Disway

Peneliti Omicron

INDOPOSCO.ID – Sampai kemarin ”baru” delapan orang Indonesia yang terpapar Omicron –varian ke 19 Covid-19. Di balik bumi sana, di Amerika, sehari kemarin saja kasus barunya mencapai 250.000 orang. Di Inggris 120.000 orang. Di Rusia tidak jauh dari itu.

Di sana, gelombang ketiga Covid-19 sudah melebihi tingginya gelombang kedua. Angka tertinggi gelombang ketiga itu terjadi tepat di saat matahari dalam posisi paling Selatan. Mulai hari ini –dan seterusnya sampai akhir Juli– matahari akan kembali bergeser pelan-pelan ke utara.

Maafkan istilah matahari bergeser itu sebenarnya salah total. Anda sudah tahu: matahari itu tidak bergerak. Tidak pernah bergeser ke mana pun. Bumilah yang berputar dan memutari matahari. Pun matahari sebenarnya tidak pernah terbit dan tenggelam –hanya penyair dan pencipta nyair lagu yang mengada-adakannya. Juga kitab suci?

Berita Terkait

Dari delapan orang yang terpapar Omicron itu tidak satu pun yang bergejala berat. Semuanya dikarantina di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Semuanya kasus impor. Kini semuanya sudah kembali negatif.

Di Singapura juga belum ada angka-angka yang berbahaya. Tapi negara tetangga itu sudah antisipasi maksimal: mulai kemarin tidak ada lagi penjualan tiket apa pun dengan tujuan Singapura. Hanya yang sudah telanjur membeli tetap diizinkan masuk.

Negara di belahan selatan seperti Brasil kasus barunya tidak meledak. Stabil di kisaran 3.000 sehari. Di Afrika Selatan, tempat lahirnya Omicron, juga terus melandai.

Semua angka itu di mata ahli virus seperti drh Indro Cahyono adalah angka paparan. Bukan angka terinfeksi. Itu karena didasarkan pemeriksaan di dalam hidung. Ia membedakan antara terpapar dan terinfeksi.

“Terpapar itu kan sama dengan ketempelan virus. Nempelnya di dalam hidung,” katanya. “Maka mengatasinya juga sederhana. Lepaskan tempelan virus itu. Dengan cara cuci hidung dengan air garam. Juga cuci tenggorokan. Mudah. Murah,” ujarnya.

Rupanya drh Indro penganut prinsip “orang hidup itu harus pernah membuat sejarah –sekecil apa pun”. Selama masa Covid ini ia sudah bikin dua sejarah penelitian: protokol rakyat dan paparan sinar UV terhadap virus.

“Kelihatannya sepele. Protokol Rakyat itu bentuknya cuci hidung. Tapi penelitiannya tidak sederhana. Penelitiannya lama lho,” katanya. Terutama bagaimana virus itu sampai menempel, seberapa kuat tempelannya dan apa yang akhirnya bisa membuat tempelan itu lepas. (Disway 19/7/2021: Protokol Rakyat).

Indro mengajak buka-bukan: agar semua peneliti virus Covid di Indonesia mengungkapkan penelitian apa saja yang pernah dilakukan selama pandemi ini.

Dengan buka-bukaan itu, katanya, kita jadi tahu apakah para ahli virus kita telah melakukan penelitian yang sesungguhnya. “Atau hanya cuplik data primer dan sekunder yang sudah ada,” ujarnya.

Indro tidak rela kalau rakyat diombang-ambingkan oleh angka-angka yang diolah berdasar kepentingan masing-masing.

Saya termasuk senang mendengar prinsip drh Indro ini: apa pun variannya tetap saja Covid-19. Artinya, tingkat kematiannya hanya dua sampai tiga persen. Waspada dan hati-hati perlu. Tidak harus terteror oleh ketakutan.

Bahwa sampai hari ini paparan Omicron di Indonesia tetap rendah faktornya memang banyak. Vaksinasi sudah meluas. Herd immunity sudah tercapai. Masyarakat kian hati-hati. Dan paparan sinar UV di kawasan Indonesia sangat tinggi. Antara delapan sampai 10 –bahkan mencapai level 12 di Papua.

