INDOPOSCO.ID – Pemilik usaha kini dapat memantau kondisi bisnis hingga menjalankan pekerjaan operasional melalui percakapan dengan kecerdasan buatan (AI). PT Karya Syntegra Indonesia memperkenalkan Syntegra AI Business Operating System, platform yang menghadirkan asisten AI bernama Nesia untuk membantu mengintegrasikan berbagai aktivitas bisnis.
Melalui Nesia, pengguna dapat menanyakan omzet harian, produk terlaris, kondisi stok, hingga pekerjaan yang belum diselesaikan tim hanya dengan perintah suara atau teks. Informasi bisnis dapat disajikan dalam bentuk laporan visual maupun respons suara, sehingga pemilik usaha tidak harus selalu membuka berbagai aplikasi untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Syntegra AI Business Operating System resmi diperkenalkan di Andaliman Resto & Cafe Jakarta Escape, Rumah Perubahan, Jl. Mabes 2 No. 5, Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (31/10/2026). Peluncuran tersebut dirangkai dengan sesi diskusi bersama Profesor Rhenald Kasali mengenai perkembangan AI dan penerapannya dalam dunia bisnis.
Chief Executive Officer (CEO) PT Karya Syntegra Indonesia, Harianto Tian, mengatakan digitalisasi telah mendorong pelaku usaha menggunakan berbagai aplikasi untuk mengelola operasional. Namun, banyaknya aplikasi juga dapat membuat pemilik usaha harus menghubungkan data dan proses kerja secara manual.
“Kita sudah mendigitalisasi begitu banyak aktivitas bisnis. Tetapi sering kali pemilik usahanya justru menjadi orang yang paling sibuk menghubungkan semua aplikasi tersebut. Kami ingin mengubah keadaan itu,” ungkap Harianto, dalam acara peluncuran Syntegra AI Business Operating System.
Syntegra dirancang untuk menghadirkan pengalaman penggunaan teknologi yang lebih sederhana melalui interaksi berbasis bahasa sehari-hari. Pengguna tidak harus mengingat menu aplikasi, berpindah-pindah platform, atau mengetik instruksi panjang untuk mengetahui situasi bisnis.
Salah satu kemampuan yang diperkenalkan adalah interaksi multimodal, yakni penggunaan teks, suara, dan foto untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional.
Pada modul Syntegra AI POS, misalnya, pengguna dapat memasukkan foto produk untuk membantu proses pengisian data katalog. Fitur ini ditujukan untuk mengurangi pekerjaan input manual, terutama bagi pelaku usaha yang mengelola banyak produk.
Pemilik usaha juga dapat meminta informasi seperti “Berapa penjualan hari ini?”, “Produk apa yang paling laku?”, atau “Stok mana yang perlu diperhatikan?” melalui suara. Sistem kemudian menyajikan informasi berdasarkan data yang tersedia, termasuk melalui respons suara Nesia.
Selain pengelolaan penjualan, Syntegra menghadirkan modul untuk mendukung pekerjaan administrasi dan pelayanan pelanggan.
Melalui Syntegra Desk, pengguna dapat memberikan instruksi untuk menyiapkan dokumen bisnis, mencatat tugas, mengatur tindak lanjut pekerjaan, hingga merangkum rapat.
Sementara itu, Syntegra Chatbot CRM mendukung komunikasi dengan pelanggan, pencatatan prospek, serta pengelolaan tindak lanjut penjualan. Ketersediaan fitur dan tingkat integrasi disesuaikan dengan modul, paket layanan, serta cakupan implementasi.
Syntegra mengusung pendekatan ASK. DO. DELIVER. sebagai kerangka kerja platformnya. ASK memungkinkan pengguna bertanya atau memberikan instruksi secara alami. DO mengacu pada kemampuan sistem membantu menjalankan pekerjaan yang diizinkan, sedangkan DELIVER memastikan hasil dan status pekerjaan dapat dilihat, diperiksa, serta ditindaklanjuti.
Dalam demonstrasi peluncuran, Syntegra memperlihatkan penggunaan Nesia untuk mengakses informasi penjualan dan prospek, menyiapkan tindak lanjut, serta menampilkan bukti pekerjaan di dalam sistem. Adapun tindakan yang membutuhkan persetujuan tetap berada dalam kendali pengguna.
Harianto menilai kemampuan AI untuk membantu menyelesaikan pekerjaan menjadi pembeda penting dalam perkembangan teknologi bisnis.
“Kalau AI hanya bisa menjawab, ia baru menjadi teman bicara. Tetapi ketika AI bisa membantu mengerjakan pekerjaan dan menunjukkan hasilnya, di situlah perubahan cara berbisnis benar-benar dimulai,” katanya.
Ia menambahkan, masa depan bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah aplikasi yang digunakan, tetapi oleh kemampuan perusahaan mengubah informasi menjadi keputusan dan keputusan menjadi tindakan.
“Masa depan bisnis bukan tentang siapa yang memiliki aplikasi paling banyak. Tetapi siapa yang paling cepat mengubah informasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi tindakan,” jelas Harianto.
Peluncuran Syntegra berlangsung di tengah meningkatnya pemanfaatan AI di Asia Tenggara. Laporan e-Conomy SEA 2026 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, yang diterbitkan pada 21 Oktober 2026, mencatat 243 juta pengguna AI generatif di kawasan tersebut.
Momentum ini membuka peluang bagi penerapan AI yang lebih konkret dalam aktivitas bisnis, mulai dari pengelolaan data hingga pelaksanaan pekerjaan operasional.
Syntegra ditujukan bagi kalangan profesional, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perusahaan yang ingin menyederhanakan operasional melalui teknologi AI.
Platform ini dikembangkan secara bertahap untuk menyatukan data, aplikasi, dan proses kerja dalam satu pengalaman percakapan melalui Nesia.
“Visi kami sederhana tetapi besar: Satu Pusat AI, Seluruh Bisnis Terintegrasi. Kami ingin pemilik usaha Indonesia memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, mengambil keputusan, membangun tim, dan mengembangkan bisnisnya, sementara pekerjaan administratif semakin banyak dibantu oleh teknologi,” ucap Harianto.
Melalui pengembangan Syntegra AI Business Operating System, perusahaan berharap AI tidak hanya menjadi sarana untuk mencari informasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses kerja sehari-hari yang membantu pelaku usaha mengelola bisnis secara lebih efisien.
Syntegra mengundang pelaku usaha dan media untuk mencoba langsung kemampuan platform tersebut serta melihat penerapan AI dalam menyelesaikan berbagai kebutuhan operasional bisnis. (srv)


















