pak Kapolresta agar menghentikan itu. Tapi sepertinya beliau lebih mendengar suara lain,” kata AKP Heru.
”Kasus Putri ini sejak awal saya tahu penanganannya tak benar. Itu semua kelihatan di sidang kan, berantakan semua. Keluarga AKBP Pintor, terutama ibu mertuanya tambah bikin kacau,” kata AKP Heru.

”Jadi menurut Bapak kami harus bagaimana? Maksud saya di luar urusan pemberitaan. Kalau soal berita kami akan tetap seperti selama ini karena kami tak melanggar apa-apa,” kata Bang Eel.

”Terus saja memberitakan apa adanya. Akan ada mutasi besar-besaran,” kata AKP Heru.
”Kapolresta kita bertahan?” tanya saya.

”Masih nego kelihatannya. Kalau pun diganti momennya menunggu Hari Bhayangkara. Beberapa bulan lagi.”
”Nego apa ya, Pak Kasat?” tanyaku.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button