INDOPOSCO.ID – Pesatnya perkembangan teknologi digital dan tingginya penetrasi smartphone kini mengubah total cara masyarakat berbelanja. Konsumen tak lagi sekadar datang ke toko, melainkan aktif mencari informasi, membandingkan produk, hingga membaca review sebelum mengambil keputusan pembelian.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang emas bagi industri pharma dermatology, tak terkecuali bagi PT Meccaya produsen legendaris yang populer dengan produk Salep Kulit 88.
Menariknya, langkah transformasi digital Meccaya bahkan diangkat menjadi studi kasus dalam buku Customer Behavior in The Digital Era (Edisi 3) karya Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. dan Tri Raharjo, SE., MM., CPR., CDMS. Pada Bab XV, dijelaskan bagaimana produsen obat kulit ini berhasil membaca perubahan perilaku konsumen dan beradaptasi agar tetap relevan di zaman now.
Tak berhenti pada kanal penjualan tradisional, Meccaya kini aktif memperkuat kapabilitas digital, mengasah SDM e-commerce, hingga menyajikan konten edukatif kesehatan kulit. Portofolio produknya pun kian beragam, mulai dari Salep Kulit 88, Krim 88 Anti Jamur, 88 Acne Cream, Meccaderm, Lukajel, Sarijel, Diclopain, hingga Nuderma.
Integrasi Online dan Offline: Saling Melengkapi
Presiden Direktur Meccaya, Ricky Surya Prakasa, mengungkapkan bahwa konsumen modern kini jauh lebih aktif, kritis, dan mandiri. Informasi tak lagi hanya bersumber dari tenaga kesehatan atau mesin pencari, tetapi juga dari media sosial, marketplace, hingga aplikasi berbasis AI.
Sebelum membeli, mereka akan sangat selektif mempertimbangkan kualitas, reputasi merek, hingga rekomendasi Key Opinion Leader (KOL).
“Customer journey kini menjadi luar biasa cepat. Konsumen dapat melakukan seluruh proses pencarian informasi hingga pembelian melalui smartphone. Namun, retail fisik tetap relevan karena memberi pengalaman nyata konsumen bisa melihat, mencoba produk, berkonsultasi langsung dengan apoteker, serta memperoleh rasa aman dari interaksi tatap muka,” terang Ricky.
Bagi Meccaya, strategi digital bukan sekadar memindahkan toko offline ke online, melainkan menghubungkan setiap touchpoint (titik kontak) konsumen. Edukasi dimulai dari media sosial, review dicari via marketplace, konsultasi dilakukan dengan dokter/apoteker, dan transaksi bisa terjadi di mana saja baik di apotek maupun e-commerce.
Kemudahan Transaksi dan Jaminan Keamanan
Selain memudahkan akses produk secara nasional lewat kanal digital resmi, Meccaya juga menekankan pentingnya prinsip KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) agar konsumen terhindar dari produk yang tidak terjamin saat membeli secara online.
Dukungan sistem pembayaran modern seperti QRIS, e-wallet, hingga mobile banking turut menekan angka pembatalan transaksi dan meningkatkan peluang repeat purchase (pembelian berulang).
“Semakin mudah pengalaman konsumen bertransaksi, semakin kecil kemungkinan mereka batal membeli dan semakin besar peluang terjadinya repeat purchase,” tambah Ricky.
5 Jurus Meccaya Hadapi Konsumen Digital
Untuk menghadirkan pengalaman konsumen yang mudah, cepat, dan terpercaya, Meccaya merumuskan lima fokus utama:
1. Consumer Insight: Memanfaatkan data pencarian, social listening, dan feedback pasar untuk memahami kebutuhan spesifik kulit masyarakat.
2. Education: Menyajikan konten edukasi berbasis solusi masalah kulit, bukan sekadar jualan produk.
3. Easy Purchase: Mengintegrasikan komunikasi digital langsung ke marketplace, apotek online, maupun toko fisik.
4. Personal Experience: Memberikan rekomendasi produk yang relevan dengan kebutuhan individu.
5. Continuous Improvement: Mengolah review dan data penjualan sebagai bahan evaluasi perbaikan produk dan layanan secara berkelanjutan.
Langkah transformatif ini membuktikan bahwa persaingan industri pharma dermatology tak lagi cuma soal luasnya jaringan distribusi, melainkan sejauh mana perusahaan mampu hadir dan menemani konsumen di setiap tahap perjalanan mereka dari pencarian informasi hingga menjadi konsumen loyal.(srv)

















