Disway

Siapa Membunuh Putri (14)

Edo Terpedo

Oleh: Hasan Aspahani

INDOPOSCO.ID – SAYA baru menyadari di lorong rumah sakit itu seorang pemuda Ambon sejak tadi berdiri, sejak saya datang, masuk menengok Ferdy dan keluar. Ia masih di situ.

Berita Terkait

Tatapannya awas. Anak dan istri Ferdy belum ada di rumah sakit. Apa mereka sudah tahu? Ada dua orang polisi datang. Saya dengar dari luar, mereka bertanya pada Ferdy soal penganiayaan yang dia alami.

Ferdy tak bisa merespons dengan baik. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Keluar dari ruangan dua polisi itu membawa si pemuda Ambon tadi.

Saya bergegas ke sekuriti di lobi, bertanya siapa yang datang membawa Ferdy ke rumah sakit. Ia memberi gambaran sosok yang persis dengan si pemuda Ambon yang dibawa polisi tadi.

Saya ke bagian pendaftaran pasien. Ferdy masuk atas jaminan Edo Terpedo. Mungkin nama itu si pemuda. Saya lekas-lekas menyusul ke Polresta.

Edo Terpedo? Nama aslikah? Rasanya bukan. Juga bukan nama yang pernah saya dengar. Kalau ia preman lama rasanya saya pasti pernah mendengar. Saya menelepon Bang Jon. Ia juga bilang tak kenal. Saya menceritakan kejadian yang dialami Ferdy. Bang Jon bilang mau ketemu saya, dan segera menyusul ke Polresta. Majalahnya tampaknya lumayan diterima pembaca. Beberapa kali saya kirim cerita pendek.

Ia minta saya menulis untuk majalahnya itu. Lumayan juga buat berlatih menulis fiksi. Saya dan Bang Jon tiba di Polresta nyaris bersamaan. Ia malah sampai lebih dahulu. Kami lalu sama-sama masuk menemui petugas yang sedang memeriksa Edo. Ya, benar namanya Edo. Ia menatap kami seperti mohon pertolongan.

Petugas yang tampaknya sudah selesai memeriksanya. Petugas itu pergi. Edo masih duduk di hadapan meja si petugas. Bang Jon minta saya menunggu. Ia masuk ke ruang Kabareskrim.

Dengan suara berhati-hati, Edo bicara pada saya, ”Abang Abdur?” Saya mendekat. ”Saya Edo, Bang. Ferdy sebelum tak sadar di rumah sakit bilang ke saya temui Abang…” kata Edo.

”Sebelum pingsan karena kau hajar?”

“Bukan, Bang… Bukan saya yang pukul Ferdy…” kata Edo.

”Jadi?”

Belum sempat Edo menjawab, Bang Jon keluar bersama petugas pemeriksa dan pemberkasan pemeriksaan tadi.

Ia bicara pada Edo.

”Sudah, kamu boleh pulang. Kamu tidak ditahan, aku jaminannya,” kata Bang Jon.

”Banyak sekali wartawan di luar…?” tanya Edo tak jelas kepada siapa, tapi ia menatapku.

”Tak usah dilayani. Nanti suruh mereka tanya humas saja,” kata Bang Jon.

Saya mengajak Edo keluar dari ruang pemeriksaan. Kami bergegas ke tempat parkir. Hanya untuk menghindari wartawan.

Beberapa sempat juga bertanya padaku soal penganiayaan Ferdy. Saya menjawab bahwa memang benar itu terjadi. Beberapa wartawan bertanya pada Edo. Saya melihat ia seperti ketakutan.

”Ini saudara Ferdy, tak ada kaitannya dengan penganiayaan,” saya menjawab sembarangan saja. Beberapa orang tanpa izin memotret kami.

Di tempat parkir saya bertanya pada Edo.

”Kau mau pulang ke mana?”

Edo tampak kebingungan. Karena saya tertarik untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya mengajaknya ke kantor Dinamika Kota.

Edo baru saja tiba dari Ambon lewat laut. Singgah di beberapa kota, Surabaya, Jakarta, sebelum kapal Pelni sandar di Pelabuhan Sekumpang. Dia kerabat istri Ferdy. Ia diutus keluarganya untuk menemukan Ferdy dan istrinya. Menyuruhnya bercerai dan membawa istri Ferdy pulang. Ferdy menemui Edo di rumah kerabat istrinya tempat dia semula menumpang sebelum tinggal di rumah kontrakanku.

”Kami bertengkar dan sempat tak bisa kendalikan emosi. Saya lebih dahulu pukul dia,” kata Edo. Lalu, tiba-tiba saja datang beberapa orang preman, mungkin ada empat motor, kata Edo. Mereka langsung menyerang Ferdy.

”Saya tak tahu siapa mereka. Saya tak tahu kenapa mereka serang Ferdy. Saya yang bawa Ferdy ke rumah sakit. Saya tanya paman-paman saya semua juga diam saja, sepertinya mereka tahu,” kata Edo.

Kini jelas bagiku, Edo tak terlibat dengan pemukulan Ferdy. Edo katakan ia sudah sampaikan itu semua pada polisi. Saya menduga penyerangan itu ada kaitannya dengan berita-berita Ferdy tentang pembunuhan Putri. Saya ingat satu percakapan dengan Pak Rinto tentang bagaimana para penegak hukum itu menutupi kasus.

Polisi, kejaksaan, dan/atau – ya bahasanya seperti bahasa hukum pakai dua kata sambung dan/atau – pengadilan bisa bermain bersama, yang penting media bisa dipastikan bungkam. Kalau media masih memberitakan, maka kesepakatan bubar.

”Itulah pentingnya pers sebagai kontrol. Itulah pentingnya wartawan yang idealis dan berani. Pekerjaan kalian itu tak ringan, Dur. Penuh risiko. Hati-hati, tapi jangan pernah takut,” kata Pak Rinto kala itu.

Ada orang yang menemui saya belum lama berselang. Tak jelas siapa. Mengakunya orang utusan asosiasi importer mobil. Kalau urusannya pasang iklan jual mobil, saya katakan temui saja manajer iklan kami.
“Oh, ini justru kami diminta oleh Kang Uus menemui Bang Abdur langsung,” kata si utusan. Kang Uus adalah nama manajer iklan Dinamika Kota. Seorang marketer andal. Jejaringnya luas sekali di kota ini. Ia yang bikin omzet iklan kami tumbuh terus tiap bulan.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button