“Saya setuju salah satunya berkat sinar UV itu,” ujar Prof Nidom, ahli virus dari Unair. Tapi Nidom juga menganjurkan untuk tetap waspada. “Jangan-jangan ini seperti gejala tsunami. Surut jauh dulu. Lalu terjadi tsunami,” katanya.

Nidom juga menyebut rendahnya tingkat PCR. Jadinya angka kasus baru terlihat rendah. Melihat ledakan Omicron di negara-negara dingin memang mengerikan. Kita pun tidak bisa percaya penuh soal UV. Pada dasarnya kita masih tetap menebak-nebak kenapa begitu rendahnya angka Omicron di Indonesia.

Rakyat sungguh berharap pada para peneliti. Khususnya yang relevan dengan negara tropis seperti kita. Sementara ini kita hanya bisa berpegang ”Omicron itu hanya Covid juga”. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Truk 110 Tahun

Mirza Mirwan

Beberapa saat yg lalu saya juga mengalami ‘kecelakaan’. Saat menuruni tangga saya terpeleset di lantai di depan anak tangga terbawah. “Innalillahi wa Inna ilaihi roji’uuun…” pekik saya spontan — sudah terbiasa sejak kecil bila kesandung, terpeleset, jatuh, atau melihat orang lain mengalami hal serupa. Saya terkapar dan kepala bagian belakang membentur bibir anak tangga terbawah. Memar. Dengan kepala terasa muter² dan mata berkunang-kunang saya menggeser tubuh agar bisa bersandar ke dinding di sisi tangga. Alhamdulillah, kurang dari lima menit kemudian semuanya kembali normal — kecuali memar di kepala. Tentang kasus Rogel Lazaro Aguilera-Mederos saya akan nulis komentar nanti. Sarapan lebih penting. Tabik.

Pryadi Satriana

Itu “sisi gelap” Anda. Ndhak usah cemas, tiap2 orang punya “sisi gelap”, ada ungkapannya: ‘the seamy side of life’. Dalam teologi disebut ‘sinful nature’, yg sering disalah-ungkapkan dg ‘dosa waris’, seolah-olah manusia dilahirkan langsung ‘punya’ dosa, padahal maksudnya adalah ‘potensi’ berbuat dosa, yg dimiliki seseorang saat dilahirkan, yg ‘tampak’ di pikiran, dan ‘keluar’ dalam ‘bentuk’ perkataan dan perbuatan. Jadi, dosa itu sudah ada/terjadi ketika masih di pikiran, yg diungkapkan, dalam karya sastra, dg ungkapan ” pandangan penuh nafsu”, nafsunya bisa macam2: nafsu seks, nafsu membunuh, dsb. Karena itu, kita dingatkan untuk mengendalikan pikiran: dengan berusaha senantiasa ingat Allah & Hari Akhir. Sehat selalu semuanya. Salam.

Juve Zhang

Belum lama di Nagreg,mobil menabrak 2 orang anak muda naik motor, janji dibawa ke rumah sakit malah dibuang ke sungai, ketemu sudah mati di sungai di Cilacap, hukuman mati? polisi sedang mencari pengemudi mobil tak tanggung jawab.

Jalan Tol berbayar, yg masuk layak mendapatkan disain tol yg bagus, ya itu tak ada tikungan tajam, tanjakan dan turunan tajam. Mengapa Cipularang dan Boyolali masih ada turunan tajam? Sangat mungkin salah disain, bukit terjal harusnya ditembus oleh terowongan sehingga jalan tol jadi datar tak membahayakan. Lihat kereta cepat Jakarta Bandung sampai ada 14 terowongan supaya jalan kereta api itu datar, apalagi kecepatan 350km/jam. Lihat trase kereta cepat Jakarta Bandung, tak ada tikungan dan jalan datar. Itu disain yang benar.

Topman

Jalur darurat buat rem blong sudah biasa buat sy dari jaman kecil, bukan jalan tol, tapi jalur turunan ekstrem jalan gombel semarang (muncul istilah wewe gombel) di tahun 80-an Mungkin tahun 60-an 70-an sudah ada

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button