INDOPOSCO.ID – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) mengambil peran lebih besar dalam penguasaan sains dan teknologi, termasuk mengembangkan teknologi hilirisasi.
Langkah tersebut, menurutnya, penting untuk mengembalikan kejayaan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Nasaruddin menegaskan, penguasaan ilmu pengetahuan menjadi salah satu kunci kemajuan umat Islam. Menurutnya, kejayaan peradaban Islam pada masa lalu tidak terlepas dari kemampuan para ilmuwan mengintegrasikan pemahaman agama dengan penelitian dan pengembangan teknologi.
“Kalau kita ingin meraih kembali kejayaan ilmu dalam sejarah Islam, kita harus menguasai ilmu pengetahuan. Penguasaan sains dan teknologi sangat penting,” tegas Nasaruddin saat membuka Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026, Rabu (4/11/2026).
Dia menjelaskan, tradisi keilmuan Islam harus kembali dibangun melalui budaya bertanya, meneliti, dan menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Sejarah mencatat, para ilmuwan muslim mengembangkan berbagai pengetahuan berdasarkan persoalan kehidupan, mulai dari penyediaan air hingga pelayanan kesehatan.
Nasaruddin menyoroti peluang PTKIN dalam pengembangan teknologi hilirisasi. Dia berharap kampus di bawah Kementerian Agama mampu berkontribusi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi umum.
“UIN dan perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama perlu berperan dalam pengembangan teknologi hilirisasi tersebut, tentu bersama perguruan tinggi umum juga,” ujarnya.
Ia mengingatkan kemajuan teknologi harus tetap dibarengi nilai moral dan tanggung jawab. Dia mencontohkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang perlu diarahkan agar memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan kerusakan akibat penyalahgunaan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno berharap OASE mampu melahirkan ilmuwan Muslim masa depan yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus menguasai sains dan teknologi.
Dia bahkan menginginkan munculnya sosok-sosok penerus ilmuwan besar Islam seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. “OASE mencita-citakan lahirnya Ibnu Sina-Ibnu Sina baru, Ibnu Rusyd-Ibnu Rusyd baru,” ungkap Suyitno.
Menurutnya, setiap PTKIN perlu mengembangkan keunggulan dan karakter masing-masing, baik melalui reputasi penelitian, integrasi ilmu agama dan sains, maupun kepedulian terhadap lingkungan.
Dia mencontohkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Raden Intan Lampung yang memiliki capaian tersendiri dalam pengembangan pendidikan dan lingkungan kampus.
Ia juga meminta pimpinan PTKIN lebih aktif mendokumentasikan prestasi mahasiswa melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Dengan begitu, berbagai capaian akademik dan inovasi mahasiswa dapat tercatat serta dikenal lebih luas, termasuk di tingkat internasional. (nas)


















